“Ada kaca?” tulis @MahaD3w4.
“Berita ini untuk konsumsi orang udik yang tidak main medsos. Supaya dikira bahwa Wakanda tidak pernah melakukan kekerasan kepada pendemo,” sindir @KadingArang.
Berdasarkan pernyataan resmi dari Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Minggu, 28 Februari 2021, kekerasan yang terjadi saat unjuk rasa menyebabkan 18 korban jiwa dan 30 korban luka-luka.
Selain itu, dalam satu bulan terakhir telah ada lebih dari 1000 masyarakat sipil yang ditangkap dan ditahan semena-mena oleh junta.
Adapun terkait kekerasan dalam demo menolak Omnibus Law yang diungkit warganet memang sempat disoroti oleh beberapa organisasi seperti Amnesty Indonesia, Kontras, Walhi, dan lain-lain.
- Vonis Aung San Suu Kyi Dikurangi Dua Tahun
- Tembak Dua Warga di Masjid, Tentara Myanmar Colong Duit Kotak Amal
- Tiba-Tiba SBY Beri Dukungan pada Presiden Jokowi, Ada Apa Gerangan?
- Wah, Foto Moeldoko bareng Sosok Dibalik Kudeta Myanmar jadi Sorotan, Warganet: Hati-hati Pak Jokowi
- Warganet Geram, Tentara Myanmar Pamer Pistol di TikTok sambil Ancam Demonstran Anti Kudeta
“Pemantauan yang dilakukan oleh Amnesty International Indonesia mendokumentasikan setidaknya 402 korban kekerasan polisi di 15 provinsi selama aksi tersebut,” tulis pihak Amnesty pada 2 Desember 2020.
“Amnesty juga mencatat sebanyak 6.658 orang ditangkap di 21 provinsi. Berdasarkan laporan dari tim advokasi gabungan, sebanyak 301 dari mereka ditahan dengan jangka waktu yang berbeda-beda, termasuk 18 jurnalis, yang kini telah dibebaskan,” tambahnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
