Kekalahan ISIS dan Nasib Eksodus Indonesia

SEORANG ASN dari kementerian Keuangan yang juga lulusan STAN dan S2 S2 Adelaide Flinders University of South Australia, mengundurkan diri sebagai ASN hanya karena ingin pindah ke wilayah yang sudah dikuasai ISIS.

Kita tidak tahu bagaimana orang terpelajar seperti itu mau saja meninggalkan semua keluarga besar dan sahabatnya masa kecilnya di Indonesia hanya untuk sebuah keyakinan kebangkitan khilafah Islam.
Ia juga membawa serta anak dan istrinya. Benar benar keyakinan yang sublime. Ketika itu ISIS sedang jaya jayanya di Suriah dan Irak.

Gaung kemenangan ISIS dari satu pertempuran ke pertempuran berikutnya mengundang militansi mereka yang sudah terpapar paham khilafah untuk ikut bergabung.

Cerita burung tentang bagaimana makmurnya negara khilafah di bawah ISIS begitu indahnya. Semua gratis dan orang kafir disembelih.

Mereka percaya inilah janji Allah bahwa khilafah itu akan datang saatnya untuk memimpin dunia. Makanya jangan kaget bagi mereka yang sudah terdoktrin bangkitnya khilafah, mereka sangat antusias untuk pindah ke wilayah yang sudah yang dikuasai ISIS.
Kepergian mereka tentu dengan tidak resmi. Tidak dilakukan sebagaimana lazimnya orang ingin pindah warga negara atau migrasi ke negara lain.
Alasanya adalah mau ke Turki. Konon katanya dari Turki mereka akan diatur oleh agen yang bisa membawa mereka ke wilayah ISIS.

Menarik untuk Anda:

Begitulah gelombang eksodus warga asing termasuk dari Indonesia yang masuk ke wilayah ISIS dalam beberapa tahun.

Benarkah janji utopia seperti cerita burung itu benar dirasakan oleh mereka di wilayah ISIS?

“Propaganda mereka bagus, indah, kehidupan di sana nyaman tentram damai penuh keadilan. Jadi seperti sudah terbutakan. Seperti berita kejelekan mereka hilang begitu saja,” ujar Nurshadrina dalam talkshow “Rosi” episode Pengakuan Anggota ISIS, di Kompas TV, Kamis 14 September 2017.

Nurshadrina (19) mengaku tertipu dengan seluruh janji dan propaganda ISIS yang dia dapatkan dari internet.
Kehidupan yang lebih baik di bawah konsep negara khilafah pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi tidak dia temukan sesampainya di Suriah sejak Agustus 2015.

“Kami niatnya hanya ingin hidup saja di bawah naungan khilafah itu,” ucapnya. Namun, sesampainya di sana, Nurshadrina justru diperlakukan tidak manusiawi.

Kaum perempuan jadikan budak sex. Dengan alasan produksi anak untuk perjuangan berdirinya khilafah. Mereka harus melayani pasukan ISIS yang haus sex gratisan. Sementara kaum laki-laki dipaksa untuk ikut berperang.

Kini, ISIS sudah kalah total. Tidak ada lagi kantong wilayah yang dikuasai ISIS. Sebagian warga Indonesia yang ditemukan berada di antara ribuan petempur asing ISIS menyatakan ingin kembali ke Indonesia.

Di antara mereka terdapat puluhan anak dan perempuan, yang saat ini berada di kamp pengungsi di Al-Hol, Suriah timur.

Mereka sebelumnya berada di Baghuz, kantong terakhir kelompok ISIS, yang direbut oleh Pasukan Demokratis Suriah, SDF pimpinan suku Kurdi.
Salah seorang warga Indonesia, Maryam yang bersama empat anaknya menyebut berasal dari Bandung, Jawa Barat. Dia menyatakan “ingin pulang ke Indonesia.”

Masalahnya tidak sederhana untuk memulangkan mereka. Mengapa ? Karena mereka masuk secara ilegal ke wilayah ISIS.

Pemerintah hanya punya data mereka ke Turki untuk wista. Setelah jangka waktu visa habis mereka tidak keluar dari Turki untuk pulang ke Indonesia.
Ya karena sebetulnya mereka tidak di Turki tapi diselundupkan ke wilayah ISIS. Kemungkinan besar passport mereka juga sudah dimusnahkan oleh ISIS atau mereka sendiri.

Kini warga Indonesia termasuk warga asing dari 53 negara terkatung katung nasipnya di kamp pengungsi di Al-Hol, Suriah Timur.

Hampir semua negara termasuk AS kesulitan untuk memproses kepulangan mereka ke negaranya masing masing. Ya alasan administrasi.

Peran keluaga besar mereka di indonesia sangat menentukan untuk membantu proses adminstrasi kepulangan mereka. Masalahnya apakah keluarga besar mereka berani mengurusnya ke Pemerintah?

Tahun 2003 saya pernah ke Damaskus, teman wanita saya asal iran mengatakan “Ancaman serius dari Suriah adalah ideologi khilafah.

Anehnya selalu dijadikan issue untuk membangkitkan semangat lahirnya khilafah adalah syiah. Hanya masalah waktu, negeri yang disebut dalam Al Quran ini akan hancur oleh kaum Dajjal yang mengaku sebagai wakil Allah untuk memimpin dunia.”
Benarlah. Sepuluh tahun kemudian ramalan teman saya itu terjadi. Suriah hancur dengan korban lebih dari 200.000 orang sipil.

Saya duduk minum kopi di plaza Indonesia di sebuah cafe sambil memandang ke Bundaran HI. Bayangan saya kepada beberapa tahun lalu ketika bersama teman di Suriah sambil minum kopi di Al Hamra.

Mungkin kini cafe itu sudah hancur karena perang sipil. Kalau kemenangan Prabowo sebagai awal kemenangan khilafah maka mungkinkah nasib cafe favorit saya di Jakarta akan berakhir oleh puing puing keganasan di balik takbir? ISIS memang udah kalah tetapi ideologinya terus hidup terutama di Indonesia. Tuhan lindungi kami.

Erizeli Jely Bandaro

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar