Cak Nun: Selama Presiden Orang Partai Kita Akan Terus Bertengkar

Cak Nun: Selama Presiden Orang Partai Kita Akan Terus Bertengkar

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Budayawan sekaligus Cendekiawan Muslim, Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun kembali berkomentar terkait presiden di Indonesia.

Cak Nun lewat video yang tayang di kanal Youtube Ayo Berbagi Ilmu, seperti dilihat pada Rabu 17 Februari 2021 menilai pertengkaran yang terjadi di Indonesia dipicu dari presiden yang berasal dari partai tertentu.

Padahal, kata Cak Nun, seorang pemimpin atau presiden harusnya berasal dari luar itu supaya cara berpikirnya bisa lebih luas.

“Selama presidenmu atau pemimpinmu orang partai, yang mikirnya hanya partai, kita akan bertengkar terus. Makanya saya tidak masuk (partai) apa-apa, hatiku tetap Indonesia,” ungkap Cak Nun.

Ia pun mencontohkan, misal presiden berasal dari PDIP maka dia akan terus memikirkan dan membela PDIP. Begitupula menurutnya jika presiden berasal dari Partai Gerindra.

Baca Juga

“Kalau presidenmu orang PDIP, mikirnya pasti PDIP, membelanya PDIP. Tapi kalau misalnya presidenmu (orang) Gerindra, mikirnya pasti Gerindra, dan yang dibela pasti Gerindra,” tutur Cak Nun.

Hal itulah, menurut Cak Nun, yang menyebabkan terjadi pertengkaran di Indonesia lantaran sesama partai saling menganggap musuh.

“Kalau mikirnya Gerindra atau PDIP, maka menurut Gerindra, PDIP itu musuhnya. Menurut PDIP, Gerindra juga musuhnya. Tapi kalau hatimu Indonesia, ada musuh atau tidak? Paling musuhmu dari luar (Indonesia) saja,” jelasnya.

Mengutip Hops.id, Cak Nun dalam videonya itu juga menilai tidak ada orang partai yang berpikir untuk Indonesia.

Sebab, kata Cak Nun, jika mereka berpikir tentang Indonesia maka pastinya orang-orang yang terlibat di partai akan saling sayang karena merasa bersaudara.

“Tidak ada orang partai yang berpikir Indonesia. Kalau berpikir Indonesia, semua disayang, semua saudara,” kata Cak Nun.

Sebelumnya, Cak Nun lewat video lainnya yang juga tayang di kanal Youtube Ayo Berbagi mengancam akan menurunkan presiden saat ini jika negara sudah dalam kondisi darurat.

Dalam video itu, awalnya Cak Nun mengaku bahwa dulunya ia yang membuat Soeharto turun dari jabatannya sebagai presiden kala itu.

“Saya ini sebenarnya tidak percaya dengan Indonesia, tapi Anda jangan marah. Saya yang bikin turun Pak Harto. Saya yang ngomongin Pak Harto secara pribadi, dan saya ingin melakukan itu lagi pada suatu hari,” ucap Cak Nun.

Ia pun mengaku akan melakukan hal serupa kepada presiden saat ini jika negara sudah dalam kondisi darurat.

“Kalau negara sudah darurat, saya akan turunkan (presiden) lagi,” tegas Cendekiawan Muslim ini.

Dalam tayangan video berjudul ‘Hancurnya Indonesia Dimulai Rezim Ini’ tersebut, Cak Nun juga mengaku kerap berseberangan dengan pemerintah.

Namun, lanjut Cak Nun, perbedaan itu bukan membuatnya benci melainkan menuntutnya untuk cinta dan peduli.

“Pikiran saya berbeda mengenai Indonesia, saya punya cara berpikir yang berbeda dengan semuanya. But, I love you. Berbeda tidak masalah, dan saya tidak akan masalah, tidak akan memaksakan kehendakmu,” ungkapnya.

Menurut Cak Nun, jika harus bicara jujur ia sejatinya tak setuju dengan konsep NKRI saat ini. Bahkan, dia juga mengaku tak setuju dengan sistem dan pemimpin negaranya.

“Saya hari ini tidak setuju dengan NKRI, presidennya saya juga tidak setuju, sistemnya juga tidak setuju, but I love you,” ujarnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.