Budiman Sudjatmiko Dinilai Mengidap Stockholm Syndrome, Penyakit Psikologis yang Membuatnya Akur dengan Penculik

Budiman Sudjatmiko Dinilai Mengidap Stockholm Syndrome, Penyakit Psikologis yang Membuatnya Akur dengan Penculik

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Mantan aktivis Budiman Sudjatmiko dinilai mengidap salah satu gejala psikologis yakni stockholm syndrome gegara dukungannya kepada Bakal Calon Presiden Prabowo Subianto.

Padahal, jika melihat rekam jejaknya, Prabowo dan Budiman Sudjatmiko adalah dua orang yang bertolak belakang.

Budiman Sudjatmiko adalah aktivis tahun 1998, yang saat itu menjadi salah satu korban penculikan aparat orde baru. Sedangkan Prabowo, adalah Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus yang membentuk Tim Mawar untuk melakukan operasi penculikan aktivis.

Budiman Sudjatmiko Dinilai Mengidap Stockholm Syndrome, Penyakit Psikologis yang Membuatnya Akur dengan Penculik
Budiman Sudjatmiko dan Prabowo Subianto

Budiman saat itu menjadi salah satu korban penculikan aparat, dan dalam beberapa tahun terakhir kerap kali menyampaikan kritikan tajam untuk Prabowo Subianto.

Namun, kini Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis 1998 yang juga kader PDIP -lawan Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo Subianto, menyatakan memilih Prabowo sebagai calon presiden.

Gegara dukungan Budiman Sudjatmiko ke Prabowo itu, di media sosial ramai diulas tentang gejala stockholm yang salah satunya bisa dilihat dari akurnya korban dan pelaku kejahatan. Mereka mulai punya hubungan psikologis.

“Stockholm syndrome, penculik dan yang diculik mulai punya hubungan psikologis,” begitu kutipan postingan penggiat media sosial, Denny Siregar.

Meskipun tidak menyebut nama, namun warganet sudah langsung paham, siapa yang dimaksud. 

Gejala Stockholm Syndrome

Stockholm Syndrome biasanya dikenal sebagai sebuah mekanisme pertahanan, di mana korban penculikan atau kekerasan bisa berdamai dengan masalahnya dan bisa bertahan dengan kondisi tersebut.

“Stockholm Syndrome merupakan sebuah coping mechanism bagi korban penculikan ataupun tidak kekerasan dalam menghadapi kondisi yang terjadi agar bisa bertahan dari kekerasan yang berkelanjutan,” terang Rendra Yoanda, M.Psi, seorang psikolog seperti dikutip dari cikal.co.id.

Rendra menambahkan bahwa korban akan berusaha untuk bertahan, khususnya secara emosional, dengan cara memfokuskan diri pada kebaikan yang dimiliki pelaku dan memfokuskan juga pada keinginan untuk melindungi orang yang dicintainya. 

“Para korban akan berusaha untuk bertahan, khususnya secara emosional, dengan cara memfokuskan perhatian mereka pada sisi baik yang dimiliki oleh pelaku kekerasan. Namun, dengan adanya siklus kekerasan yang berkelanjutan dan juga isolasi dari dunia luar, lama-kelamaan korban akan memiliki keyakinan bahwa ia harus bertahan bersama dengan pelaku agar dirinya dan orang-orang yang ia cintai tetap selamat.” tambah Rendra. 

Sayangnya dalam hal ini korban kekerasan tidak memfokuskan perhatiannya pada dirinya sendiri sebagai korban, melainkan berada pada sisi atau perspektif pelaku kekerasan. Rendra dalam hal ini menyebutkan bahwa Stockholm Syndrome yang dialami oleh korban bukan lagi empati melainkan simpati berlebihan pada pelaku. 

“Pada akhirnya, korban hanya melihat dirinya berdasarkan perspektif pelaku, yakni sebagai objek kekerasan tanpa ada nilai lainnya. Selain itu, yang terjadi di sini adalah simpati berlebihan terhadap si pelaku, sudah bukan lagi empati.” ucapnya. 

Alasan Budiman Dukung Prabowo

Budiman Sudjatmiko Dinilai Mengidap Stockholm Syndrome, Penyakit Psikologis yang Membuatnya Akur dengan Penculik
Deklarasi Budiman Dukung Prabowo Subianto

Ada beberapa alasan Budiman mendukung Prabowo Subianto. Budiman mengaku Indonesia butuh kepemimpinan yang yang strategis.

“Pak Ganjar baik, bukannya buruk ya, tapi Indonesia butuh kepemimpinan yang strategic kali ini karena situasi global,” terang Budiman usai deklarasi relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jumat 18 Agustus 2023 lalu.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan bahwa ke depannya, akan banyak tantangan global yang harus dihadapi oleh Indonesia. Karena itu lah, Budiman menganggap Prabowo lebih pas untuk memimpin Indonesia.

“Kita butuh kepemimpinan strategic yang mencoba melihat keadaan global, tatanan global, dan tantangan juga keadaan ekonomi, perang, teknologi yang menurut saya kita membutuhkan kepemimpinan strategic yang menempatkan visi-visi jangka panjang strategis dan melihat soal-soal rakyat yang saya sebut tadi,” jelas dia. 

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.