Mengejutkan! Ini yang Bakal Dihadapi China Jika Tiru Negara Barat yang Cabut Pembatasan Covid-19

Terkini.id, Jakarta – Mengejutkan! Ini yang bakal dihadapi China jika tiru negara Barat yang cabut pembatasan Covid-19. Merebaknya varian Covid-19 Omicron yang terdeteksi perdana di Afrika Selatan (Afsel) membuat seluruh negara waspada. Begitu pun dengan China yang bisa mengalami 630 ribu kasus Covid-19 dalam sehari bila mencabut kebijakan toleransi dengan mencabut pembatasan perjalanan.

Hal tersebut diungkapkan dalam laporan studi ahli matematika Universitas Peking yang diterbitkan di China CDC Weekly dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) China.

Seperti diilansir dari Channel News Asia, Senin 29 November 2021, laporan para ahli matematika itu mengungkapkan China tidak mampu mencabut pembatasan perjalanan tanpa vaksinasi yang lebih efisien atau perawatan khusus.

Baca Juga: Warga Datangi Kantor Disdik Parepare Tolak Vaksinasi Anak

Para ahli menggunakan data Agustus 2021 dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Spanyol, Prancis, dan Israel. Di situ, para matematikawan menilai kemungkinan-kemungkinan potensial jika China mengadopsi taktik pengendalian pandemi yang sama seperti yang dilakukan negara-negara tersebut.

Laporan itu juga menyebutkan, kasus baru harian China akan mencapai setidaknya 637.155 jika mengadopsi strategi pandemi Amerika Serikat.

Baca Juga: Target Vaksinasi Anak 6-11 Tahun, Gubernur Edy Rahmayadi Ingin Terapkan...

Di samping itu, laporan tersebut juga menyebutkan kasus harian akan mencapai 275.793 jika China mengambil pendekatan yang sama seperti Inggris, dan 454.198 jika meniru Prancis.

“Perkiraan tersebut mengungkapkan kemungkinan nyata dari wabah kolosal yang hampir pasti akan menyebabkan beban yang tidak terjangkau pada sistem medis,” demikian ungkap laporan itu.

Laporan yang disampaikan ahli matematika itu menambahkan, temuan tersebut telah menimbulkan peringatan yang jelas, untuk saat ini China tidak siap untuk menempuh strategi ‘terbuka’ yang hanya bertumpu pada hipotesis kekebalan kelompok.

Baca Juga: Target Vaksinasi Anak 6-11 Tahun, Gubernur Edy Rahmayadi Ingin Terapkan...

“Artinya, hipotesis herd immunity yang disebabkan faktor vaksinasi yang dianjurkan negara-negara Barat tertentu tidak dapat dijadikan acuan (untuk mencabut pembatasan Covid-19,” sebut ahli matematika dalam laporan itu.

Mereka juga memperingatkan, perkiraannya didasarkan pada perhitungan aritmatika dasar. Mereka mengatakan, model yang lebih canggih diperlukan untuk mempelajari evolusi pandemi jika pembatasan perjalanan dicabut.

China sendiri telah mempertahankan kebijakan toleransi nol terhadap Covid-19, dengan mengatakan pentingnya menahan kasus lokal ketika ditemukan lebih banyak gangguan akibat upaya untuk melacak, mengisolasi, dan mengobati yang terinfeksi.

Otoritas kesehatan China pada Minggu 28 November 2021 kemarin melaporkan, 23 kasus virus corona baru yang dikonfirmasi pada Kamis 25 November 2021 adalah penurunan dari 25 kasus sehari sebelumnya.

Sejauh ini, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) pada Jumat 26 November 2021 menetapkan varian Covid-19 baru yang terdeteksi di Afrika Selatan dengan sejumlah besar mutasi sebagai variant of concern (VOC) atau disebut varian yang mengkhawatirkan dari Covid-19.

Atas pengumuman dari WHO itu, mendorong beberapa negara untuk memberlakukan pembatasan perjalanan yang lebih ketat.

Bagikan