Menlu AS Mik Pompoeo Dukung Trump Tolak Kemenangan Biden dalam Pilpres

Menlu AS

Terkini.id, Washington – Trump bersama sejumlah pendukungnya tidak mau mengakui hasil Pilpres yang memenangkan Jeo Biden menjadi Presiden Amerika Serikat.

Selain Trump, rupanya Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ( AS) Mike Pompeo juga ikut menolak mengakui kemenangan Joe Biden dalam pilpres AS 2020.

Loyalis Trump itu meyakini bahwa Presiden AS Donald Trump bakal tetap mempertahankan jabatannya untuk periode kedua.

Mengutip dari The New Daily, Pompeo mengklaim akan ada transisi pemerintahan yang mulus untuk pemerintahan Trump yang kedua.

Berbicara dalam konferseni pers di Kementerian Luar Negeri AS pada Selasa 10 November 2020, Pompeo mengungkapkan jika setiap suara yang sah benar-benar dihitung, maka Trump yang akan keluar sebagai pemenangnya.

Menarik untuk Anda:

“Dunia sedang menyaksikan apa yang terjadi,” kata Pompeo.

“Kami akan menghitung semua suara. Saat prosesnya selesai, mereka akan menjadi pemilih terpilih. Ada proses, Konstitusi menjabarkannya dengan cukup jelas,” sambungnya.

Di sisi lain, Biden terkekeh ketika ditanya tentang pernyataan dari Pompeo.

“Saya pikir seluruh Partai Republik telah ditempatkan dalam posisi – dengan beberapa pengecualian penting – diintimidasi secara ringan oleh presiden yang sedang duduk, tetapi hanya ada satu presiden pada satu waktu,” kata Biden.

Dalam pidatonya di Delaware, Selasa, Biden mengatakan bahwa timnya sedang mendorong pembentukan pemerintahan apa pun yang terjadi.

Hal itu dipersiapkannya agar bisa langsung “tancap gas” setelah resmi dilantik menjadi Presiden AS pada 20 Januari 2021.

“Kami bergerak bersama, secara konsisten, menyusun administrasi kami, Gedung Putih, dan meninjau siapa yang akan kami pilih untuk posisi kabinet, dan tidak ada yang akan menghentikan itu,” kata Biden sebagaimana dilansir dari ABC News.

Dia juga mengatakan bahwa Trump memalukan karena belum mengakui hasil penghitungan suara pilpres AS.

Biden dilaporkan meraup lebih dari 270 electoral college (suara elektoral) yang dibutuhkan untuk melenggang ke Gedung Putih dengan memenangi Pennsylvania pada Sabtu 7 November 2020.

Kemenangan di Pennsylvania memberikan gambaran kemenangan yang jelas bagi Biden setelah penghitungan surat suara yang menegangkan selama empat hari.

Klaim Terjadi Kecurangan Pemilu

Trump dan para sekutunya telah berulang kali membuat klaim tidak berdasar bahwa pemilu AS telah rusak karena telah dicurangi.

Jaksa Agung William Barr dan Pemimpin Mayoritas Partai Republik di Senat AS Mitch McConnell telah mengisyaratkan bahwa mereka mendukung hak Trump untuk mengajukan gugatan hukum atas hasil tersebut di beberapa negara bagian, termasuk Pennsylvania.

Pada Senin 9 November 2020 Barr memerintahkan jaksa penuntut federal untuk menyelidiki dugaan penyimpangan pemilih.

Perintah itu justru memicu pengunduran diri seorang jaksa penuntut senior di Kementerian Kehakiman AS.

Tetapi sejumlah pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, telah memberi selamat kepada Biden melalui sambungan telepon dan berjanji untuk bekerja sama dengannya.

Baca juga: Sempat Dihentikan Trump, Biden Akan Lanjutkan Tradisi Anjing Negara di Gedung Putih

Johnson, seorang konservatif seperti Trump dan sering disamakan dengan gaya Trump, mengatakan dia sudah dengan Biden pada Selasa (10/11/2020) melalui telepon.

“Saya berharap dapat memperkuat kemitraan antara negara kami dan bekerja sama dengannya dalam prioritas bersama kami dari menangani perubahan iklim, hingga mempromosikan demokrasi dan membangun kembali (dunia) yang lebih baik dari pandemi,” tulisnya di Twitter.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Angela Merkel juga mengucapkan selamat kepada Biden.

Belum diketahui apakah Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, telah berbicara dengan mantan Wakil Presiden AS tersebut.

Trump tidak muncul di depan publik sejak Sabtu meskipun dia aktif di Twitter. Dia diperkirakan akan mengunjungi Pemakaman Nasional Arlington pada Rabu (11/11/2020).

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Di Jepang, Jumlah Orang Meninggal karena Bunuh Diri Lebih Banyak dari Covid-19

Presiden Berhentikan Menteri Mark Esper, Ini Penggantinya

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar