Terkini, Jeneponto – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai hadiah terbaik bagi generasi penerus bangsa. Sebuah terobosan besar dari Presiden Prabowo Subianto yang dicanangkan sebagai investasi strategis, untuk membangun SDM unggul, menekan angka stunting, sekaligus menggerakkan roda perekonomian dari tingkat desa.
Cita-cita mulia sang Pemimpin Bangsa menyediakan asupan bergizi bagi 82 juta jiwa hingga akhir tahun 2026, agar anak-anak tumbuh cerdas, kuat, dan terhindar dari kebiasaan jajan makanan yang tidak sehat.
Namun, di Kabupaten Jeneponto, harapan mulia itu seolah terbalik menjadi sebuah kenyataan yang memilukan. Alih-alih mendapatkan energi untuk belajar dan tumbuh, puluhan siswa justru harus terbaring lemah di ruang perawatan, bahkan masuk Instalasi Gawat Darurat, setelah menyantap hidangan yang seharusnya menyelamatkan mereka.
Apa yang terjadi? ikan yang disajikan ternyata sudah tidak layak konsumsi. Akibatnya, 28 siswa SDN 7 dan SMP di Kecamatan Rumbia merasakan dampak buruknya; gatal-gatal di sekujur tubuh, bengkak, mual hebat, diare berbusa, hingga demam tinggi dan kekakuan otot menjadi bukti nyata bahwa ada yang keliru dalam pelaksanaan program ini di lapangan.
Masyarakat pun bersuara lantang. Bagi mereka, ini bukan sekadar kesalahan teknis atau kelalaian kecil. Ini adalah alarm keras yang berbunyi nyaring. “Apakah angka penyerapan anggaran lebih penting daripada keselamatan nyawa anak-anak?” itulah pertanyaan besar yang kini bergema di tengah masyarakat.
- Rakor Bersama Forkopimda, Wali Kota Makassar Appi Matangkan Pengamanan May Day Fest 2026
- Rinnai Luncurkan Kompor Pintar di Makassar, Jawab Kebutuhan Dapur Masa Kini
- Andi Ina Penuhi Panggilan Kejati Sulsel, Beri Klarifikasi Terkait Pengadaan Bibit Nanas
- Kondisi Belum Membaik, Dua Siswa Korban MBG di Jeneponto Kembali Dirujuk ke Rumah Sakit
- Transaksi BukuAgen Bikin Ozmet Kios Warga Tamangapa Makassar Meningkat Drastis
Ironisnya, meski kasus ini menjadi sorotan luas dan memicu kepanikan orang tua, roda operasional seolah tak mau berhenti. Dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap beroperasi tanpa jeda, distribusi makanan terus berjalan seperti biasa. Alasannya sederhana: anggaran sudah cair, kewajiban harus diselesaikan, dan tenaga kerja berhak mendapatkan upah. Seolah-olah, laporan yang rapi dan kuantitas porsi yang terpenuhi menjadi tujuan utama, melebihi segalanya.
“Kualitas harusnya jadi prioritas utama. Pemerintah berniat mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan malah menghantarkan anak-anak ke ruang rawat intensif,” Tutur warga yang mengamati kejadian ini dengan rasa kecewa yang mendalam. Jumat, 24 April 2026.
Sesuai visi yang dicetuskan Presiden Prabowo, MBG sejatinya dirancang untuk memberdayakan petani, peternak, dan pelaku usaha lokal agar ekonomi daerah berputar. Namun di lapangan, ketika standar keamanan pangan diabaikan dan pengawasan berjalan longgar, tujuan luhur itu justru berubah menjadi bencana kesehatan.
Yang dipertaruhkan di sini bukan sekadar nama baik sebuah program, melainkan masa depan generasi emas yang seharusnya dilindungi.
“Semua pihak boleh mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tapi tolonglah, jangan pernah menukarnya dengan keselamatan hidup anak-anak penerus bangsa,” tegas warga yang enggang disebut namanya.
Kasus ini menjadi cerminan bahwa keberhasilan MBG tidak cukup hanya diukur dari seberapa luas jangkauannya atau seberapa besar dana yang terserap. Keberhasilan sesungguhnya terlihat ketika setiap suapan makanan yang masuk ke mulut anak-anak, benar-benar menjadi sumber kekuatan, bukan sumber penyakit.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
