Curhat Haera Ilham: ‘Saya Lebih Khawatir dengan Ibu saat Ayah Ditahan’

Haera Ilham bersama Ilham Arief Sirajuddin dan Aliyah Mustika Ilham. (facebook.com/aliyah mustika ilham)
Haera Ilham bersama Ilham Arief Sirajuddin dan Aliyah Mustika Ilham. (facebook.com/aliyah mustika ilham)

Terkini.id, Makassar – Mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dijadwalkan akan bebas dari penjara pada Senin 15 Juli 2019 mendatang.

Wali Kota Makassar dua periode itu pada 10 Juli 2015 silam, divonis penjara empat tahun terkait kasus korupsi anggaran swakelola PDAM Kota Makassar.

Jelang bebasnya Ilham Arief Sirajuddin, warga Makassar ramai membagikan postingan sang putri, Siti Hamsinah Khaeratunnisa yang akrab disapa Haerah.

Haerah mengungkapkan curhatnya tentang sang ayah, dan banyak menyentuh hati.

Dalam tulisan yang viral tersebut, Haerah banyak bercerita tentang masa-masa ketika sang ayah dijebloskan ke penjara hingga saat ini.

Hal yang paling banyak diceritakan Haerah adalah ketegaran sang ibu, Aliyah Mustika Ilham. Menurut Haerah, ibunya itu terlihat sangat sedih saat Ilham dipenjara tapi justru sangat tegar selama ini.

Bahkan dia salah salah besar karena menyangka ibunya tidak setegar yang dia bayangkan.

“Entah mengapa, kekhawatiran terbesar ku ketika Ayah harus ditahan saat itu bukanlah tentang diriku, tetapi tentang Ibu,” tulisnya.

Hal itu karena membayangkan beratnya tanggung jawab yang harus Ibunya jalankan, memegang berbagai peran dalam rumah tangga dan pekerjaan.

“Saya salah besar,” katanya.

Berikut selengkapnya tulisan Haerah Ilham:

Hari ini, tepat 4 tahun lalu merupakan salah satu hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh keluarga kami.

Hari di mana kami harus terpaksa dipisahkan dengan Ayah, di mana pada saat itu kami sama sekali tidak mengetahui berapa lama perpisahan ini akan berlangsung.

Yang kami tau hanyalah Ayah resmi ditahan oleh KPK & tidak bisa kami temui selama 7 hari.

Hari ini, tepat 4 tahun lalu merupakan salah satu hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh keluarga kami. Hari di mana kami harus terpaksa dipisahkan dengan Ayah, di mana pada saat itu kami sama sekali tidak mengetahui berapa lama perpisahan ini akan berlangsung.

Yang kami tau hanyalah Ayah resmi ditahan oleh KPK dan tidak bisa kami temui selama 7 hari.

Mengingat dan membayangkan berbagai berkah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada kami sekeluarga selama 4 tahun belakangan ini, membuat saya sedikit lupa bagaimana perasaan saya di hari itu.

Seakan lupa dengan perasaan sedih & hancur nya hati saya kala itu karena tidak bisa berhenti bersyukur atas kebaikan Allah pada kami sampai hari ini.

Tetapi ada 1 hal yang saya ingat & tidak akan saya lupakan. Kesedihan yang tak terbendung dalam sosok Aliyah Mustika. Ya, orang yang kami panggil Ibu.

Pada tanggal 10 Juli 2015, rasanya mustahil & tidak mungkin apabila saya sebagai seorang remaja perempuan yang sedang beranjak dewasa, tidak merasakan kesedihan yang mendalam akibat harus dipisahkan dengan sosok Ayah.

Tetapi, perasaan sedih itu kemudian semakin memuncak karena harus melihat betapa rapuhnya Ibu di hari itu. Seakan tidak bisa menerima kenyataan & ingin ikut menemani Ayah di sampingnya.

Tak henti-hentinya beliau menceritakan tentang Ayah sambil menatap kosong dengan berlinang air mata.

Salah satu yang saya ingat adalah saat Ibu bercerita tentang pagi hari itu sebelum Ayah meninggalkan rumah, Ibu sempat menawarkan untuk membawakan bekal kurma untuk buka puasa nanti. Tetapi Ayah menjawab sambil meyakinkan Ibu : “Tidak perlu. Saya pasti buka puasa di rumah.” Air mata Ibu semakin deras mengalir ketika mengakhiri cerita nya itu.

Sebagai seorang anak perempuan, rasanya sangat tidak tega melihat sosok Ibu menangis bagaikan anak kecil.

Entah mengapa, kekhawatiran terbesar ku ketika Ayah harus ditahan saat itu bukanlah tentang diriku, tetapi tentang Ibu.

Membayangkan bagaimana beratnya tanggung jawab yang harus Ibu jalankan, memegang berbagai peran dalam rumah tangga & pekerjaan, rasanya diri ini sangat tidak tega.

Bahkan melihat bagaimana terpuruk & lemahnya Ibu pada hari itu, saya sempat khawatir Ibu tidak akan mampu menerima kenyataan ini & tidak bisa menjalankan semua tanggung jawabnya.

Saya salah besar..

Ternyata beliau lebih kuat dari yang saya bayangkan. Bahkan lebih kuat dari baja.

Hari ini menjelang hari kebebasan Ayah, kita semua harus mengakui betapa tegar & kuatnya Ilham Arief Sirajuddin menjalani 4 tahun masa tahanan nya.

Bagaikan pemeran utama yang sangat kuat dalam sebuah film superhero. Tetapi ijinkan saya sebagai seorang anak yang ada di dalam sebuah kisah 4 tahun perjalanan berat keluarga kami, mendeklrasikan bahwa pemeran utama yang sessungguhnya adalah sosok Aliyah Mustika Ilham.

Di balik ketegaran Ayah, ada sosok Ibu di belakangnya dengan pengorbanan yang luar biasa. Empat tahun harus menghadapi kenyataan Ayah ditahan, ternyata sama sekali tidak melunturkan semangat & ketegaran Ibu untuk menjalankan tanggung jawab sebagai seorang Istri, Ibu, dan Wakil Rakyat dengan maksimal.

Ibu selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam menjalankan 3 peran tersebut. Betul-betul mendedikasikan 100% kemampuan yang dimilikinya.

Hingga hari ini, Ibu mampu mendampingi & menjadi sumber kekuatan bagi Ayah dengan sangat tegar, mampu bertahan mendampingi anak-anaknya hingga bisa berhasil & berprestasi, dan mampu menjadi wakil rakyat yang dicintai oleh masyarakat sehingga kembali diberikan kepercayaan untuk mewakili aspirasi rakyat di parlemen.

Juga tidak melupakan peran nya sebagai seorang anak, menyayangi & merawat sang Ibu semaksimal mungkin hingga nafas terakhirnya.

Dengan bangga ingin saya sampaikan dalam tulisan ku ini, bahwa Ibu adalah wanita terkuat dalam hidup ku.

Dalam 5 tahun perjalanan Ayah menghadapi kasus hukum nya, saya selalu mempersembahkan tulisan untuknya.

Tetapi berbeda dengan hari ini. Tulisan ini saya persembahkan untuk Ibu kAMI tercinta, tersayang, dan tiada duanya, ibu Aliyah Mustika Ilham.

Terima kasih telah menjadi sumber kekuatan bagi Suami & Anak-Anak mu dalam menghadapi rintangan hidup yang sangat berat selama 4 tahun ini.

Terima kasih atas dedikasi yang luar biasa sebagai seorang Istri & Ibu. Terima kasih sudah menjadi wonder woman dalam keluarga kami. Apa yang orang lihat hari ini pada keluarga kami, berbagai prestasi maupun kekuatan mental yang kami miliki, tak terlepas dari peran Ibu selama ini.

Tulisan yang panjang ini tidak akan pernah cukup untuk mengutarakan rasa bangga & terima kasih kami pada Ibu. Terlebih lagi untuk membalas perjuangan & pengorbanan Ibu. Tetapi saya yakin tulisan ini cukup untuk mengingatkan Ibu betapa hebat, kuat, dan tegar nya Ibu.

Terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan; juga mewakili Ayah, Amirul, Vqar, dan Lisa. Cinta kami kepada Ibu tak akan luntur sampai akhir khayat.

Makassar, 10 Juli 2019.

-Haera Ilham-

Berita Terkait
Komentar
Terkini