Terkini, Makassar – Kelompok nelayan yang masuk dalam program Desa Binaan Bank Syariah Indonesia (BSI) sukses mengembangkan komoditas laut, berupa landak laut atau biasa disebut bulu babi.
Kelompok nelayan ini, mendapat pasar ekspor ke luar negeri atas dukungan dari BSI, dan PT Nirvana Niaga Sejahtera selaku perusahana off-taker yang mengirimkan produk olahan tersebut ke pasar Jepang.
Kelompok nelayan tersebut berada di dua desa kluster perikanan pengolahan landak laut di Sulawesi Selatan (Sulsel) binaan BSI, melalui program Desa Bangun Sejahtera Indonesia (BSI).
Kedua Desa binaan BSI itu antara lain Desa Mattaro Adae, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dan Kelurahan Barrang Caddi, Kepulauan Sangkarrang, Kota Makassar.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna, saat peluncuran Desa Binaan tersebut, menjelaskan, produksi daging atau isi landak laut itu bisa mencapai 2,5 ton hingga 5 ton per hari, dengan kebutuhan pasar bisa 30 ton per bulan.
- Gugatan Wanprestasi Rp2,2 Miliar Seret Oknum Anggota DPRD Jeneponto ke Pengadilan
- Pansus Hak Angket DPRD Gowa Tegaskan Fokus Selidiki Dugaan Penyalahgunaan Wewenang, Bukan Persoalan Pribadi
- BSI Salurkan Bantuan untuk Korban Gempa pada Peringatan HUT ke-18 Kabupaten Sigi
- LAZ Hadji Kalla Sunat 188 Anak Duafa di Buton Tengah
- PT Vale Gandeng Sekolah dan Pemerintah Tanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini
“Dengan kondisi ini, target produksinya Insya Allah bisa tercapai, mudah-mudahan bisa memenuhi kebutuhan pasar, dan dengan tidak merusak ekosistem laut,” ungkap Anton, di Pantai Akkarena Makassar, Selasa 27 Mei 2025.
Sejauh ini, bulu babi atau landak laut cukup banyak ditemukan di perairan Makassar dan Pangkep, bahkan kerap kali dianggap hama. Sementara, masyarakat Jepang menyukai olahan laut dari Landak Laut itu.
Adapun anggaran yang disalurkan BSI untuk pengembangan desa klaster perikanan laut di Sulsel ini mencapai Rp5,2 miliar dengan sasaran 100 Kepala Keluarga (KK) yang menerima manfaat.
Sementara itu sejumlah aspek yang akan dikuatkan dalam pengembangan klaster tersebut, antara lain dari sisi produksi, kelembagaan, dan pemasaran.
Bank Syariah terbesar di Tanah Air itu membantu menjaga keberlanjutan ekosistem landak laut di perairan dua desa tersebut agar produksi hewan tersebut tetap ada. Dari sisi kelembagaan akan dibentuk kelompok-kelompok petani dan dari sisi pemasaran BSI bekerja sama dengan off-taker.
Sementara, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengatakan ekosistem yang dibangun BSI menjadi langkah strategis membantu perekonomian masyarakat.
Menurut dia, apa yang dilakukan oleh BSI tentu membantu pemerintah karena bukan sekadar memberi bantuan permodalan, tapi mendampingi kelompok nelayan tersebut, dibuatkan klaster, dan dihubungkan dengan off-taker untuk pasar di luar negeri.
“Kadang kami pemerintah kalau sudah mengambangkan produksi komoditas tertentu, biasa bingung mau jual ke mana, akhirnya barangnya tak terjual. Artinya ekosistem hulu ke hilirnya jalan,” tutur Andi Sudirman.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
