Donasi Rp2 T Akidi Tio Disebut Hanya Prank, Netizen: Kadrun Seneng Banget Nih

Terkini.id, Jakarta – Netizen heboh mengomentari soal donasi Rp2 triliun dari keluarga Akidi Tio yang disebut hanya “prank” atau tidak benar-benar ada.

Salah satu kumpulan tanggapan netizen diperoleh Terkini.id di kolom komentar unggahan pegiat media sosial, Eko Kuntadhi.

Adapun Eko Kuntadhi mengaku bahwa ia telah meragukan soal sumbangan Rp2 triliun itu sebelum anak Akidi Tio diamankan oleh polisi.

Baca Juga: Sindir Gatot Nurmantyo, Eko Kuntadhi: Modalnya Cuma PKI-PKI Melulu, Gak...

“Nah, kan. Keraguan gue sejak kemarin terjawab sudah. Cuma prank doang,” katanya melalui akun Twitter Eko_kuntadhi pada Senin, 2 Agustus 2021.

Beberapa netizen yang merasa tertipu dengan berita kabar donasi Rp2 triliun yang disampaikan keluarga Akidi Tio itu pun berkomentar.

Baca Juga: Novel Baswedan Cs Disebut Bentuk KPK Tandingan, Eko K: Cara...

“Gimana ngak percaya, kKapolda Sumsel hadir disitu. Malah rumah anak Akidi Tio dijaga polisi. Annjiiiiiir…. Kena prank kita. Kadrun seneng banget nih… pasti ngebully abis,” kata Tukangaduayam.

Komentar netizen itu pun ramai ditanggapi oleh netizen-netizen lainnya, termasuk yang menyindir.

“Kadrun tertawa.. Bukan karena senang banget.. Tapi Kadrun tertawa ternyata cebong itu terbukti memang tidak punya otakkkkk,” kata Vitosouharur.

Baca Juga: Novel Baswedan Cs Disebut Bentuk KPK Tandingan, Eko K: Cara...

“Lagian siapa suruh awalnya para BuzzerRp cari ribut, sama-sama donasi ko diributin, endingnya 2T cuma ngePrank,” kata Wkwkland190.

“Pasti dong Senang. Ketawa aja liat dagelan kalian, skenario yg gampang kebaca. Buat ngalihin apa lagi nih. BASI,” kata Deearie_iyang.

Sebelumnya diberitakan bahwa anak Akidi Tio, Heriyanti dijemput penyidik Polda Sumsel untuk diperiksa terkait pemberian sumbangan Rp2 triliun yang bermasalah.

Dilansir dari CNN Indonesia, Dokter pribadi keluarga, Hardi Darmawan pun turut dijemput untuk diperiksa.

Kepolisian Daerah Sumatera Selatan mengatakan bahwa Heriyanti akan dijerat menggunakan pasal penghinaan negara dan penyiaran berita tidak pasti.

Bagikan