Ini Alasan Smelter Nikel Jenis RKEF Perlu Disetop dan HPAL yang Didorong

Ini Alasan Smelter Nikel Jenis RKEF Perlu Disetop dan HPAL yang Didorong

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Mengutip data Badan Geologi Kementerian ESDM, pada 2022, cadangan bijih limonite per 2022 mencapai 2,64 miliar ton.

Sementara itu, kebutuhan bijih saprolite per tahun mencapai 111,2 juta ton untuk untuk smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) atau hidrometalurgi yang telah beroperasi, konstruksi, dan perencanaan.

Bijih limonite tersebut bakal digunakan untuk 4 produk yang diolah smelter HPA untuk proses ke arah katoda baterai.

Keempat produk itu antara lain mixed sulphide precipitate (MSP) dengan kebutuhan per tahun sebanyak 2,28 juta ton, mixed hydroxide precipitate (MHP) sejumlah 27,8 juta ton, nikel metal 61,6 juta ton, serta nikel sulfat-kobalt sulfat (co sulphate) 19,5 juta ton.

IMA mengutip data Kementerian Koordinator Bidang Maritim, di mana total smelter HPAL yang beroperasi di Indonesia saat ini hanya 3 unit, sedangkan yang masih dalam tahap konstruksi 6 unit, dan perencanaan 10 unit. Sehingga total proyek smelter hidrometalurgi di Tanah Air mencapai 19 unit.

Baca Juga

Dengan menggunakan asumsi smelter pada tahap perencanaan selesai pada 2026, diproyeksikan cadangan bijih nikel limonite Indonesia hanya bertahan hingga 2048.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya mengatakan cadangan nikel saprolite di Indonesia masih akan bertahan hingga 13 tahun ke depan, sementara nikel limonite cukup hingga 33 tahun ke depan.

“Ketahanan cadangan nikel kita, saprolite ini kira-kira kita masih punya 13 tahun, limonite kita masih ada sekitar 33 tahun,” ujar Direktur Pembinaan Program Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Ing Tri Winarno di Komisi VII DPR RI, Selasa (19/3/2024).

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.