Menyambut Bebasnya Mustagfir ‘Moses’ Sabry: Anak Kampung yang Pantang Berserah

Politisi Mustagfir Sabry Moses resmi hirup udara segar pada Rabu 7 Agustus 2019.(ist)

Tulisan lama ini dirilis ulang menyambut putusan MA atas pembebasan hukuman bui Moses, meski tak pernah bersalah.

Anak Kampung yang Pantang Berserah

SUATU kali, saya menulis catatan ringan di beranda facebook, liku perjalanan masa kanak-kanak saya lalui hingga tamat sekolah dasar di kampung, lalu memilih berpisah otangtua untuk bersekolah menengah hingga sarjana, berkeluarga dan bermukim selamanya di Makassar. Catatan ringan itu ikut dikomentari seorang anak muda yang saya kenal, bahkan sangat dekat.

“Terharu membacanya, juga menyadarkan kondisi saya lalui masa muda di kampung. Senior mending, kampungnya di tepi jalan poros provinsi, tak jauh dari ibukota kabupaten. Saya lain, kampung saya di pelosok terpencil. Tiap hari, pergi pulang sekolah, berjalan kaki cukup jauh, sesekali naik sepeda. Mengayuh sekuat tenaga untuk melalui sekian bukit. Jika hari pasar, kami ikut tumpangan mobil angkutan unggas dan sayur jualan pedagang di pasar”, lanjutnya.

Komentar ditulisnya, benar. Kami seasal daerah yang sama. Benar, kampungnya nun jauh berada di pelosok kampung terpencil – sekira 30-an km jaraknya dari jalan protokol provinsi – di lereng pegunungan Latimojong, satu diantara gunung tertinggi di Sulsel. Untuk sampai ke kampungnya, mesti melintasi sekian bukit, menyeberangi sekian anak sungai tanpa jembatan. Pun jika jembatan ada, paling berangka batang kelapa.

***

Suatu kali ia memoderatori saya, saat membekali pengurus KNPI Makassar. Dari meja sidang, saya iseng mencandai di hadapan rekannya sesama anak muda. “Asal kalian tahu, moderator di samping saya ini berasal dari pelosok kampung terpencil. Sebab itu, saya tak habis fikir, kira-kira dari mana ia tahu ada organisasi bernama KNPI”. Sontak seluruh hadirin terbahak. Juga dirinya.

Seberani itu saya mencandai, lantaran berdua kami sangatlah dekat. Meski tak intens bersua, tapi mungkin karena rasa sekampung, senasib menjajak hidup di kota, tanpa rencana beratur, kami seringkali bersua. Berbincang banyak soal dan masalah. Tepatnya, bersua saling berbagi dalam mengadu nasib. Tentu saja, juga tak jauh dari urusan berbagi nasi.

Saya ingat suatu kali, saat saya masih mengemban tugas Sekretaris KNPI Sulsel, sekonyong ia datang menemui saya. Hebatnya, khusus datang untuk menyampaikan kritik. Ia mengajukan protes tanpa tedeng aling-aling. Dengan nada tegas, ia menyampaikan protes, dalam banyak hal, saya tak boleh bicara terbuka. Bahkan dinilai seringkali telanjang. “Itu berisiko senior, dalam posisi senior itu bukan siapa-siapa di kota ini”, pintanya dengan cara menekan.

***

Tak hanya sekali ia mengajukan kritik. Berulang tiada terbilang. Keras tapi tak kasar. Mungkin akibat tiap kali ia mengkritik, saya selalu mengiyakan, justru dilihatnya peluang. Tak soal, pun sebaliknya – sebagai kakak darinya – juga tiada terbilang saya mengkritiknya. Bahkan lebih dari itu, memarahinya. Pun ia juga selalu memilih diam. Itulah kodrat persaudaraan tak berbiologis, tapi beridiologis. Ketat bersesama.

