Jurnalisme Bencana: Mewartakan Kematian atau Menyelamatkan Kehidupan

Jurnalisme Bencana: Mewartakan Kematian atau Menyelamatkan Kehidupan

K
EP
Kamsah
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkini.id,Makassar – Penilis buku Jurnalisme Bencana, Ahmad Arif mengatakan, saat ini, cara pandang jurnalis melihat bencana masih identik dengan kesedihan. Hal itu, kata dia, menjadi kritik dari media luar negeri.

“Mereka menganggap media di indonesia sering kali mengeksploitasi korban,” kata dia saat membawakan materi perihal jurnalisme bencana, di Sekertariat Aliansi Jurnalisme Independen (AJI) Kota Makassar, Jalan Toddopuli, Selasa, 9 Juli 2019.

Ia menyampaikan bahwa sudah saatnya para jurnalis menjadi jembatan dalam mengawal dan memahami jurnalisme bencana.

“Liputan bencana seharusnya mengutamakan orang hidup untuk membangkitkan semangat mereka, bukan fokus pada kematian, meski itu tetap penting,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, ia menyebut ada tahapan bencana. Pada posisi ini, kata dia, media diharapkan berperan, bukan hanya ketika telah terjadi bencana.

Baca Juga

“Bencana jangan hanya dilihat sebagai peristiwa,” ungkapnya.

Arif mengklasifikasi tahapan bencana, mulai dari prabencana, saat bencana, dan pasca bencana. Prabencana, kata dia,mengingatkan masyarakat terhadap ancaman untuk mendorong kesiapsiagaan.

“Pada tahapan saat terjadi bencana, fokus pada korban selamat, kelompok terentan, dan membabgngkitkan semangat korban,” ungkap dia.

Lebih lanjut, Arif menerangkan posisi para jurnalis pascabencana. Ia menekankan mengawal proses rekonstruksi dan rehabilitasi agar tidak menjadi bencana baru.

“Belajar dari setiap bencana adalah kunci dari masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai wartawan, Arif mengatakan bahwa  harus mengerti bahwa bencana bisa dikurangi dampaknya, bukan hanya diterima sebagai takdir, termasuk bencana banjir.

“Semakin tinggi kemampuan kita mengerti resiko, semakin rendah dampak yang kita akibatkan,” cetusnya.

Ia pun menyoroti literasi di Indonesia mengenai alam itu buruk sekali. Pasalnya, kata dia, tak pernah diajarkan soal itu. Ia memaparka bahwa bencana merupaka siklus yang berkelanjutan.

“Makanya orang dulu membangun rumah di bukit. Mereka memahami tempat tinggalnya. Masa sekarang, orang indonesia tidak mengetahui sejarah tentang tempat tinggalnya,” paparnya.

Persoalan literasi menjadi sangat penting sebagai instrumen untuk membedakan hoaks. Untuk literasi di Indonesia berdasarkan data Unesco pada tahun 2016, orang yang membaca satu berbanding seribu.

“Sehingga peristiwa bencana ke bencana lain tidak menjadi pelajaran lantaran minimnya literasi,” paparnya.

Ia menutup diskusi dengan mengatakan kita mesti belajar dari Jepang yang terus belajar dari peristiwa bencana.

“Beda dengan indonesia yang cenderung menerima sebagai takdir,” pungkasnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.