Masuk

Ganjar Minta Kesempatan Dialog Soal Kisruh Wadas, Aktivis: Kesempatan Apa? Kesempatan untuk Merusak Bumi …

Komentar
DPRD Kota Makassar

Terkini.id, Jakarta – Perdebatan antara Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dengan perwakilan aktivis penolak pembebasan lahan di Desa Wadas berlangsung cukup panas.

Ganjar Pranowo sangat mengharapkan ada kesempatan bagi dirinya bersama pihak tenaga ahli, melaksanakan dialog terbuka dengan warga dan aktivis yang menolak pembebasan lahan di Desa Wadas untuk penambangan andesit.

Diketahui bahwa penambangan batu andesit ini dilaksanakan sebagai upaya memenuhi kebutuhan material untuk pembangunan bendungan bener, yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan para petani di sekitar wilayah Purworejo.

Baca Juga: Heboh, Pernyataan Jokowi Seputar Pemimpin Rambut Putih, Denny Siregar: Bukan Ganjar, Bapak Rambutnya Hitam

Namun, harapan Ganjar tidak direspon baik oleh perwakilan aktivis tersebut, menurutnya tidak ada kesempatan dialog bersama Ganjar karena mereka bersikeras menolak proyek tersebut.

Seniman sekaligus aktivis penolak pembebasan lahan, Yayak Yatmaka, menegaskan bahwa pihaknya dengan tegas menolak pembebasan lahan tersebut dengan alasan kerusakan lingkungan.

Mewakili pihak warga yang menolak, Yayak menyampaikan bahwa warga ingin keadaan di Desa Wadas tetap seperti semula bahkan berharap untuk bisa menjadi lebih idnah lagi.

Baca Juga: Hari Guru Nasional, Ganjar Pranowo Luncurkan 3 Aplikasi Layanan Pendidikan

Mereka berpendapat bahwa proyek batu andesit akan memberikan dampak berupa kerusakan lingkungan, hal tersebut adalah alasan yang melatarbelakangi sebagian warga di Desa Wadas menolak proyek penambangan batu andesit.

Perdebatan antara Ganjar Pranowo dengan Yayak Yatmaka terjadi pada Jum’at, 11 Februari 2022, dalam acara Rosi, dilansir dari Kompas TV.

“Dari awal ketika pertama menanggapi undangan dari mas Ganjar untuk pertemuan di Semarang, mereka itu memutuskan sepenuh waktu atau selama bumi ini ada, dan selama hidup mereka itu tidak mengehendaki tanah dan wilayah Wadas itu ditambang, jadi mereka tetap ingin Wadas itu utuh!, seperti sekarang,” ujar yayak menjelaskan.

“Bahkan kalaupun ada itu adalah menjadi lebih indah lagi, lebih teratur, lebih bersih, tidak dikotori oleh para tamu-tamu yang tidak diundang! seperti kemarin itu, sampah di mana-mana!,” ujar yayak Yatmaka menegaskan.

Baca Juga: Pengamat Ingatkan Golkar: Hati-Hati Usung Ganjar Pranowo

Selanjutnya, merespon pernyataan Yayak, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menjelaskan proses yang dilakukan sebelum menentukan proyek penambangan di Dewa Wadas tersebut. Menurutnya, pemerintah sudah melibatkan tenaga ahli terkait proyek tersebut.

“Iya, jadi sebenarnya sejak 2013 ya waduk ini disiapkan, itu banyak para ahli yang sudah menyiapkan, di mana tapak bendungannya dan bagaimana suply batuan-batuan atau material yang disiapkan, dan tentu saja sekali lagi, usulan yang masuk kepada kami itu wadas,” ujar Ganjar Pranomo menjelaskan.

“Sebenarnya kami senang umpama ya, beberapa  kekhawatiran, kami mencatat sudah cukup lama ya, ada isu terkait dengan lingkungan, itu ada dua. Satu, kalo kemudian di ambil dan tata cara pengambilannya. kedua, bagaimana isu lingkungannya dan kemudian masyarakat pasti ada kekhawatiran akan itu tidak mungkin tidak,” ujar Ganjar Pranowo melanjutkan.

“Maka kalau berkenan sebenarnya staf ahli tuh bisa kita hadirkan, untuk kemudian menjelaskan, dan sosialisasi itu sudah berjalan lama pak,” ujar Ganjar Pranowo melanjutkan.

“Kami sebenarnya berkeinginan sekali untuk bisa bertemu, terus kemudian tim-tim ini menjelaskan dengan baik, sehingga kemudian terjadi dialog yang terbuka, yang bisa tidak saling menekan itu tadi, dan masyarakat bisa mengajukan pikiran-pikirannya,” ujar Ganjar melanjutkan.

Kemudian, Rosi, selaku pembawa acara menanyakan kepada Yayak kenapa tidak mengambil kesempatan dialog tersebut. Yayak menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengambil kesempatan dialog, dan akan terus bersikeras menolak proyek penambangan di Desa Wadas.

“Kesempatan apa mba? kesempatan untuk merusak bumi yang menghidupi mereka sepanjang waktu ini?, dan itu sudah berapa puluh turunan ada di sana. Jadi, gimana mau melihat bumi yang menghidupi mereka kemudian itu berubah selama setahun ke depan, karena kemudian dipaksakan supaya memenuhi target (bendungan), gak ada mba! gak bisa!,” ujar Yayak Menegaskan penolakan.