Terkini.id, Jakarta – Moeldoko selaku Kepala Staf Presiden menyebutkan bahwa cara Negara Islam Indonesia mencari sumber sponsorship dan dana adalah menggunakan kotak amal dan layanan fintech.
Ketika dana sudah terkumpul barulah uang yang sudah terkumpul tersebut ditransfer ke gerakan terorisme internasional.
Dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu 23 April 2022, setelah itu dana tersebut digunakan untuk melakukan aksi terorisme di Indonesia.
“Ada upaya pengumpulan dana melalui kotak-kotak amal, melalui fintech. Kita harus terbuka matanya bahwa semua perlu mendapatkan kewaspadaan,” ucap Moeldoko dilansir dari CNN Indonesia, Sabtu 23 April 2022.
Negara Islam Indonesia adalah dalang dalam hampir setiap aksi terorisme yang pernah terjadi di Indonesia. NII juga sudah aktif beroperasi di dalam negeri sejak tahun 2000-an.
- Moeldoko Sebut Adanya Motif Politik di Balik Pernyataan Mantan Ketua KPK Agus Rahardjo
- Reshuffle Kabinet Hari Ini, Beredar Kabar Syahrul YL Digantikan Moeldoko
- Upaya Melawan Moeldoko CS, Demokrat Sulsel Ajukan Perlindungan Hukum
- KUHP Baru Resmi Diundangkan Oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno
- Begini Komentar Moeldoko Terkait Kekejian TPNPB-OPM Bunuh Warga Tak Berdosa
Moeldoko mengatakan NII merupakan otak dari terjadinya bom Bali. Selain itu NII juga terlibat dalam bom Kedutaan Besar Amerika Serikat dan bom buku pada tahun 2011.
“Ternyata di balik itu semua ada latar belakang NII,” tutur Moeldoko.
Moeldoko juga memperingatkan rakyat Indonesia kalau NII bisa saja ada di sekitar kita. NII bisa saja berseragam ASN atau seorang mahasiswa universitas.
Masyarakat harus terus waspada dengan lingkungan sekitar dan jika memang ada salah satu anggota NII disekitar kita maka kita sebagai rakyat yang baik harus menghentikan pergerakan NII agar tidak memiliki dampak yang buruk bagi negara Indonesia.
“Hati-hati, ada di tengah-tengah kita,” ujarnya.
“Jangan salah, itu sudah berada di tengah-tengah kita. Siapa yang menjadi unsur-unsur yang terpengaruh? Melalui ASN, melalui aparat keamanan, melalui mahasiswa, melalui berbagai institusi, dan termasuk pengusaha,” imbuh Moeldoko.
Menurut Moeldoko teknik perekrutan NII juga dibilang jauh lebih sulit dibaca. Karena NII tidak menggunakan senjata.
Mereka lebih memakai cara untuk mencoba menarik simpati semua orang yang ada disekitarnya.
“Ini jauh lebih dahsyat. Kenapa dahsyat? Kalau pergerakan senjata, dia mudah dikenali, pelakunya mudah ditangkap, dan mudah diselesaikan,” jelasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
