Kenapa Wanita Memilih Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT?

Kenapa Wanita Memilih Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT?

SW
St. Wahidayani
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id – Memiliki pasangan dalam ikatan pernikahan yang bahagia sampai akhir hayat dan harmonis memang menjadi impian semua orang. Memang harapan tersebut terdengar klise, namun banyak juga pasangan yang berhasil mempertahankan cintanya sampai tua.

Namun nyatanya pula, beberapa kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kerap terjadi paa perempuan. Meski begitu, korban KDRT memilih bertahan meskipun mendapat perlakuan tak menyenangkan dari pasangannya.

Hal itu disebabkan karena korban terjebak dalam siklus atau pola yang dibuat oleh pelaku KDRT.

Mereka berharap bahwa suatu saat keadaan akan membaik. Padahal, tidak ada jaminan suaminya bisa berubah dan berhenti melakukan tindak kekerasan.

Oleh karena itu, berikut beberapa alasan kenapa perempuan tetap bertahan dalam pernikahan yang penuh KDRT. Terkini.id telah merangkumnya dari Nakita.Grid.

  1. Percaya bahwa suami masih mencintainya
Baca Juga

Pada siklus KDRT berawal dari konflik rumah tangga lalu terjadi kekerasan sebagai bentuk hukuman atau pelampiasan emosi. Usai itu, pelaku jadi merasa bersalah dan meminta maaf pada korban. Dititik inilah biasanya, sang istri mulai goyah.

Sehingga, para wanita percaya bahwa suaminya masih mencintainya. Padahal, ada kemungkinan tidak kekerasan itu bisa terjadi lagi.

  1. Suka menyalahkan diri sendiri

Biasanya korban KDRT berpikir, dirinya telah berbuat salah sampai membuat suaminya marah besar. Oleh karena itu, wanita memilih mengalah dan mengikuti keinginan suami.

Pelaku KDRT bisa sangat manipulative. Dia membuat korbanya berpikir bahwa wanita pantas mendapat perlakukan ini dan pelaku biasanya mengatakan sesuatu.

“Hal ini tidak akan terjadi kalau sejak awal kamu mau nurut dan tidak membantah!”.

Padahal, kalaupun istrinya memang salah, apakah pantas mendapatkan hukumanan dengan cara kekerasan fisik?

  1. Menggap ini kejadian yang terakhir

Setelah mendapat perlakuan kasar, korban cenderung kaget dan bingung. Terutama ini kejadian yang pertama. Kita mungkin tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya, sehingga memilih pasrah saja dengan keadaan.

Ini perlu ada ingat. Saat seseorang berperilaku kasar sekali, kemungkinan besar mereka cenderung melakukannya lagi. Apalagi kalau mereka mendapat keuntungan dari perbuatan ini. Seperti istri jadi nurut dan tidak pernah menbantah lagi.

  1. Masih berharap suaminya akan berubah

Mungkin yang satu ini banyak yang meninginkannya. setelah diberi perlakukan tidak menyenangkan korban masih punya sedikit harapan bahwa suaminya akan berubah dan percaya bahwa suaminya hany khilaf semata.

Lantaran pelaku KDRT cenderung memanipulasi korban dengan berbagai ucapan manis. Seperti aku berjanji tidak akan mengulanginya dan berjanji akan berubah.

Selanjutnya pelaku akan berpura-pura seolah kekerasan tersebut tidak pernah terjadi.

  1. Takut dengan pelaku KDRT

Sangat wajar untuk merasa takut saat memutuskan untuk keluar dari pernikahan penuh KDRT. Korban mungkin akan merasa tidak aman dan takut. Sebab pelaku bisa saja berbuat hal-hal yang mencelakai istrinya atau dirinya sendiri.

Bahkan, tak mudah untuk berjuang sendiri agar bisa lepas dari siklus KDRT dan perlu ada dukungan dan perlindungan dari orang sekitar.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.