Mahasiswa Unhas Teliti Solar Cell dari Bahan Alam

Mahasiswa Unhas Teliti Solar Cell dari Bahan Alam

Oliviane Nuah

Penulis

Terkini.id, Makassar – Berawal dari melihat daerah yang belum terjangkau oleh jaringan listrik muncul ide dari mahasiswa Unhas untuk meneliti Solar Cell dari bahan alam sebagai sumber energi terbarukan.

Menurut data kementrian ESDM 2016 masih terdapat 2519 desa yang belum terjamah oleh sumber energi dan tertinggal dalam hal penggunaan teknologi. Ditengah pentingnya akses terhadap sumber energi dewasa ini dan pesatnya pertumbuhan teknologi diberbagai bidang menyebabkan semakin meningkatnya kebutuhan energi dari tahun ketahun.

Di sisi lain Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis sehingga hampir sepanjang tahun mendapat sinar matahari yang sangat memungkinkan penggunanaan energi matahari sebagai energi alternatif. Didukung dengan kekayaan sumber daya alam, tentunya apabila dimanfaatkan secara optimal dapat menjadi potensi yang menjanjikan.

Menyadari potensi tersebut Tim program kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Hasanuddin yang beranggotakan Ade Ilham Tamara K (Fisika), Andi Anugrah Caezar T (Fisika) dan Aisyanang Deng Ngai (Biologi) mahasiswa fakultas matematika dan ilmu pengetahuan alam (FMIPA) membuat sebuah inovasi dengan memanfaatkan bahan alam sebagai sumber energi terbarukan.

“Pada penelitian ini kami ingin mengoptimalkan bahan alam yang ada sebagai sumber energi alternatif dengan cara menggunakan komoditas buah dan biofarmaka yang produksi/ketersediaannya melimpah yaitu daun mangga, kulit pisang dan jahe merah yang akan digunakan sebagai penyerap cahaya pada DSSC,” ujar Ade Ilham Tamara K sebagai ketua tim.

DSSC (Dye Sensitisize Solar Cell) adalah generasi ketiga dari pembangkit listrik tenaga surya. DSSC merupakan alternatif pengganti sel surya silikon yang saat ini banyak digunakan dan ditemukan di pasaran. Biasanya DSSC menggunakan ruthenium complex (bahan sintesis) sebagai penyerap cahaya. Namun demikian kelemahan DSSC menggunakan ruthenium complex adalah jumlahnya sedikit di alam dan tidak ramah lingkungan karena beracun, sehingga menjadi pertimbangan untuk diaplikasikan pada DSSC dalam skala besar.

Di lain pihak, pengetahuan tentang fotosintesis telah berkembang pesat dimana material fotosintesis seperti pikmen klorofil, karotenoid, antosianin, dan flavonoid diketahui merupakan material yang mampu menyerap cahaya secara efektif.

Lebih lanjut, Ade Ilham menjelaskan, kendala dari pembangkit listrik tenaga surya dengan memanfaatkan bahan alam (PLTS Organik) adalah efisiensinya yang masih sangat rendah. Salah satu cara meningkatkan efisiensi DSSC adalah dengan memperluas daerah serapan cahaya, ini dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi dua pikmen yang sifat spektralnya saling mendukung satu sama lain. Sehingga pada penelitian ini diharapkan dengan mengombinasikan pikmen pada kulit pisang, daun mangga dan jahe merah dapat meningkatkan efisiensi dari PLTS organik.

Secara umum telah banyak di lakukan penelitian pada berbagai jenis bahan alam, namun selain disebabkan oleh efisiensinya yang sangat rendah kurang optimalnya pengaplikasian PLTS organik juga disebabkan ketersediaan dan merupakan sumber pangan sehingga timbul kekhawatiran dapat mengganggu produksi dari bahan pangan tersebut.

“Pemanfaatan komoditas unggulan sebagai sumber daya listrik merupakan salah satu solusi yang dapat dikembangkan dalam rangka meningkatkan rasio elektrifikasi dan mewujudkan ketahanan energi nasional,” tambah Andi Anugrah Caezart atau yang akrab di sapa Nugrah.

Ketiganya juga berharap inovasi ini dapat berkontribusi nyata terhadap pemanfaatan sumber daya alam sebagai sumber energi, yang selama ini kurang termanfaatkan padahal tersedia melimpah di sekitar kita. Sehingga dapat menjadi solusi terhadap akses sumber energi.

Citizen Reporter : Wandi Janwar

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.