Meski sama berstatus “gelandangan” di kota, tapi separah apapun nasib, sekeras apapun hidup di hadapi, kami bertekad. “Jangan pernah menjual harga untuk diri selain karena kompetensi”. Entah untuk sebuah posisi atau entah isi perut. Andai jika mati karena tak ada makan, tanggung lebih baik jadi “pencuri” sebagai profesi, sebab sekejamnya hidup, tak ada manusia mati hanya karena tak makan, terkecuali ia malas, atau karena gengsi.

Sebegitu kira-kira prinsip kami selalu saling mengingatkan. Bahwa meski hidup benar-benar telah terseok, tetap saja berupaya optimistik, walau memang rasanya telah pahit benar. Dan untuk memperluas wawasan, kita perlu banyak belajar pada siapapun. Banyak terlibat di organisasi guna memperluas perkawanan dan jaringan. Mau tak mau, dua soal itu mesti dijalani dengan sungguh. Konsokuensi kita berasal dari kampung dengan berpergaulan minim.

***

Suatu kali, bertut-turut, pagi sore, saya mampir di satu kedai kopi. Tiap kali datang, tiap kali pula saya melihat ia berada di situ bermain catur. Bisa diduga, sejak pagi hingga jelang larut malam, ia ada di situ. Nada keras saya menegur. “De, meski kita berstatus pengangguran, tapi jika sejak pagi hingga larut malam berada di kedai kopi, hina kita di mata publik. Pergilah cari aktifitas lain yang produktif. Apa saja yang penting halal”. Bentak saya.

Entah karena ia tak senang teguran keras saya, sejak itu cukup lama ia menghilang. Kami tak pernah lagi bersua. Tapi saat masa kampanye Pemilu 2009, ia masih berleleh peluh, cucur keringat membasahi kemejanya, ia tergopoh menemui saya di kedai kopi yang sama. Sehabis menyandarkan motor butut sisa warisan masa kuliah, ia menjelaskan jika dirinya baru saja pulang berkeliling menggalang suara. Suara apa? tanya saya diliput rasa bingung. “Sebagai Caleg kakanda” jelasnya.

Kamu Caleg dimana? Meski berkendara partai politik yang baru, tapi penuh gelora ia coba meyaqinkan saya, jika Pileg kali ini, memastikan dirinya lolos meraih satu kursi dari 45 kursi DPRD Kota Makassar. Namun, apa dalih disampaikan untuk coba meyaqinkan, saya tetap saja kukuh tak mau percaya. Malah justru mencibirnya.

Dalih apa dia dari kampung terpencil. Kapasitas apa ia miliki untuk bertaruh di Makassar, kota yang majemuk ini. Dan dari mana ia “mencuri ongkos politik” yang mahal. Siapa pemilih bakal percaya dirinya yang hanya berkendara motor butut. “De, mending kamu urus dulu biaya makanmu sehari-hari. Daripada kamu terus-terusan bermimpi di siang bolong untuk menjadi Anggota DPRD Makassar”, kata saya meremehkan.

Lantaran sama-sama kami bejibaku berburu suara dukungan Pileg – saya memilih dapil di kampung untuk kursi DPRD Provinsi, sementara dia memilih dapil uktuk kursi DPRD Makassar – berbulan-bulan kami tak saling sua. Pada waktunya, meski kami hanya bermodal pantang menyerah, kelak takdir Tuhan berkata lain, sama-sama kami direstui Allah SWT berhak menduduki kursi lembaga legislatif di tingkatan berbeda, tapi sama berkantor di Makassar.

***

Sesama wakil rakyat, berulangkali kami janji mengopi. Saling mengingatkan tekad agar tetap membara. Juga seringkali tertawa terbahak bersama, menertawai diri. Sebab urusan melunasi kopi misalnya, nasib tak separah dulu lagi, dimana seringkali ikut menumpang nota pembayaran gelas pengunjung lain dengan modal perkawanan. Dan sama sekali bukan beralas belas kasih.

