Terkini.id, Makassar – CEO PT Vale Febriany Eddy menanggapi isu penolakan tambang yang digaungkan tiga gubernur di Sulawesi.
Febriany menanggapi hal itu di sela sela konferensi pers event penandatanganan kerja sama pengembangan smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sorowako bersama Zhejiang Huayou Cobalt Company (Huayou, di Jakarta, Selasa, 13 September 2022.
Seperti diketahui, sebelumnya tiga gubernur di Sulawesi, yakni Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, Gubernur Sultra Ali Mazi, dan Gubernur Sulteng Rusdy Mastura menyampaikan penolakannya terhadap Izin Usaha Perpanjangan (IUP) Vale saat rapat dengar pendapat (RDP) panitia kerja (panja) Vale dengan Sekjen dan Plh Dirjen Minerba Kementerian ESDM di DPR RI, Kamis 8 September 2022.
Febriany pun mengungkapkan, pihaknya tidak terlibat dalam debat panjang terkait masalah itu.
“Vale tidak ingin berdebat panjang, kami ingin berdialog dan mencari solusi serta memberi manfaat lebih banyak ke masyarakat,” ucap Febry.
- PT Vale Terus Perkuat Tata Kelola ESG, Skor Risiko Keberlanjutan Turun Hampir 20 Persen pada 2025
- PT Vale Tetap di Jalur Pengurangan GRK, Penurunan Emisi Karbon Berlanjut di 2025
- PT Vale Buka Suara Terkait CSR Pengadaan Ambulance di Lutim, Perseroan Ikut Terdampak
- Jejak Perjalanan ESG PT Vale 2026: Menavigasi Tantangan, Memberi Dampak Besar
- PT Vale Raih Fasilitas Pinjaman Sindikasi Berbasis ESG Setara Hampir Rp13 Triliun
“Kalau kita begini terus nggak bisa fokus kita kerja,” ungkap dia lagi.
Lebih jauh, terkait Izin Usaha Perpanjangan (IUP) yang ditolak gubernur, Vale menyampaikan pihaknya memang ingin mengajukan perpanjangan, tetapi untuk saat ini lebih fokus bekerja dan memenuhi komitmen untuk negara.
“Kita kerjakan dan penuhi semua komitmen dengan baik. Dengan begitu, pemerintah pasti mendukung,” ungkapnya.
Febriany juga mengungkapkan optimismenya bahwa pemerintah mendukung kegiatan Vale, terlihat dari ditetapkannya proyek smelter Pomalaa dan Bahodopi sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) oleh pemerintah pusat.
Selain itu, Program CSR Vale telah mendapat pengakuan dari Kemenko Maritim dan Investasi, serta Kementerian PDT. “Kalau ini jadi penyebab (kontribusi minim), kami mau berdiskusi, dengan senang hati akan kami perbaiki,” ulas Febriany.
Febriany mengungkapkan, pihaknya yakin pemerintah memperhatikan aspek tersebut, demi menjaga iklim investasi.
“Karena kepastian itu penting sekali untuk investasi-investasi besar ya,” ungkapnya.
Saat ini, Vale tetap melakukan konsultasi dengan Kementerian ESDM terkait proses perpanjangan izin beroperasi tersebut.
“Kita sedang mengupayakan, nanti kalau sudah lebih siap, pasti kita akan berdialog dengan pemerintah. Jadi kita meminta arahan dan pelajari dulu apa sih yang kita siapkan untuk perpanjangan,” ungkap dia.
Teken Kerja Sama HPAL dengan Huayou
Salah satu aksi korporasi yang dilakukan Vale adalah kembali menyepakati kerjasama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company (“Huayou”) untuk mengembangkan smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (“HPAL”) di Sorowako.
Kerja sama kedua pihak telah dimulai awal tahun ini dan Huayou melakukan studi kelayakan. Studi kelayakan telah disimpulkan dengan hasil positif.
Dengan itu kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan kerjasama, dengan menandatangani The Heads of Agreement yang akan menjadi acuan untuk kesepakatan lebih lanjut yang ditandatangani hari ini, Selasa, 13 September 2022.
Pabrik HPAL baru ini bakal mengolah bijih nikel limonit menjadi produk Mixed Hydroxide Precipitate (“MHP”) dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 60.000 ton produk nikel dalam MHP.
Setelah itu, MHP dapat diolah menjadi bahan untuk komponen baterai, misalnya untuk kendaraan listrik.
Salah satu poin penting dari kerjasama tersebut adalah komitmen para pihak untuk mencapai netralitas karbon pada 2050 dan kesepakatan untuk bekerja sama dalam meminimalkan emisi karbon. Huayou akan berdiskusi lebih lanjut dengan PT Vale untuk mempelajari alternatif energi rendah karbon.
Febriany Eddy mengungkapkan kerjasama proyek pengembangan ini adalah salah satu bentuk realisasi komitmen pertambangan berkelanjutan dan strategi PT Vale dalam menunjang program Pemerintah untuk membuat ekosistem mobil listrik di Indonesia.
Deshnee Naidoo, Presiden Komisaris PT Vale dan Wakil Presiden Eksekutif Vale Base Metals mengungkapkan, pihaknya senang bisa memperluas kerja sama dengan Huayou Cobalt dalam proyek yang begitu penting.
Perjanjian kemitraan ini merupakan katalis lain untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan dari sumber daya nikel kelas dunia Indonesia dan bersama dengan kemajuan terbaru pada fasilitas HPAL Pomalaa dan Proyek Blok Bahodopi, menunjukkan bahwa kami berkomitmen untuk melaksanakan proyek pertumbuhan berkelanjutan generasi berikutnya dengan dampak lingkungan yang minimal untuk kepentingan pemangku kepentingan lokal dan nasional.”
Ketua Chen Xuehua dari Huayou mengatakan pada acara tersebut: “Kerja sama kami adalah kombinasi sempurna dari keunggulan sumber daya mineral Vale dan keunggulan teknologi High Pressure Acid Leaching Huayou Cobalt, untuk mencapai pengembangan sumber daya mineral rendah karbon, hijau, dan berkelanjutan. Kerja sama kami juga dapat memenangkan peluang pertumbuhan bagi kedua belah pihak, menambah kekuatan dan nilai bagi industri, serta memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia.”
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
