Terkini.id, Jakarta – Fahri Hamzah kritik sistem politik, dirinya mengatakan bahwa ‘Petugas Partai’ adalah kosa kata negara komunis. Perbincangan tersebut berlangsung antara Fahri Hamzah dengan komika bernama Mamat Alkatiri sambil menikmati kopi.
Menurut Fahri Hamzah, dalam sistem politik demokrasi tidak ada istilah mewakili partai, karena pejabat publik dipilih oleh rakyat dan difasilitasi oleh rakyat.
Mulanya, Fahri menyampaikan bahwa partainya sedang menggagas dan memperjuangkan pejabat dan wakil rakyat yang benar-benar berjuang mewakili rakyat bukan mewakili partai.
Fahri merasa bahwa saat ini dunia politik Indonesia menggambarkan wakil-wakil rakyat yang justru sekedar mewakili partai.
“Kalau anda mau jadi politisi, anda tidak saja harus pertama bersih, tapi harus nampak bersih, yang kedua anda tidak saja harus berani, tapi harus nampak berani,” ujar Fahri dalam video yang diunggah channel youtube HAS Creative, pada Kamis, 10 Februari 2022.
- Budiman Sudjatmiko Dipecat PDIP, Fahri Hamzah: Welcome To The Club!
- Sindir DPR, Fahri Hamzah: Masa Saya Terus yang Kritik Jokowi?
- Beredar Video Fahri Hamzah Sebut Anies Baswedan Nggak Berani Ngomong Ekstrim
- Fahri Duga Anies Gagal Maju Capres, Helmi Felis: Please, Jangan jadi Dukun!
- Soal 'Bandar Belum Deal' Fahri Hamzah Dapat Serangan Balik
“Artinya, kehadiran anda (politisi) itu, kan adalah representasi, mewakili rakyat. Kalau anda gak merasa atau gak seperti mewakili rakyat, ini yang sedang kita gugat sekarang, kok orang-orang pergi ke senayan itu seperti semakin mewakili partai, tidak mewakili rakyat lagi,” ujar Fahri melanjutkan.
“Kenapa? begitu ketua umumnya bilang begitu, semua ikut ketua umum, padahal kan namanya wakil rakyat,” ujar Fahri melanjutkan.
Selanjutnya, komika bernama Mamat Mamat Alkatari menanyakan penyebab yang melatarbelakangi persoalan tersebut.
“Apa yang membuat (penyebabnya), apakah sistem kepartaian yang berpusat kepada ketua umum menjadi pemegang kekuasaan segala-galanya, atau apa yang bang Fahri lihat? sehingga anggota DPR ini tidak berani bersuara di dalam, takut kepada partai,” ujar Mamat menanyakan.
Kemudian, Fahri menjawab bahwa penyebabnya ialah adanya masalah pada sistem politik.
“Jadi ada problem pada sistimnya, dimana partai politik itu menganggap anggota dewan itu sebagai hak miliknya, gitu ya. waw, monoloyalitas, petugas partai semua itu kosa kata dalam negara komunis sebenarnya,” ujar Fahri Hamzah menjawab.
Kemudian, Mamat menimpal dengan menyatakan bahwa presiden adalah petugas partai. Pernyataan Mamat dilatarbelakangi oleh ungkapan Megawati bebera waktu lalu yang menyatakan bahwa Joko Widodo adalah petugas partainya.
“Pak Presiden aja petugas partai!,” ujar Mamat menimpali.
Kemudian Fahri Hamzah menjelaskan bahwa nama partai itu dalam negara demokrasi harus dihilangkan, terutama ketika kader partai sudah mendapatkan amanat sebagai pejabat publik.
“Ya itu gak boleh sebenarnya! tanpa rakyat dia bukan siapa-siapa, yang memberikan mandat dan kekuasaan kepada dia (adalah) rakyat, yang memberikan gaji dan Fasilitas adalah rakyat,” ujar Fahri menjelaskan.
“Jadi bau partai itu di ruang publik harus dihilangkan, makin lama makin hilang, kalau di dalam negara komunis iya, bau partai itu kental sekali, gitu lho!,” ujar Fahri menjelaskan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
