Kepemimpinan Dalam Islam

SAAT ini, semakin ramai dan banyak orang berlomba dan berebut untuk mengejar yang namanya jabatan, dan menjadikannya sebagai sebuah obsesi atau tujuan hidup semata.

Pengertian dan pemahaman mereka yang menganut paham atau prinsip ini, tidaklah lengkap rasanya selagi ada kesempatan, kalau tidak pernah (meski sekalipun) menjadi orang penting bagaimanapun caranya, agar dihormati dan dihargai oleh masyarakat.

Munculnya pemahaman ini tidak terlepas dari kenyataan, bahwa pangkat dan atau jabatan dipandang sebagai sebuah “aset”, oleh karena baik langsung maupun tidak langsung berakibat kepada adanya keuntungan, fasilitas, kelebihan, kemudahan, kesenangan, dan setumpuk keistimewaan lainnya.

Oleh karena itu, tidaklah heran banyak yang mencalonkan diri untuk menjadi pejabat ekskutif maupun legislatif dan sebagainya sebagai sebuah impian dan obsesi semua orang.

Mulai dari kalangan politikus, purnawirawan, birokrat, saudagar, tokoh masyarakat, artis bahkan sampai kepada kondektur bus dan tukang ojek.

Mereka berebut mengejar jabatan tanpa mengetahui siapa sebenarnya dirinya, bagaimana kemampuannya, dan layakkah dirinya memegang jabatan tersebut.
Parahnya lagi, mereka kurang (tidak) memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat pemimpin dan kepemimpinan itu sendiri.

Oleh karena menganggap jabatan adalah keistimewaan, fasilitas, kewenangan tanpa batas, kebanggaan dan popularitas. Padahal jabatan adalah sebuah tanggung jawab, pengorbanan, pelayanan, dan keteladanan yang dilihat dan dinilai oleh banyak orang.

Dalam konsep Islam kepemimpinan itu wajib adanya, baik secara syar’i maupun secara ‘aqli. Adapun secara syar’i tersirat dari firman Allah tentang doa orang-orang yang selamat : “Dan jadikanlah kami sebagai imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa” [QS Al-Furqan : 74]. Demikian pula dalam firman Allah : “Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan para ulil amri diantara kalian” [QS An-Nisaa’ : 59].

Bahkan, Rasulullah SAW sendiri bersabda dalam sebuah hadits yang sangat terkenal: “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya”.
Terdapat pula sebuah hadits yang menyatakan wajibnya menunjuk seorang pemimpin perjalanan diantara tiga orang yang melakukan suatu perjalanan. Adapun secara ‘aqli, suatu tatanan tanpa adanya kepemimpinan pasti akan menjadi rusak dan porak poranda jadinya.

Selain itu, makna kepemimpinan dalam islam adalah sebuah amanah, titipan Allah SWT, dan bukanlah sesuatu yang diminta apalagi dikejar dan diperebutkan.

Sebab kepemimpinan melahirkan kekuasaan dan wewenang yang gunanya semata-mata untuk memudahkan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab melayani rakyat. Semakin tinggi kekuasaan seseorang, hendaknya semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Bukan sebaliknya, digunakan sebagai peluang untuk memperkaya diri, bertindak zalim dan sewenang-wenang. Balasan dan upah seorang pemimpin sesungguhnya hanya dari Allah swt di akhirat kelak, bukanlah berupa kekayaan dan kemewahan di dunia.

Kepemimpinan dalam islam juga menuntut adanya penegakan keadilan. Keadilan adalah lawan dari suatu bentuk penganiayaan, penindasan dan pilih kasih. Keadilan harus dirasakan oleh semua pihak dan golongan.

Diantara bentuknya adalah dengan mengambil keputusan atau kebijakan yang adil di antara dua pihak yang sedang berselisih, mengurus dan melayani semua lapisan masyarakat tanpa memandang agama, etnis, budaya, dan latar belakang atau tidak boleh berlaku diskriminatif.

Bahkan, dalam kepemimpinan islam kriteria menjadi seorang pemimpin sangatlah penting. Hal itu sekaitan dengan istilah yang digunakan dalam Islam dimana pemimpin itu disebut sebagai Khalifah. Khalifah adalah wakil, pengganti atau duta).

Sedangkan secara istilah Khalifah adalah orang yang bertugas menegakkan syariat Allah SWT, memimpin kaum muslimin untuk menyempurnakan penyebaran syariat Islam dan memberlakukan kepada seluruh kaum muslimin secara wajib, sebagai pengganti kepemimpinan Rasulullah SAW .

Kriteria pemimpin menurut Islam adalah, beriman dan beramal shaleh, memiliki niat yang lurus, tidak meminta jabatan, berpegang teguh pada hukum Allah, memutuskan perkara dengan adil, tidak menerima hadiah, tegas dalam memimpin dan bersifat lemah lembut.

Dari pengertian tersebut jelas bahwa pemimpin menurut pandangan Islam tidak hanya menjalankan roda pemerintahan begitu saja, namun seorang pemimpin harus mewajibkan kepada rakyatnya untuk dapat melaksanakan apa saja yang terdapat dalam syariat Islam walaupun bukan beragama Islam.

Seorang pemimpin islam haruslah memiliki sifat-sifat, seperti ; shiddiq (selalu berkata dan bersikap jujur dan benar). Bukan hanya perkataannya yang benar, akan tetapi perbuatannya juga harus benar yang artinya, harus sejalan dengan ucapannya.

Shiddiq sebagai modal dasar dalam memimpin sebab kalau tidak maka akan merusak semuanya. Selain itu, bersifat amanah (dapat dipercaya) : Jika satu urusan diserahkan kepadanya, maka niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Tidak pernah menggunakan wewenang dan otoritasnya sebagai pemimpin untuk kepentingan pribadinya atau kepentingan kelompok dan keluarganya. Kemudian, bersifat fathonah (cerdas dan bijaksana) maka seorang calon pemimpin haruslah memiliki kecerdasan, baik secara emosional (EQ), spiritual (SQ) maupun intelektual (IQ).

Dan terakhir bersifat tabligh (penyampai) dapat berkomunikasi dengan baik : artinya menyampaikan kebenaran kepada masyarakat sebagai bentuk tanggungjawab untuk menunjukkan jalan kebenaran agar masyarakat terhindar dari fitnah dan dengki.

Akhir dari persoalan tersebut di atas, maka mari kita lebih cermat dan berhati-hati dalam menentukan setiap yang akan menjadi imam atau pemimpin kita.

Karena apapun akibat yang dilakukannya, maka kita pun akan turut bertanggung jawab terhadapnya. Jika kepemimpinannya baik, maka tentu saja kita akan merasakan pula kebaikannya. Sebaliknya, apabila kepemimpinannya menjadi buruk, maka tentu saja kita pun akan merasakan kerusakan dan keburukan dari kepemimpinannya tersebut.

@mks21012020

Komentar

Rekomendasi

Hei Tuan, Moderasi itu Sehat!

Surga Dunia ala Prof Yudian Wahyudi

Radiasi Nuklir di Serpong

Saat Penumpang Kapal Cruise Stress

Dukungan Hastag

Konstruksi Sistem Pendidikan Nasional

Dalam Lift

Intoleransi Agama dan Ras

Nendang Kenangan

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar