Mengenal Sejarah Lampion, Simbol Budaya Tionghoa di Seluruh Dunia

Mengenal Sejarah Lampion, Simbol Budaya Tionghoa di Seluruh Dunia

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Sejak zaman dahulu memang masyarakat Tionghoa percaya tentang adanya monster atau roh jahat yang dapat menganggu kehidupan manusia.

Menurut legenda klasik, sejarahnya juga dikaitkan dengan pengusir roh jahat raksasa yang berwujud Nian.
Itulah mengapa, lampion banyak dipasang di beberapa sudut rumah.

Legenda lainnya, saat banyak sekali binatang buas yang datang menyerbu desa dan membunuh banyak orang dewasa, anak dan bahkan bayi. 

Sehingga penduduk desa memutuskan untuk menyerang dan membunuh semua binatang tersebut secara bersama-sama. 

Sialnya dalam perburuhan tersebut seekor Angsa Suci kehilangan nyawanya oleh penduduk desa sehingga membuat Kaisar Langit marah dan memutuskan untuk menghukum seluruh desa dengan mengirimkan badai api. 

Seorang Dewi Langit yang baik kemudian merasa kasihan kepada penduduk yang tidak bersalah akan ikut menerima hukuman dari Kaisar Langit dan memutuskan untuk turun dari langit dan memberitahukan hal tersebut kepada kepala desa dan mengusulkan sebuah rencana untuk menyalakan secara bersama-sama lentera disekeliling rumah serta semua taman dan halaman bersamaan dengan penyalaan petasan dan kembang api pada tanggal 14, 15 serta 16 malam di bulan pertama Imlek, sehingga Kaisar langit melihat bahwa desa tersebut sudah mendapatkan balasan dari apa yang mereka lakukan. 

Sejak saat itu kemudian ini menjadi festival lantera China didesa tersebut dan merambah keseluruh China hingga hari ini.

Kebiasaan memasangnya juga sudah berlangsung secara turun temurun. 
Bentuknya secara konvensional adalah bulat dan dilengkapi rangka bambu.

Seiring dengan perkembangan zaman, ada juga bentuk-bentuknya yang kian bervariasi. Contoh variasinya yaitu lampion dengan rangka logam dan bisa berfungsi menjadi lampu meja yang bentuknya bunga teratai kuncup.

Bukan hanya bentuk teratai, tapi sebenarnya juga masih banyak lagi kreasinya yang memeriahkan jalanan saat tahun baru atau dipasang di depan rumah.

Bukan hanya di negeri asalnya, bahkan sampai ke kota-kota di Indonesia seperti di Solo dan Semarang. 

Asal mula festival lampion sendiri mulai dikenal sejak era Dinasti Tang tahun 618-907 Masehi.

Pada era Dinasti Tang itulah lampion dipasang sebagai dekorasi untuk memeriahkan acara budaya. Sampai akhirnya dekorasi yang unik tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Tionghoa.

Cahayanya yang berwarna merah punya makna sendiri yang filosofis. Warna merah menyala adalah simbol untuk harapan bahwa pada tahun baru dipenuhi dengan banyak rezeki, keberuntungan, dan kebahagiaan.

(David Gozal)

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.