Jangan Kaget! Netizen Ungkap Ragil LGBT Pintar Ngaji: Salat dan Puasa Tidak Bolong

Jangan Kaget! Netizen Ungkap Ragil LGBT Pintar Ngaji: Salat dan Puasa Tidak Bolong

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkini.id – Ragil Mahardika bersama pasangan gaynya, Frederik Vollert menghebohkan Indonesia karena datang ke Tanah Air dan tampil dalam tayangan podcast Deddy Corbuzier.

Sosok Ragil yang merupakan pria LGBT yang tinggal di Jerman, menjadi ramai dibahas di media sosial. Dia mengungkapkan beberapa pendapatnya terkait kehidupan LGBT dalam tayangan podcast tersebut.

Terkait ramainya Ragil, Netizen di media sosial mengungkap diri pribadi pria asal Medan tersebut yang diketahui pintar mengaji. Disebutkan, Ragil menurut cerita kenalannya juga tetap salat.

Netizen pemilik akun Dimas Budi Prasetyo di media sosial Facebook, bercerita dirinya pernah berada dalam satu forum dengan pria tersebut, dan buka puasa bersama.

“Saya secara pribadi tidak mengenalnya. Tapi kami pernah berada pada satu forum. Buka bersama. Jangan kaget, dia jika mengaji bacaannya bagus dan menurut teman-teman yang mengenalnya, dia tidak pernah bolong salat dan puasa,” tulis Budi Dimas.

Berikut selengkapnya tulisan Budi Dimas Prasetyo:

LAGI-LAGI SI BETE BERAKSI

Diundangnya si influencer dari Jerman bersama pasangannya ke podcast “tutup pintu”, membuat banyak komentar beragam. Dari sekian banyaknya komentar, hal yang menarik perhatian saya adalah bagaimana komentar yang memuji bahwa dia adalah pribadi yang baik dan pintar.

Dari cara berbicara, memang tampak dia bukan orang yang bisa dibilang bodoh. Pun, menurut orang-orang yang bersaksi bertemu dan mengenalnya, dia adalah orang yang baik dan ramah.

Sebuah hal yang menjadikannya saat diundang di podcast yang terkenal itu, seakan memberi panggung bahwa kaum mereka itu pintar dan baik, karena diwakili oleh si dia.

Bagaimana pendapat saya, yang tinggal di sebuah negara, yang juga mendukung bahkan melegalkan hubungan antara John dan John tersebut?

***

Sebagian negara di Eropa, beberapa tahun belakangan memang melegalkan hubungan sesama jenis. Tidak hanya Jerman, negara tetangganya yang saat ini kami tinggali, Belanda, juga memiliki kebijakan serupa.

Jadi, kami tidak terlalu kaget dengan hal tersebut. Bahkan, saya menemui hal tersebut di sekitar. Orang Indonesia, lelaki, yang menjalani hubungan spesial dengan lelaki Belanda.

Saya secara pribadi tidak mengenalnya. Tapi kami pernah berada pada satu forum. Buka bersama. Jangan kaget, dia jika mengaji bacaannya bagus dan menurut teman-teman yang mengenalnya, dia tidak pernah bolong salat dan puasa.

Jangan kaget, ya?

Apakah kemudian yang dilakukannya salah? Dari sudut pandang agama, jelas! Itu tidak bisa ditawar-tawar lagi. Meskipun orang tersebut baik, rajin ibadah, pintar, dsb, selama dia melakukan hal yang dikatakan oleh hampir semua agama sebagai hal yang menyimpang tersebut, sekali salah, tetap salah.

Apalagi dalam Islam, tegas dikatakan bahwa perbuatan tersebut sangat dibenci dan dil4kn4t.

Tapi bagaimana kemudian ditinjau dari sudut pandang sosial? Nah, ini baru lain.

Kaum mereka memang saat ini, mau tidak mau memiliki kekuatan atau power yang tidak bisa diremehkan.

Saya pernah membaca sebuah artikel menarik. Menceritakan seorang pemain sepak bola di Inggris tahun 80-an. Dia memiliki orientasi berbeda. Dengan berani, dia mengungkapkan itu. Kemudian apa yang terjadi?

Dia dikucilkan oleh rekan-rekan satu tim. Rekan-rekannya jadi takut berbagi ruang ganti dengannya. 

Kejadian ini di Inggris tahun 80-an. Bandingkan dengan beberapa tahun belakangan. Liga Inggris beserta pemerintah bahkan terang-terangan mendukung gerakan mereka. 

Sampai di sini paham poin yang saya maksud?

Tatanan sosial itu bisa berubah, tergantung seberapa kuat pengaruh yang ditimbulkan.

Sudah menjadi rahasia umum kalau kaum mereka saat ini sudah mengisi sektor-sektor penting. Tidak hanya di pemerintahan. Mereka ada dimana-mana. Mereka kuat secara posisi, finansial, dan banyak hal lagi.

Sehingga mereka mampu membuat dan merubah tatanan hal yang dulu tabu, menjadi sesuatu hal yang wajar dan dihormati. Bahkan, mereka bisa melakukan setting ulang pada undang-undang. Sungguh mengerikan, bukan?

***

Bagaimana respon kita menghadapi hal tersebut?

Sebagai manusia, menurut saya, mereka tetap harus dihargai. Tidak perlu dihujat dan dicaci maki. Ingat, dihargai sebagai sesama manusia. Cukup sebatas itu.

Kita hanya perlu membenci orientasi mereka. Mereka sedang salah jalan dan “sakit”. Semoga mereka kembali kepada fitrah manusia yang sebenarnya.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa mereka ada di sekitar. Sebagai umat muslim, kehadiran mereka adalah yang disebut sebagai ujian. 

Ujian bagi kita agar tetap teguh pada ajaran agama dan semakin mendekatkan diri pada-Nya.

Ujian kita agar semakin memperhatikan pengawasan untuk anak-anak, agar tidak sampai generasi penerus terjerumus pada hal yang sangat hin4 tersebut.

Ujian agar kita semakin menjadi pribadi yang lebih baik, berilmu, berpengaruh, dan memiliki kekuatan. Mengapa demikian?

Menurut saya, cara terbaik melawan mereka yang saat ini semakin kuat posisinya adalah dengan memperkuat pula posisi kita.

Kita harus semakin salih. Kita harus semakin cerdas dan berilmu. Kita harus berpengaruh dan berkuasa. Alih-alih hanya bisa menghujat dan mencaci maki.

Gus Baha, mengutip pernyataan Imam Abul Hasan Al-Syadzili yang menganjurkan untuk menampakkan kesalihan ketika orang-orang dengan bangga menampakkan kemaksiatan. 

Budaya kemaksiatan, harus dilawan dengan budaya ketaatan.

Saat ini, bukan saatnya berbicara bahwa kebaikan itu urusan pribadi dengan Tuhan. Karena di saat bersamaan, perbuatan maksiat yang dilakukan oleh orang lain kini tidak lagi urusan pribadi dengan Tuhan, tetapi diikuti dan diramaikan oleh pendukungnya.

Jombang, 9 Mei 2022.

Dimas Budi Prasetyo 

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.