Isu Kasus Covid-19 Muncul karena Vaksin, Bu Susi: Cucu Saya Reaktif 2 Hari Usai Divaksin

Terkini.id, Jakarta – Unggahan terkait anggapan lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia justru terjadi lantaran program vaksinasi belakangan menjadi ramai di media sosial.

Pertanyaan-pertanyaan itu di antaranya diunggah netizen (warganet) di media sosial, baik Facebook maupun Twitter.

Salah satunya diunggah oleh akun Facebook Lazyboy.

Baca Juga: Susi Pudjiastuti Kritik Harga PCR, Mustofa Khawatir: Nanti Ibu Disuruh...

“LUR AKU HERAN, SEBELUM PROGRAM VAKSIN KASUS +COVID19 SUDAH MULAI MENURUN. TAPI PADA SADAR NGGAK SEHABIS PROGRAM VAKSIN MALAH BANYAK YANG MENINGGAL? DI DESA KU BANYAK YG MENINGGAL DAN KEBANYAKAN YG SUDAH PERNAH VAKSIN.
APA NGGON KU TOK?” tulisnya.

Bukan cuma itu, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti ikut membuat cuitan terkait vaksin tersebut.

Baca Juga: Protes Tes PCR 300 Ribu, Susi Pudjiastuti Beri Sentilan ke...

Lewat Twitter, Susi Pudjiastuti menyampaikan bahwa cucunya baru saja dites dan reaktif setelah dua hari sebelumnya divaksin covid-19.

“Cucu saya usia 16 tahun vaksin pertama… 2 hari kemudian bergejala mata merah dan sesak napas, flu .. antigen reaktiv .. solusi sekarang isoman untk 12 hari,” tulisnya.

Meskipun, sebagian netizen menyampaikan dugaannya bahwa kemungkinan cucu Bu Susi kemungkinan terpapar sebelum divaksin, mengingat selisih waktu vaksin dan hasil tes reaktif cuma 2 hari.

Baca Juga: Protes Tes PCR 300 Ribu, Susi Pudjiastuti Beri Sentilan ke...

“2 hari setelah vaksin dinyatakan positif,ARTINYA bahwa virus itu sudah ada di tubuh cucu Ibuk sebelum di vaksin, masih masa inkubasi nunggu sampai timbul gejala. Nah, vaksin sendiri perlu waktu jg untuk dia sampai efektif melindungi tubuh,dan itu bisa sampai 2 minggu stlh vaksin,” tulis netizen. 

Sejumlah warganet lain juga menanyakan hal tersebut di Twitter.

“Nah gue setuju ini,,,ada apa??,,kenapa semakin banyak orang yg di vaksin malah kasus semakin meledak???,,,,jangan kek gini lah pemerintah,,karena di daerah gue aja udh byk yg meninggal, bendera kuning gentian tiap Minggu,,genosida apa gimana nih!!!” tulis akun dengan nama @HandrisonImelda

“Disaat vaksin massal berjalan bahkan ditarget hingga 100k org/hari di vaksin.. Kenapa kasus kopid malah meledak?? Terus guna nya vaksin itu apa?” tulis akun lain dengan nama @adietz99.

“Patut dicurigai? Kasus covid di india meledak stlh vaksin disuntikkan lbh 100 jt ke warganya. Begitu jg dinegara ini. Stlh disuntikkan vaksin ke warga lgsg kasus meledak….” tulis akun @adi_fir.

Penjelasan Kemenkes

Mengutip dari kompascom, Juru Bicara dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menegaskan, tidak benar adanya anggapan bahwa meledaknya kasus Covid-19 di Indonesia karena banyaknya orang yang telah mulai divaksin.

“Justru kalau sudah banyak masyarakat yang divaksin kasus tidak ada lonjakan,” ujar Nadia dikutip dari kompascom.

Ia mengatakan, yang terjadi saat ini karena Indonesia memang tengah menghadapi kondisi pandemi.

“Jadi saat ini kondisi kita dalam kategori pandemi yang artinya laju penularan dan konsentrasi virus sangat tinggi,” jelas dia.

Adapun terkait dengan masih adanya orang yang sudah divaksin tetapi masih bisa terinfeksi, dirinya menjelaskan, hal ini karena secara teori terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang yang sudah divaksin tetap bisa tertular.

Faktor tersebut di antaranya yakni host, lingkungan, dan virus itu sendiri.

Akan tetapi, menurutnya, manfaat vaksin adalah membuat gejala menjadi tidak parah.

“Vaksin akan bekerja saat virus masuk ke tubuh kita. Dalam pertandingan bisa saja kita menjadi positif, tetapi gejala dan tingkat keparahan tidak terjadi, itulah manfaat vaksin,” ungkapnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, lonjakan angka kematian terkait Covid-19 di Indonesia terjadi seiring melonjaknya kasus positif virus corona di Indonesia.

Selain itu, Wiku juga tidak menampik bahwa lonjakan kematian pasien Covid-19 ini disebabkan oleh kapasitas rumah sakit yang penuh.

Seperti diketahui, media sosial Indonesia belakangan banyak diramaikan keluhan warga yang kesulitan mendapat kamar di rumah sakit.

Bahkan, beberapa pasien Covid-19 meninggal dunia karena belum sempat tertangani.

“Kapasitas rumah sakit memang bukan tidak ada batasnya,” jelasnya kepada Kompas.com belum lama ini.

“Maka dari itu, upaya untuk mencegah penularan di masyarakat sangat penting untuk mengurangi jumlah orang yang perlu perawatan di RS,” tambahnya.

Bagikan