Mengenang Kisah Klasik Ramang

Hari ini 24 April, 95 tahun silam, sosok mungil PSM Makassar yang kemudian melegenda terlahir ke dunia. Ramang.

Cerita manis buah lolosnya Timnas Indonesia ke Olimpiade Melbourne 1956, menjadi alasan FIFA mengakui andil kehebatannya dengan judul “Orang Indonesia yang Menginspirasi Puncak Sukses Tahun 1950-an (Indonesian who inspired ’50s meridian).

Bilangan takdir membawanya bertemu Lev Yashin, kiper legendaris dunia asal Rusia dan membuat kiper terbaik sepanjang masa itu dibuat kelimpungan.

Ia dikenal sebagai salah satu legenda terbesar sepakbola Indonesia. Sosoknya termanifestasi dalam slogan dan julukan untuk PSM Makassar. Ia terawetkan karena prestasinya bersama PSM Makassar dan juga keberadaan patung replika dirinya di Lapangan Karebosi (meski kini sudah dibongkar).

Itulah Ramang, oleh FIFA diakui sebagai sosok yang menginspirasi puncak kejayaan sepakbola Indonesia di tahun 1950-an.

Hari ini, Rabu (24/4) menjadi penanda bagi Andi Ramang yang lahir di Barru, Sulawesi Selatan. Ayahnya, Nyo’lo, ajudan Raja Gowa Djongdjong Karaenta Lembangparang,  seorang pemain sepakraga yang ternama kala itu.

Tahun kelahiran Ramang dari beberapa sumber bacaan, ada yang mencatat 1924 dan 1928. Namun sebagai besar sumber menuliskan 1924. Ia memang sudah tiada sejak 1987 silam, namun namanya akan selalu dikenang oleh para penggemar sejati sepakbola Indonesia, terutama bagi fans PSM.

Pria bernama lengkap Andi Anwar Ramang memang dikenal sebagai striker kelas atas Indonesia pada dekade 40-an akhir hingga 60-an. Karier Ramang di lapangan hijau dimulai tahun 1943 di Barru, kemudian pindah ke Makassar dan tahun 1949 masuk PERSIS.

Saat bermain bola, mulanya berposisi sebagai half back, kemudian berpindah poros halang dan akhirnya jadi sentervoor (pusat penyerangan). Diapit oleh Suwardhy dan Noorsalam, menjadi trio Persis kala itu.

Tahun 1950 Ramang direbut oleh PSM dan membentuk trio Mamang – Ramang – Abd. Fattah, yang untuk pertama kalinya melawat ke Bandung mengikuti seleksi Asiade I di India.

Ramang bersinar terang tahun 1953

Bintang Ramang mulai bersinar terang di tahun 1953, saat PSSI membawanya ikut tour Hongkong, Bangkok, dan Manila. Dalam 8 pertandingan, Ramang dinobatkan sebagai “top-scorer” dengan mencetak 19 gol. Dunia sepakbola Indonesia saat itu dibuat gempar.

Para wartawan surat kabar di Hongkong menggelar Ramang sebagai “goalgetter” yang terbaik di Asia ketika itu. Tak urung sejumlah pengamat sepakbola sedunia melemparkan matanya ke Indonesia karena reputasi Ramang selama Hongkong tour.

Sekembali Ramang dari perlawatan, dia memperkuat kesebelasan Sulsel dalam PON III Medan. Stadion Teladan, Medan yang berbunga manusia memuja Ramang dengan permainannya yang menakjubkan. Memiliki tendangan sangat keras, diberkahi kaki kanan dan kiri yang sama-sama hidup, gemar melakukan tembakan salto, dan punya kecepatan di atas rata-rata, tak pelak menjadikan Ramang sebagai pesepakbola nasional terbaik di eranya.

Ia juga begitu terikat dengan PSM Makassar, sampai-sampai julukan klub sebagai Pasukan Ramang terinspirasi dari namanya. Sebab, hampir seluruh kariernya ia habiskan bersama tim kebanggaan kota Makassar itu. Terbagi dalam dua periode (1947-1960 dan 1962-1968), Ramang mampu mempersembahkan dua gelar perserikatan kepada Juku Eja.

Namun, yang paling fenomenal dari pemilik tinggi 168 cm dan berat 64 kg adalah cerita manisnya bersama timnas Indonesia. FIFA bahkan pernah mengangkat kisah kehebatan Ramang ini secara khusus dalam situs resmi mereka dalam peringatan ke-25 tahun kematiannya pada 26 September 2012 lalu. Dalam dokumen resmi FIFA, namanya dikenal sebagai Rusli Ramang.

Diberi judul “Orang Indonesia yang Menginspirasi Puncak Sukses Tahun 1950-an (Indonesian who inspired ’50s meridian), FIFA memusatkan kegemilangan Ramang ketika memperkuat Tim Merah Putih di Olimpiade Melbourne 1956.

