Etika dan Bisik-bisik di Tengah Kebisuan Jurnalisme

Etika dan Bisik-bisik di Tengah Kebisuan Jurnalisme

K
Kamsah

Penulis

Etika, di sini, bukan soal hitam-putih, tapi tentang bagaimana diam bisa menjadi keputusan politik. Di dalam kebungkaman, ada keberpihakan yang tak terucap.

Hannah Arendt, filsuf politik Jerman yang melarikan diri dari rezim Nazi, pernah berkata bahwa kejahatan terbesar bukan selalu dilakukan oleh orang jahat, tapi oleh mereka yang memilih untuk tidak berpikir—yang menjalankan perintah tanpa bertanya.

Dalam dunia pers, mungkin bentuknya bukan perintah militer, tapi “angle yang aman”, “klik yang tinggi”, dan “sponsor yang harus dijaga”.

Apa yang ditulis dan apa yang dibiarkan tak tertulis, sama-sama membentuk kenyataan. Itulah sebabnya etika bukan hanya urusan kode, tapi juga soal keberanian. Bukan sekadar soal benar atau salah, tapi siapa yang kita pilih untuk dengar, dan siapa yang terus kita abaikan.

Arendt pernah mengingatkan bahwa informasi tanpa pemahaman hanya akan melahirkan kebingungan yang lebih halus. Ia menekankan pentingnya berpikir, bukan hanya tahu.

Baca Juga

Dalam jurnalisme, itu berarti bahwa berita bukan sekadar tumpukan kutipan dan angka, tapi upaya menyusun makna. Siapa yang bicara, mengapa ia bicara, dan lebih penting adalah siapa yang tak pernah diberi ruang untuk bicara.

Di banyak redaksi hari ini, keputusan editorial sering dibungkus dalam kata-kata manis, misalnya, “kurang aktual,” “tidak menarik pembaca,” atau “sulit diverifikasi.” Tapi di lapangan, kita tahu alasan sesungguhnya kadang sederhana. Terlalu riskan, menyentuh sponsor, atau menyulitkan hubungan dengan pemerintah.

Di titik inilah, jurnalisme diuji bukan oleh sensor negara, tapi oleh sensor diri. Dan di titik inilah, etika bukan lagi bayangan yang mengikuti, tapi justru menjadi cahaya—meskipun redup—yang menunjukkan arah bagi mereka yang memilih tetap menulis meski tahu akibatnya.

Mereka yang memilih tetap bertanya, ketika yang lain sibuk mengabarkan pidato. Mereka yang tetap menyebut nama-nama kecil di pinggiran, ketika media lain hanya menyebut nama jabatan dan nilai proyek.

Etika, kata filsuf Emmanuel Levinas, lahir dari perjumpaan dengan wajah orang lain—wajah yang tak bisa kau abaikan, yang memanggil tanggung jawabmu bahkan sebelum kau menjawabnya. Mungkin itu makna terdalam jurnalisme: pertemuan dengan orang lain yang menuntut kita untuk tidak lepas tangan.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.