Energi Terbarukan, Kota Makassar Diperhadapkan Dua Opsi Teknologi

Energi Terbarukan, Kota Makassar Diperhadapkan Dua Opsi Teknologi

K
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Harapan Kota Makassar menjadi salah satu kota penghasil energi terbarukan diperhadapkan pada dua opsi teknologi, yaitu teknologi pembakaran insenerator dan pembakaran plasma. 

Pemerintah kota hingga saat ini masih menimbang kedua teknologi tersebut untuk menjadi supplyer listrik baru bagi Kota Makassar.

Teknologi Insenerator menjadi teknologi pertama yang dijejaki melalui visibilty study untuk diterapkan di Kota Makassar. Sementara teknologi plasma masih harus menunggu, apakah mampu bersaing atau tidak.

Kendati demikian, pemerintah kota telah mengisyaratkan adanya ketertarikan terhadap teknologi plasma.

Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar Imam Hud mengatakan dari hasil penjejakannya, teknologi insenerator cenderung akan memotong rantai siklus sampah yang semestinya terlebih dahulu melalui sistem bank sampah. Sebab, kebutuhan tonase yang tinggi.

Baca Juga

“Insenerator itu seolah-olah menghilangkan peran dari pada pemilahan sampah dan bank sampah. Padahal harapannya dari itu dilihat efeknya dengan ini bisa memberikan penghasilan,” kata Iman, Senin, 12 April 2021.

Meski begitu, Imam mengatakan dirinya masih ingin melihat hasil dari visibility study keduanya, untuk dijadikan perbandingan. 

Imam mengatakan asas manfaat dan keuangan daerah menjadi faktor penting dalam pemilihan nantinya. Pasalnya ada kesenjangan harga yang jauh, sehingga hal ini perlu dikaji mendalam.

“Itu akan dikaji ada visibility study yang mana yang layak. Karena ada aturannya pengelolaan sampah itu. Banyak perusahaan yang sebenarnya mau. Ini penting,” kata dia.

Sementara itu Sekretaris Tim Percepatan PLTsa Kota Makassar Saharuddin Ridwan mengatakan teknologi apapun yang akan diterapkan nantinya tidak akan menjadi masalah. 

Menurutnya, esensi dari penerapan tersebut adalah pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Hanya saja, pemerintah memiliki kriteria sendiri dengan beberapa penyesuaian termasuk dari sisi budget dan sistem yang digunakan.

“Apapun itu bisa, yang pertama itu tidak merusak lingkungan, yang kedua teknologi itu bisa selesaikan persoalan sampah,” katanya.

Soal kecenderungan minat dari pemerintah kota beberapa hal harus dipertimbangkan, seperti jenis sampah apakah kompetibel dengan teknologinya atau tidak.

“Karena memang kan teknologi plasma itu tidak ada asap yang keluar, sementara insenerator ada. Kemudian kondisi sampah seperti kadar airnya, nah itu semua harus lewat visibility study,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan insenerator cinderung membutuhkan tonase sampah yang tinggi minimal 1000 ton per hari untuk operasikan 12 megawatt listrik. 

Secara teknis kebutuhan tenaga penggerak sampah sebenarnya telah terpenuhi, dimana total tonase sampah yang dihasilkan Makassar perharinya mencapai mencapai 1000 ton lebih.

Saharuddin mengakui teknologi plasma memang cinderung lebih kompetibel dengan kondisi-kondisi saat ini. Seperti tidak menghasilkan asap yang merusak lingkungan, selain itu lahan yang dibutuhkan cinderung tidak begitu luas.

“Kalau insenerator memang butuh lahan yang luas, minimal 5 hektare. Kalau saya sebenarnya belum bisa melihat apakah ini proven atau tidak, karena intinya untuk melihat cocok atau tidak tetap lewat visibiliti study,” katanya.

Saat ini, pihaknya telah melakukan pendampingan bersama Wali Kota Makassar. Pemerintah kota masih akan menjejaki teknologi lain, selain dari insenerator tersebut. 

Selain itu, skema pembiayaan diharapkan tidak memberatkan APBD. 

“Makanya tadi jalan keluar dari kemenko perekonomian akan membuat diskusi dulu via daring dan mengundang pakar-pakar untuk bicarakan pertimbangan tersebut,” katanya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.