Terkini.id, Jakarta – Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) yang juga pakar lingkungan hidup, menyampaikan kritiknya terhadap rencana pembangunan tugu sepeda oleh Pemprov DKI Jakarta.
Kontan, kritikan Emil Salim itu ditanggapi beragam netizen. Sebagian di antaranya tidak sepakat dengan Emil Salim.
Dilihat dari akun twitternya, Prof Emil Salim melalui akunnya @emilsalim2010 mengetwit begini:
Ketika Wa-Gub DKI Jakarta sediakan Rp.800 juta bangun “patung speda” guna membantu para pemahat, kita bertanya bukankah “speda” barang komersial yg ada importir & pengusaha bengkel dll sehingga tak perlu Anggaran Daerah? Mengapa uang tidak utamakan pendidikan ketimbang patung?
Kritikan tersebut pada intinya mempertanyakan, mengapa pemerintah yang membangun patung sepeda dengan menggunakan anggaran daerah?
Sementara, banyak pengusaha terkait sepeda (mulai dari importir, pebengkel hingga penjual sepeda), yang seharusnya bisa didorong untuk membuat patung tersebut.
Netizen pun memberi komentar yang beragam terkait postingan itu.
“Maaf Prof Emil dari pada mengkritisi APBD yang Rp800 juta, apa gak lebih greget sekaliber Prof Emil ini mengkritisi hutang negara yang sudah mencapai Rp6.000 triliun yang bunga per tahunnya saja sudah Rp 200 sampai Rp200 triliun yang sangat membebani APBN dan rakyat? tulis salah satu netizen.
Sebagian juga menuding Emil Salim tidak membaca dengan baik anggaran pembangunan tugu sepeda tersebut. Hal itu karena pembangunan tugu sepeda tersebut didapatkan dari pihak ketiga atau swasta.
Mengutip dari Akuratco, Wagub DKI Jakarta Riza Patria menyebutkan, uang untuk membangun tugu itu didapatkan dari anggaran dari kewajiban pihak swasta yang nilainya mencapai Rp28 milar.
Sayangnya Riza tidak menjabarkan secara rinci kewajiban pihak ketiga yang dia maksud, apakah hal ini denda koefisien lantai bangunan (KLB) atau hanya sekadar kerja sama.
“Tugu sepeda ini dapat anggaran dari kewajiban pihak swasta, pihak ketiga,” tuturnya
Sementara itu, Politisi PDIP DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak menilai tugu sepeda senilai Rp800 juta yang dibangun Gubernur Anies Baswedan di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, tak punya manfaat buat masyarakat Jakarta.
Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta ini meminta Anies untuk membuat kebijakan yang jauh lebih berguna sebagaimana yang dilakukan pendahulunya, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sewaktu menjabat Gubernur DKI periode lalu.
Ketimbang bikin keputusan nihil manfaat, Gilbert kemudian menyodorkan saran lain, dia meminta Anies fokus pada berbagai permasalahan pelik lainnya di Jakarta sekarang ini seperti masalah penanganan banjir atau pengentasan Covid-19.
Gilbert bahkan menyinggung, keberadaan Anies Baswedan yang belakang jarang nongol di media. Bahkan untuk menjelaskan progres berbagai program yang telah dia buat pada masa kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu saja, kata Gilbert Anies terkesan menghindar dan melimpahakan semuanya kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria.
Padahal kata Gilbert program-program itu hingga di penghujung masa jabatan Anies masih jauh dari target.
“Sekarang kesannya Gubernur yang tidak bekerja optimal seperti menjelaskan kasus Formula E, Korupsi Sarana Jaya, Jaklingko yang tidak sesuai janji, Rumah DP 0 rupiah yang jauh dari target dan lain-lain,” tuturnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