Bersama Saelan, nama Ramang bertambah harum diseluruh dunia. Apalagi kesebelasan Indonesia berhasil main seri 0-0 selama 120 menit dengan kesebelasan Rusia, yang ternyata keluar sebagai juara Olympiade XVI. Ajang tersebut dinilai sebagai prestasi paling mentereng timnas Indonesia di level internasional setelah menjadi negara Asia pertama yang tampil di Piala Dunia 1938 dengan masih bernama Hindia-Belanda.

Momen pertandingan tersebut menjadi paling berkesan, bukan saja karena Indonesia berhasil menahan imbang tim kuat Uni Soviet di babak perempat-final ajang Olimpiade tersebut. Ibarat kurcaci melawan sekumpulan bajak laut, Ramang mencuat diri sebagai kurcaci paling menonjol yang membuat Uni Soviet kalang kabut dan bahkan hampir menjebol kiper Lev Yashin, yang kini dikenang sebagai kiper terhebat sepanjang masa.

“Bek-bek Uni Soviet yang bertubuh raksasa langsung terbangun saat Ramang, penyerang lubang bertubuh kecil, melewati dua pemain dan memaksa Yashin melakukan beberapa kali penyelamatan. Pada menit ke-84, pemain berusia 32 tahun itu [Ramang] hampir saja membuat Indonesia unggul, yang bakal menjadi puncak kejutan, andai saja tendangannya tidak ditahan oleh pria yang dikenal luas sebagai kiper terhebat dalam sejarah sepakbola,” demikian tulis FIFA.

Ramang sendiri menjelaskan, ia seharusnya bisa menjebol gawang Yashin dalam laga yang hingga kini dikenang bak cerita dongeng oleh masyarakat Indonesia. “Ketika itu saya hampir mencetak gol, tapi baju saya ditarik dari belakang oleh pemain lawan,” tuturnya. Jika ia ditanya mengenai pertandingan paling berkesan, di sejumlah media ia menyebut secara spontan pertandingan ini.

Setelah Uni Soviet tahu siapa sosok sesungguhnya di balik nomor punggung 11 timnas Indonesia, mereka lantas memberikan penjagaan di partai ulangan. Pada akhirnya, Indonesia, yang saat itu dilatih pelatih legendaris Antun Pogacnik, terpaksa takluk 4-0 sehingga gagal melaju ke semi-final.

Macan Asia

Status Macan Asia yang disematkan kepada Indonesia sebenarnya tak bisa dilepaskan dari Ramang. Dalam sebuah tur ke Asia Timur pada tahun 1953, Indonesia mampu memenangkan lima dari enam laga yang dipertandingkan, kalah sekali dari Korea Selatan. Menariknya, Ramang mencetak 19 gol dari total 25 gol Indonesia di keenam pertandingan tersebut!

Kisah sukses Ramang dan timnas Indonesia tak berhenti di situ. Ia hampir membawa Indonesia ke Piala Dunia 1958 setelah dua golnya menyingkirkan Tiongkok dengan skor agregat 4-3 di babak kualifikasi.

Indonesia kemudian melaju ke putaran kedua kualifikasi dan tergabung dengan Sudan, Israel, dan Mesir. Sayang, Indonesia memilih mengundurkan diri lantaran enggan bertanding melawan Israel karena alasan politik. Andai menjadi juara grup, Ramang dkk. bakal lolos ke Swedia untuk melakoni debut pertama Piala Dunia dengan nama Indonesia.

Ramang juga turut menginspirasi kesuksesan Indonesia menahan imbang Jerman Timur 2-2 dalam sebuah laga persahabatan di Jakarta pada 1959. Sebelum sukses mengoleksi 20 gol dalam Turnamen Merdeka 1960 di mana Indonesia muncul sebagai juara ketiga.

Ramang jatuh miskin

Sayang, kisah mengesankan Ramang di dunia sepakbola tidak semanis nasibnya di kehidupan sehari-hari. Ya, meski punya skill mumpuni, Ramang hidup di sebuah era di mana sepakbola bukanlah sebuah pilihan hidup menjanjikan.

Ia sempat menyebut pesepakbola tidak lebih berharga dari kuda pacuan. “Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah bertanding, menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya dipelihara kalau ada panggilan. Sesudah itu tak ada apa-apa lagi,” katanya.

Akibatnya, jeratan kemiskinan tak mampu ia tampik. Bekerja serabutan dengan gaji seadanya ia lakukan demi menyambung hidup keluarganya. Sempat bekerja di Kantor PU Daerah III di Makassar. Kasus suap dalam Skandal Senayan 1962 yang menyeret namanya menggambarkan betapa pesepakbola seperti Ramang kurang diapresiasi sebagai aset nasional.

Sejak kasus itu, Ramang dilarang bermain untuk timnas seumur hidup dan nasibnya terus terpuruk. Ia sempat berkarier menjadi pelatih PSM dan Persipal Palu, namun tersingkir secara perlahan akibat tak memiliki sertifikat kepelatihan.

