Menghitung Saham Politik Muhammadiyah

ALIANSI Pencerah Indonesia (API) yang mengatasnamakan eksponen Muhammadiyah mengklaim siap menyumbang 25,7 juta suara untuk paket capres-cawapres Prabowo-Sandi. Tak hanya itu, kelompok ini juga menyebut bahwa 90% lebih warga Muhammadiyah dan Aisyiah akan mendukung pasangan 02 di pilpres 2019 mendatang.

Benarkah demikian? Dari mana angka 25,7 juta suara itu muncul? Mengapa klaim 90% lebih warga Muhammadiyah mendukung Prabowo-Sandi sangat berbeda dengan hasil pembacaan berbagai lembaga survei terkemuka?

Saya ingin mengajukan tiga argumen untuk membantah beberapa klaim fantastis di atas.

Pertama, API tidak bisa mengatasnamakan Muhammadiyah dan tidak mewakili suara warga Muhammadiyah-Aisyiah secara keseluruhan. Sikap politik Muhammadiyah dalam Pilpres 2019 sangat jelas bahwa, sesuai khittah-nya, ormas ini tidak berafiliasi pada calon dan partai politik manapun. Sebagai organisasi, Muhammdiyah tidak berpolitik, tetapi membolehkan warganya untuk menyatakan ekspresi politik masing-masing.

Dalam pesannya terkait Pilpres 2019, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa sikap politik warga Muhammadiyah pun beragam. Maka jika ada tokoh, elit, aktivis Muhammadiyah yang ikut terlibat dalam hiruk-pikuk pesta demokrasi ini, semua itu tak bisa dinisbatkan kepada Muhammadiyah sebagai organisasi, tetapi keterlibatan individu saja.

Pada Agustus 2018, Haedar Nashir menulis, “Bagi Muhammadiyah tentu kompetisi politik itu juga tidak terhindarkan karena gerakan Islam ini menjadi bagian dari komponen bangsa sekaligus hidup menyatu dengan masyarakat. Warga Muhammadiyah akan menjadi lahan bagi kepentingan politik manapun dan itu alamiah dalam proses politik bagi organisasi bermassa besar seperti ini. Sikap politik warga Muhammadiyah pun beragam, satu sama lain memiliki dukungannya sendiri. Akan ada juga yang aktif menjadi relawan maupun tim pemenangan.” (Sumber: https://news.detik.com/berita/d-4181109/pesan-haedar-nashir-untuk-warga-muhammadiyah-soal-pemilu-2019)

Kedua, kalkulasi mengenai 25,7 juta suara memerlukan penjelasan yang lebih memadai. Apa dasar yang dipakai untuk memunculkan angka itu? Karena API mengatasnamakan eksponen Muhammadiyah, apakah 25,7 juta suara diambil dari perkiraan perhitungan warga Muhammadiyah?

Jika ya, angka itu patut dipersoalkan. Sejauh ini belum ada data resmi berapa jumlah warga Muhammadiyah. Kata ‘warga’ di sini mengacu pada anggota Muhammadiyah yang memiliki keanggotaan resmi dan simpatisannya yang pasti berjumlah lebih banyak. Berdasarkan survei LSI, dari total sekitar 87,18% pendukuk beragama Islam di Indonesia, 36,5% mengaku berafiliasi dengan NU, sementara hanya 5,4% yang mengaku berafiliasi dengan Muhammadiyah.

Berdasarkan hasil sensus terakhir yang dilakukan BPS, Bappenas memperkirakan total jumlah penduduk di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 266,91 juta jiwa. Artinya perkiraan total populasi muslim adalah 232,69 juta. Jika data ini yang dipakai, dengan menggunakan persentase yang dikeluarkan LSI, jumlah warga Muhammadiyah hanya 12,56 juta jiwa saja?

