Kado Dies Natalis ke-63, Mahasiswa Unhas Terima Residensi Penulis Indonesia ke Prancis

Alfian Dippahatang, mahasiswa Program Magister Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas

Terkini.id,Makassar – Mahasiswa Universitas Hasanuddin Makassar kembali mengukir prestasi pada ajang Residensi Penulis 2019 yang dilaksanakan oleh Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan  dan Beasiswa Unggulan.

Pasalnya , Alfian Dippahatang, mahasiswa Program Magister Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) terpilih sebagai penerima Residensi Penulis Indonesia 2019. Bahkan dia termasuk salah seorang dari 34 nama yang dinyatakan lolos seleksi.

Prestasi tersebut diterimanya bertepatan dengan Dies Natalis ke-63 Universitas Hasanuddin dan tentunya kabar baik itu menjadi kado terindah pada Dies Natalis Unhas yang ke-63 tahun.

Alfian Dippahatang  mengatakan yang terpilih dan lolos seleksi akan mendapat dukungan dana 1 hingga 3 bulan untuk mengikuti residensi. Khusus dirinya akan memperoleh lokasi tujuan residensi di Prancis selama satu bulan.

“Program ini bertujuan mendukung para penulis dalam meningkatkan kemampuan diri dengan cara belajar di tempat yang dituju yang dianggap sesuai dengan kebutuhan riset,” ujarnya.

Lanjut Alfian mengaku jika dirinya menyelesaikan tulisannya di sebuah tempat yang kondusif,  dapat membangun jejaring di dalam dan luar negeri, baik dengan sesama penulis, maupun penerjemah dan penerbit.

“Di sini kami mengikuti program (diskusi, seminar, pembacaan karya, dan seterusnya) yang diadakan oleh penyelenggara yang telah disepakati oleh 3 pihak (Kemendikbud, Komite Buku Nasional, dan Penulis),” urainya.

Mereka yang boleh mengikuti seleksi ini kata Alfian harus Warga Negara Indonesia, berdomisili di Indonesia, dan dalam keadaan sehat. Bukan itu saja, penulis setidaknya mempunyai satu buku tunggal (bukan antologi) yang ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah yang sudah diterbitkan.

“Karya yang sedang ditulis harus dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah dan dapat diselesaikan selama residensi atau sampai waktu yang telah disepakati dan tercantum dalam kontrak. Lolos seleksi proposal dan wawancara,” sambungnya.

Bahkan bersedia bekerjasama dan mengikuti program yang disusun oleh Komite Buku Nasional dan Kemendikbud. Mampu berkomunikasi dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Pertimbangan, mempunyai karya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

“Mempunyai karya yang telah mendapatkan penghargaan. Mempunyai undangan dari institusi di luar negeri (tergantung pada jenis Residensi) yang bersedia bekerjasama dengan Komite Buku Nasional,” imbuhnya.

Untuk program Residensi Penulis dalam negeri kata dia, sama dengan syarat sebelumnya, Seleksi program ini tahun 2019 dilaksanakan oleh Komite Buku Nasional dan Kemendikbud, mencakup pendaftaran daring 27 Juli -10 Agustus 2019, pengumuman hasil seleksi 16 Agustus 2019 lalu.

“Program yang dilaksanakan sejak 2016 dan pada tahun 2019 ini telah menyeleksi 437 aplikasi yang masuk dan akan mengikuti residensi yang berlangsung antara Oktober hingga Desember 2019 mendatang,” pungkasnya.

Selain Alfian, dari Makassar juga terdapat nama Rahmat Hidayat. Peserta seleksi yang lolos lainnya berasal  Jakarta, Lampung, Pekanbaru, Yogyakarta, Depok, Bandung, Kendari, dan sebagainya.

Target  yang ingin diraih dari program ini adalah, adanya sebuah karya yang layak diterbitkan, penulis secara aktif membangun jejaring literasi nasional dan internasional, promosi sastra dan budaya Indonesia melalui keikutsertaan penulis yang mengikuti program residensi dalam acara-acara festival sastra nasional/internasional di tempat dimana yang bersangkutan melaksanakan programnya.

Juga, laporan perjalanan dan jejaring yang dicatat oleh penulis sebanyak 2 kali sebulan yang akan dimuat di website Komisi Buku Nasional (KBN). Program lanjutan di dalam negeri, berupa presentasi dari para penulis mengenai program yang diikutinya. Terbukanya peluang penjualan hak cipta ke penerbit di dalam dan luar negeri.

Kusala Sastra Khatulistiwa 2019

Alfian Dippahatang, melalui kumpulan cerita pendek berjudul “Bertarung dalam Sarung” dan kisah-kisah lainnya termasuk salah seorang dari 10 penulis puisi dan prosa  terpilih dalam longlis Kusala Sastra Khatulistiwa ke-19 kategori prosa, salah satu penghargaan bergengsi di Indonesia. Kumpulan cerpen tersebut telah diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia Jakarta Maret 2019.

Penyelenggaraan Kusala Sastra Khatulistiwa yang didirikan oleh Richard Oh sejak tahun 2001. Kusala Sastra Khatulistiwa adalah ajang penghargaan kesusastraan Indonesia yang diadakan tahunan.

Karya-karya sastra yang dipilih adalah yang terbit pada rentang waktu satu tahun. Untuk Kusala Sastra khatulistiwa 2019, karya-karya sastra terpilih adalah yang terbit dalam rentang waktu 2018-2019.

“Daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa ke 19. Malam Anugerah Khatulistiwa akan diselenggara pada tgl 16 Oktober di Plaza Senayan. Selamat kepada semua yg terpilih,” tulis Richard Oh.

Di bagian prosa ada karya Alfian Dippahatang (Unhas Makassar) ‘Bertarung dalam Sarung’, Eko Triono dengan ‘Republik Rakyat Lucu dan Cerita-cerita Lainnya’, Henny Triskaidekaman dengan novel ‘Cara Berbahagia Tanpa Kepala’, ‘Teh dan Pengkhianat’ karya Iksaka Banu.

Kemudian ada ‘Atraksi Lumba-lumba dan Kisah-kisah Lainnya’ Pratiwi Juliani, ‘Tango & Sadimin’ Ramayda Akmal, ‘Dekat dan Nyaring’ Sabda Armandio, ‘Seekor Capung Merah’ Rilda A.Oe Taneko, dan ‘Jamaloke’ Zoya Herawati.

Di kategori Puisi ada ‘Membaca Lambang’ karangan Acep Zamzam Noor, ‘Karena Cinta Kuat Seperti Maut’ ciptaan Adimas Immanuel, ‘Suara Murai dan Puisi-puisi Lainnya’ Andre Septiawan, ‘Hari Minggu Ramai Sekali’ Eko Saputra Poceratu, ‘Igauan Seismograf’ Halim Bahriz.

Lalu ada kumpulan puisi Hasan Aspahani ‘Aviarium’, ‘Struktur Cinta yang Pudar’ karya Ibe S Palogai, ‘Anjing Gunung’ Irma Agryanti, ‘Keledai yang Mulia’ Mario F Lawi hingga ‘Catatan-catatan dari Bulan’ Rieke Saraswati.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Gowa

Ini Cara Pemkab Gowa Cegah Masalah Hukum Perdata

Terkini.id,Gowa - Sebagai bentuk pendampingan atas semua program-program Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa, pihaknya menggandeng Kejaksaan Negeri (Kejari) Gowa untuk melakukan penandatanganan dua nota kesepakatan