(Tulisan ini sebagai respons memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh tiap 3 Mei)
Terkini, Makassar — Hidup di zaman ketika semua orang bisa menjadi juru warta. Berbekal kamera ponsel, akun media sosial, dan sedikit kemarahan, siapa pun dapat menyebarkan apa yang disebut “kebenaran”.
Tapi barangkali justru di sanalah jurnalisme diuji. Bukan pada kecepatan, melainkan pada jeda. Bukan pada keberanian membongkar, melainkan pada kesediaan bertanya ulang: untuk siapa, untuk apa, dan dengan cara bagaimana?
Etika dalam jurnalisme—seperti dalam puisi, seperti dalam cinta—tak pernah benar-benar selesai dirumuskan. Ia bukan kumpulan pasal di dinding redaksi, bukan juga hanya soal “cover both sides”.
Ia adalah semacam kesadaran terus-menerus bahwa suara yang kita angkat bisa membantu orang lain, tapi bisa juga menghancurkannya. Bahwa sebuah kalimat di halaman depan bisa menghangatkan nurani, tapi juga menusuk tanpa ampun.
- BPJS Ketenagakerjaan Apresiasi Makassar Berjasa, 81 Ribu Pekerja Rentan Telah Terlindungi
- Magnet Haul ke-20 Puang Ramma: Ribuan Peziarah Siap Ramaikan Baji Bicara dan Tambua
- Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Pekerja di Makassar
- PT Semen Tonasa Raih Juara 1 Penghargaan EBTKE 2026, Komitmen Efisiensi dan Keberlanjutan
- Kuasa Hukum KG Aqila Tegaskan Jangan Sesatkan Publik dengan Isu Merkuri Tanpa Data Akurat
Goenawan Mohamad, penyair dan pendiri majalah Tempo pernah bilang berita bukan hanya soal peristiwa, tapi soal memilih peristiwa mana yang layak jadi berita. Di situ, etika menyelusup. Ia hadir bukan sebagai polisi, tapi sebagai bayangan yang setia mengikuti.
Ia bertanya di balik judul besar. Apakah kita memberi suara kepada yang tertindas, atau hanya memperbanyak gema kekuasaan?
Di Makassar, kota yang sibuk membangun, banyak cerita tak sempat dituliskan. Seorang nelayan perempuan di Pulau Kodingareng menolak tambang pasir laut, dan kehilangan penghidupan. Ia diwawancarai, difoto, lalu hilang dari layar berita ketika konflik mulai menyentuh pemilik modal.
Seorang jurnalis yang mengangkat kisah itu tak lagi diberi tugas. “Sudah cukup,” kata redaktur, “kita cari isu yang lebih segar.”
Cerita semacam itu bukan hal baru tapi terus berulang. Di kota yang membanggakan reklamasi sebagai wajah kemajuan, nama-nama seperti Ibu Lina, nelayan yang kehilangan lautnya, tidak cukup seksi untuk jadi trending.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