Ramang meninggal dunia di usia 59 tahun akibat penyakit paru-paru tanpa bisa berobat di rumah sakit akibat kekurangan biaya. Ironis memang, namun itulah suka-duka Ramang yang kisahnya akan terus dikenang.

Namun Ramang sudah berketetapan hati menutup kisah masa lampaunya itu. “Buat apa mengenang masa-masa seperti itu sementara orang lebih menghargai kuda pacuan?” katanya.

Kekecewaan itu tampaknya begitu berat merundungnya, hingga ia seringkali sengaja bersembunyi hanya untuk mengelak wawancara dengan seorang wartawan. Meski banyak dorongan dan tawaran buat menulis biografinya, ia selalu menggelengkan kepala.

Dulu katanya, memang pernah ada seseorang yang menerbitkan riwayat hidupnya. Tapi ia sendiri sudah lupa judul buku dan nama penulisnya.

Betapa pun juga, figur Ramang, mungkin adalah “mithos” sepakbola Indonesia. Disamping rambu peringatan : “Djagalah Ramang Indonesia sebagai warganegara terhormat dengan jasanya yang besar, seorang olahragawan alam (nature-sportman) yang pernah menaikkan martabat negara dan bangsa ditengah forum International.

Drama Pasukan Ramang di lapangan hijau

psm makassar
PSM Makassar

Lalu, bagaimana sesungguhnya drama yang terjadi dilapangan hijau dan gambaran nyata PSM Makassar saat bertanding bersama Ramang dkk.

Berikut salah satu sajian serangan khusus PSM saat bertanding:

Bola dari genggaman kiper Tjong dilemparkan kepada bek kanan Sampara, dengan operan pendek bola ke bek kiri, Rairatu, lalu meng-expreskan bola kepada Itjing yang menempati gelandang kiri.

Itjing mulai mengolah bola itu ke depan sektor kiri yang tiba-tiba mendapat serangan dari gelandang kanan musuh, tapi dari tadi gerakan Simon telah mengikuti Itjing dan menunggu trekbal yang langsung diumpankan kepada kanan dalam Suwardhy yang menentukan arah serangan selanjutnya.

Si kulit bundar dipermainkan sebentar oleh Suwardhy dengan kerjasama Mannan disayap kanan yang melambungkan bola ke kiri pada Kurnia yang lagi standby. Perhatian pemain belakang musuh sudah mulai terbagi tiga (kiri-tengah-kanan).

Tendangan efek Kurnia yang menyusur masuk ke garis penalti, diterima oleh Noorsalam dengan tendangan kait ke Ramang. Bola disundul mendatar oleh Ramang menuju Suwadhy untuk digodok kembali dimana gelandang kanan Idris melaju mendekat Suwardhy yang segera menyodorkan bola kepada Mannan yang telah masuk kedalam (pada waktu inilah Ramang melakukan pergantian dengan Suwardhy) yang mengacaukan pertahanan musuh dan tiba-tiba bola dikuasai kembali Suwardhy yang kini menempati sentervoor kemudian menggeser ke kiri beberapa langkah dengan gerak tipunya yang manis dengan maksud menarik perhatian bek musuh ke ruang kanan gawang yang memungkinkan Ramang terlepas dari penjagaan bek kiri musuh.

Suwardhy kirim soloran ke kaki emas Ramang yang berdiri bebas. Apa yang terjadi sekarang ? Gol tercipta pemirsa. Dengan tendangan ground-shot Ramang yang menggeledek dan bersarang ke sudut kanan gawang lawan.

Pada akhirnya, Suatu malam pada tahun 1981, sehabis melatih anak-anak PSM Makassar, Ramang pulang dengan pakaian basah dan membuatnya sakit. Enam tahun ia menderita sakit di paru-parunya tanpa bisa berobat ke rumah sakit karena kekurangan biaya.

Pada tanggal 26/9/1987, di usia 59 tahun, mantan pemain sepak bola legendaris itu meninggal dunia di rumahnya yang sangat sederhana yang ia huni bersama anak, menantu dan cucunya yang semuanya berjumlah 19 orang. Ramang dimakamkan di TPU Panaikang.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Bola

Ramadan, Paul Pogba Pilih Berangkat Umrah

Terkini.id, Jakarta - Pemain muslim asal Prancis yang sekarang bermain di Manchester United, Paul Pogba, memilih mengisi waktu Ramadan dengan melakukan ibadah umrah.Pogba berangkat
Bola

Babak Kedua, PSM Makassar Bantai Lao Toyota 3-0

Terkini.id, Makassar - PSM Makassar menjalani pertandingan terakhirnya dalam ajang Piala AFC 2019 menghadapi tuan rumah Lao Toyota FC. Kedua tim bertanding di New Laos National Stadium, Vientiane,