Katakanlah kalkulasi di atas terlalu pesimistis untuk menilai jumlah massa Muhammadiyah yang besar. Maka kita bisa memakai perhitungan Alvara Research Center yang lebih optimistis, di mana Muhammadiyah disebutkan mengkavling 14,9% saham dari total populasi Muslim di Indonesia. Jika angka ini yang dijadikan acuan, dua tahun lalu, jumlah warga Muhammadiyah diperkirakan hanya 22,46 juta jiwa. Dengan perkiraan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun, sesuai data BKKBN, artinya tahun ini berjumlah 23,13 juta jiwa.

Lantas, dari mana angka 25,7 juta yang disebutkan API? Belum lagi jika kita melihat data perkiraan-perkiraan di atas secara lebih rasional, apakah semuanya punya hak pilih? Apakah semuanya mendukung Prabowo-Sandi?

Inilah yang membuat argumen ketiga menjadi penting. Klaim 90% warga Muhammadiyah akan mendukung Prabowo-Sandi sungguh berlebihan. Bahkan angka itu lebih besar dari dukungan alumni 212 terhadap Prabowo-Sandi, hampir menyamai dukungan FPI kepada pasangan 02 yang mencapai 100%.

Jika kita memakai data dari lembaga survei yang lebih kredibel. Misalnya yang pernah dilakukan Populi Center, dukungan warga Muhammadiyah terhadap Prabowo-Sandi pada awal 2018 diperkirakan sebesar 72,1%. Namun, dalam survei yang dilakukan LSI 5-12 Desember 2018, seiring opini publik yang terus berubah tentang pasangan capres-cawapres, dukungan itu tinggal 57,8% saja (Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2018/12/19/18463681/survei-lsi-nu-dan-muhammadiyah-cenderung-dukung-jokowi-maruf)

Jika kita pakai hasil survei LSI, juga Litbang Kompas beberapa waktu lalu, saat ini justru warga Muhammadiyah yang mendukung Jokowi-Ma’ruf diperkirakan sebesar 42,2%. Dengan berbagai gerakan kerelawanan yang berasal dari eksponen Muhammadiyah pendukung Jokowi-Ma’ruf, ditambah berbagai momen yang menunjukkan kedekatan Jokowi dan Muhammadiyah, angka tersebut diperkirakan terus naik. Bahkan, banyak kalangan menyebut pergeseran dukungan bisa berbalik. Survei Populi Center Nasional bahkan menyebut pergeseran ini bisa mencapai 72% (Sumber: https://www.publica-news.com/berita/pemilu/2019/02/07/26640/lebih-72-persen-warga-muhammadiyah-pilih-jokowimaruf.html)

Ala kulli hal, angka-angka itu sebenarnya bisa terus diperdebatkan. Hari ini yang lebih penting justru adalah melihat capres-cawapres mana yang paling relevan dan mencerminkan gerak perjuangan Muhammadiyah. Capres-cawapres mana yang terbukti membantu dan mendorong Muhammadiyah lebih besar dan maju. Itulah yang akan mendapatkan simpati dan dukungan warga Muhammadiyah yang “berjuta-juta” itu.

Kini, mari kita kembali kepada khittah, kita berpolitik secara lebih etis, beradab, dan saling menghormati. Sebagai warga Muhammadiyah, kita perlu memberi warna yang baik pada kontestasi politik kali ini. Saya ingin menutup tulisan ini dengan nasihat Ketua Umum PP Muhammadiyah yang bagian lainnya saya kutip di atas:

“Ingatlah kontestasi politik lima tahunan itu hal yang rutin dan normal, jangan dibawa menjadi serba gawat darurat. Delapan bulan ke depan waktu masih panjang untuk mengikuti proses Pemilu 2019 itu, jangan menjadi ajang pertarungan politik yang keras dan merusakkan bangunan persyarikatan, keumatan, dan kebangsaan. Kalau ada yang keras dan berlebihan, diingatkan secara baik, bermodal semangat berwasiat dengan baik dan sabar. Jauhi sikap merasa paling benar dalam berpolitik.”

Tabik!

FAHD PAHDEPIE

Eksponen muda Muhammadiyah. Penggagas gerakan #BerdiriBersamaJokowi

Berita Terkait
Komentar
Terkini