Kali waktu, di kedai kopi saya sampaikan. Status “terhormat” telah kamu renggut. Disandang saat usia muda, namun satu hal, kamu masih bujang. Berbekal status itu, saya minta kamu segera menikah. Dalih saya, meminang calon istri dengan status Anggota DPRD, pasti beda. Tiap calon mertua, bakal ikhlas melepas masa keperawanan putrinya dipersunting seorang legislator. “Maka menikalah segera, saat kursi DPRD masih kau duduki, kelasnya berbeda jika kursi itu tak lagi kau duduki”. Ia mengacung dua jempol, penanda jika ia full setuju.

Setelahnya, ia lama menghilang. Dan malam kemarin, penuh haru dan bangga, saya menyaksikannya duduk bersanding di pelaminan. Bersama seorang perempuan cantik. Ia berpesta di hotel berbintang tinggi. Satu di antara tiga tempat pernikahan termewah di Makassar saat ini. Di atas pelaminan, iseng saya membisiki, “De, jika melihat kampung kelahiranmu nun jauh di pelosok kampung. Sungguh, saya tak habis fikir, kira-kira dari mana kamu mengenal tempat pernikahan semewah ini?”.

Mendengar bisikan saya, di balik riuh tetamu yang dominan pejabat daerah, di atas pelaminan, secara tak sadar ia tertawa ngakak, sebagaimana ciri khasnya. Istrinya ikut melirik tersenyum manis dan manja, meski tak tahu apa duduk soal ditertawai suaminya. “Inilah buah perjuangan anak kampung pantang berserah kakandaku” kilahnya.

Yes, I Like. Selamat menempuh hidup baru dindaku Mustagfir “Moses” Sabry.

Makassar, 22 Pebruari 2011

Armin Mustamin Toputiri

 

Komentar
Terkini
Opini

Saat Jabatan Menteri Tak Lagi Berkilau

PERNAH ada masa, presiden di Indonesia tak pernah berganti. Saat itu, mimpi tertinggi manusia di negeri ini hanya jadi menteri. Kalau tidak ya jadi
Opini

JK Sang Juru Damai

Tanggal 20 Oktober 2019 ini berakhirlah sudah tugas Bapak Jusuf Kalla atau yang lebih dikenal dengan sebutan JK sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia.Sebuah posisi
Opini

Ada Putra Wajo di Garuda Select

DUA hari lalu, seorang teman yang secara sukarela ikut mendukung saya di Pemilu 2019 di Kabupaten Wajo, mengirimkan gambar ke kontak WhatsApp (WA). Ia
Opini

Lobby Lobby

DI luar negeri kini beredar berita tentang Indonesia: elit politik lagi berusaha mengubah konstitusi.Tujuannya: agar tidak ada lagi pilpres secara langsung. Di pemilu yang
Opini

Nyinyir Istri Tentara Itu

SEPEKAN telah berlalu, tapi kisah ironis tentang istri tentara itu - juga tentang tentara itu sendiri - masih juga ramai terhampar di media cetak
Opini

Blue Girl

KINI jadi kenyataan: wanita Iran benar-benar boleh nonton sepak bola. Hadir langsung di stadion.Itu terjadi Selasa minggu lalu. Saat tim nasional Iran menjadi tuan
Opini

Menghargai Bangsa Sendiri

BEBERAPA waktu lalu saya pernah menulis sebuah artikel dengan judul imagining Indonesia. Hal demikian saya tuliskan karena sebagai anak bangsa yang sudah sangat lama
Opini

Wiranto Diserang, Ninoy Diculik, Kita Diteror

DI Menes, Pandenglang, Banten, Menkopolhukam Wiranto di serang seorang tidak dikenal. Begitu turun dari mobil, Wiranto disambut Kapolsek disana. Tetiba, seorang lelaki membawa gunting