Kematian Abu Bakar Al-Baghdadi Bos ISIS Dianggap Biasa Saja, Iran Ungkap Alasannya

Terkini.id – Amerika Serikat mendapat banyak sambutan positif setelah berhasil membunuh pemimpin nomor satu ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi.

Meski begitu, bagi sejumlah orang, kematian Abu Bakar Al-Baghdadi dianggap biasa-biasa saja.

Tidak semua masyarakat internasional menganggap pembunuhan Baghdadi sebagai sebuah prestasi bagi Amerika.

Salah satu negara yang selalu kontra dengan Amerika, yakni Iran, sejak lama meyakini bahwa ISIS diciptakan oleh AS.

Karena itu, Tehran sama sekali tidak terkesan dengan kabar tewasnya orang nomor satu organisasi teroris tersebut.

Menarik untuk Anda:

“Ini (pembunuhan Baghdadi) bukan hal besar, kau hanya membunuh makhluk ciptaanmu sendiri,” ujar Menteri Penerangan Iran Mohammad Javad Azari-Jahromi, seperti diberitakan Reuters, Minggu 27 Oktober 2019.

Presiden Prancis Emmanuel Macron ikut menyambut dingin kabar keberhasilan AS. Menurut Macron, kematian Baghdadi bukanlah akhir dari ISIS.

Macron justru memerintahkan aparat keamanan di seantero Prancis meningkatkan kewaspadaan demi mencegah aksi balasan dari ISIS.

“Kematian Baghdadi adalah tamparan keras bagi ISIS, tetapi ini cuma sebuah tahapan,” ujar Macron.

Penggiat media sosial, Fadly Abu Zayyan berpendapat, kematian Abu Bakar Al Baghdadi dalam dunia intelijen cuma dianggap operasi “tutup dokumen”/

“Artinya, eksistensi ISIS di Timur Tengah khususnya Irak dan Suriah tidak dibutuhkan lagi. Selain memang mereka (ISIS) sudah terpojok oleh gempuran tentara Suriah yang didukung Rusia, keberadaan mereka juga mencemaskan pihak kreatornya. Khawatir akan terkuak kedok siapa dibelakang mereka. Meski sudah menjadi rahasia umum bahwa Paman Sam dan Inggris adalah dalang dan pencipta monster wahabi bernama ISIS itu,” katanya.

Menurut dia, ISIS diciptakan untuk dua tujuan utama. Pertama, sebagai wadah untuk menghapus separuh populasi dunia sebagaimana agenda Thanos yang pernah diungkap Jokowi pada sebuah forum global.
Panggilan kepada Umat Islam Transnasional untuk membentuk Negara Islam dengan model Khilafah di Irak dan Suriah.

Rencananya, setelah sebagian besar populasi Muslim berkumpul di sana, mereka akan dihabisi dengan senjata pemusnah massal.

“Namun rencana ini gagal total. Justru yang terjadi adalah efek balik. Dimana populasi Muslim semakin tersebar ke penjuru dunia (terutama Eropa) melalui gelombang pengungsi.

Yang kedua, ISIS dibentuk sebagai algojo untuk merebut kilang-kilang minyak di wilayah yang sudah mereka kuasasi. Muaranya adalah konsensi eksplorasi untuk “Tuan Besar” Paman Sam. Selain itu, ada agenda penjarahan artefak-artefak kuno yang bisa digunakan sebagai ‘Heritage Collateral’.

Terbukti, banyak barang jarahan ISIS yang jatuh ke tangan Inggris melalui perantara Israel,” kata dia.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Hasil Poling, Biden Menang Debat Lawan Trump Usai Menang Elektabilitas

Selain Jalan, Uni Emirat Arab Bakal Bangun Masjid Jokowi di Abu Dhabi

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar