BUMN Patungan Bikin Fintech untuk Melawan Gopay hingga Ovo

Terkini.id, Makassar – Kehadiran sejumlah startup yang menjalankan bisnis fintech atau financial technology seperti Gopay, Ovo, dan lain-lain menjadi tantangan berat bagi industri perbankan khususnya bank BUMN.

Saat ini, hampir seluruh layanan perbankan mulai dari penyimpanan uang hingga kredit juga bisa dilakukan lewat fintech yang lebih mudah dari segi prosedur.

Sejumlah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pun turut masuk ke bisnis ini guna menjaring pangsa pasar yang diambil berbagai perusahaan fintech.

Bank yang tergabung dalam bank himpunan bank milik negara (Himbara), yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), kini mulai masuk fintech atas desakan Menteri BUMN Rini Soemarno.

Fintech tersebut diberi nama LinkAja.

LinkAja merupakan dompet digital yang akan menggabungkan uang elektronik Bank Mandiri (e-cash), Bank BNI (Unikqu), Bank BRI (Tbank), dan Telkom Group (TCASH dan T-money).

Layanan ini secara resmi akan diluncurkan awal Maret 2019 dan akan jadi penantang OVO dan GoPay.

LinkAja bakal berada di bawah PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Finarya merupakan fintek yang dibentuk PT Telekomunikasi Tbk (TLKM) yang selama ini mengelola produk dompet digital T-Cash, milik Telkomsel.

Saham terbesar akan dipegang oleh Telkomsel sebesar 25%. Sementara, tiga bank, yakni Bank Mandiri, BNI dan BRI, akan memegang saham masing-masing 20%. Sementara, BTN dan PT Pertamina (Persero) memegang masing-masing 7% dan Jiwasraya akan memegang 1% saham.

“Jadi, promosi bareng-bareng, tidak duplikasi. Lebih efisien dari [sisi] infrastruktur,” kata Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Survei dan Konsultan Kementerian BUMN, Gatot Trihargo, seperti dilansir cnbc.

Selain LinkAja, PT Pegadaian juga rencananya akan meluncurkan layanan fintech peer-to-peer (P2P) lending pada pertengahan tahun ini.

Pegadaian Juga Hadirkan Fintech

Direktur Teknologi Informasi Digital Pegadaian Teguh Wahyono mengatakan dalam pembentukannya layanan fintech Pegadaian akan bekerja sama dengan 5 hingga 6 fintech yang sudah ada.

Saat ini, pihaknya masih menunggu perizinan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bisa beroperasi secara resmi di semester II-2019.

Setali tiga uang, PT Pos Indonesia juga akan mengembangkan platform sistem pembayaran berbasis fintech.

Direktur Keuangan dan Umum Eddi Santosa mengatakan, pihaknya sedang menyiapkan perusahaan fintech ini dengan membeli core banking server untuk layanan yang membuat kemampuannya akan setara dengan perbankan. Servis dan sistem juga solid.

“Kalau sudah pos financing, mau apa pun bisa ditaruh di atasnya. Mau taruh gadai, mau pinjaman, mau taruh apapun bisa. Jadi ujungnya uang,” jelasnya beberapa waktu lalu.

Berita Terkait
Komentar
Terkini