Menyikapi Corona dan Hoax Melalui Intervensi Sosial

Staf Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BRSPDF) Wirajaya Makassar, Asrul Sani

CORONA Virus Disease 2019 (Covid-19) atau yang dikenal dengan nama virus corona telah menyebar secara massif.

Penyebarannya bahkan telah meluas menghampiri semua daerah di Indonesia.

Di tengah merebaknya virus Corona, seperti tak mau kalah, di saat banyak warga terjangkiti Covid-19, sebagian warga lainnya juga mendapatkan suguhan informasi yang tidak jelas alias hoax.

Jika virus Corona berdampak pada gangguan fisik, hoax berdampak pada psikis.

Merujuk pada penjelasan medis, gejala umum secara fisik yang terlihat saat seseorang terjangkit virus Corona di antaranya mengalami deman (flu), batuk, dan sesak napas. Bahkan jika terjadi komplikasi berupa pneumonia, hal tersebut bisa berakibat pada sidrom gangguan pernapasan akut.

Menarik untuk Anda:

Sementara gangguan psikis jika warga secara terus-menerus disuguhi informasi hoax di tengah bencana Covid-19, tentu akan menimbulkan kepanikan yang bisa berpengaruh pada gangguan mental, dan jika parah, bisa berdampak pada perilaku stress, bahkan bisa mengakibatkan warga menjadi depresi.

Realita Corona san Hoax

Data sampai pada minggu terakhir bulan Maret 2020, warga yang dinyatakan positif terjangkit Corona sudah berada diangka Seribuan lebih.

Angka tersebut menunjukkan trend penambahan yang signifikan jika dilihat dari data minggu Pertama Bulan Maret 2020.

Sementara untuk melihat dampak psikis dari penyebaran informasi hoax di tengah merebaknya virus Corona, dapat dilihat dari Indeks Kebahagian warga Indonesia (Happiness Report).

Data yang dirilis oleh PBB terkait World Happines Report (WHR) tahun 2019, posisi Indonesia menempati peringkat 92 dari 156 Negara.

Peringkat tersebut bisa saja anjlok seiring dengan merebaknya wabah Corono ditambah lagi dengan Hoax yang ikut menebar ditahun ini.

Meski dipahami, hoax bukanlah termasuk salah satu variabel yang menjadi alat ukur untuk mengetahui Indeks Kebahagiaan warga. Diantara variabel utama untuk melihat Indeks Kebahagiaan warga adalah Harapan Hidup yang sehat dan dukungan sosial.

Untuk mengukur kebahagiaan warga, sesungguhnya tersirat, bahwa hoax sangat beririsan dan berpengaruh terhadap variabel harapan hidup dan juga berpengaruh pada variabel dukungan sosial warga, sebab hoax sekali lagi akan berdampak pada psikis dan mental warga, dimana dukungan psikis dan mental warga yang kuat sangatlah dibutuhkan guna melawan penyebaran virus Corona.

Di saat warga yang dinyatakan posotif corona meningkat drastis, penyebaran dan eskalasi hoax pun kian menyebar dan banyak dikonsumsi warga.

Maraknya hoax yang berseliweran, kesemuanya bisa merusak mental warga dalam menghadapi wabah penyakit yang ada disekitarnya.

Gerakan Intervensi Sosial

Merespon fenomena tersebut, meskipun pemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penangangan Corona, dan telah melakukan sistem sentralisasi basis data dan informasi melalui sistem manajemen informasi berbasis digital.

Namun upaya pemerintah tidak akan berhasil, jika tidak dibarengi dengan gerakan penyadaran publik (public awareness) melalui intervensi sosial secara massif dan terkoordinasi.

Bahkan dibutuhkan tindakan tegas terhadap segala aktifitas warga yang dapat menganggu upaya dalam menangani penyebaran virus Corona, termasuk tindakan tegas terhadap pelaku penyebaran hoax.

Disadari, bahwa penanganan Corona bukan hanya menjadi tanggungjawab paramedis (baca; Dokter dan peerawat) saja.

Sebab jika diwaktu bersamaan, antara penyebaran virus corona adu cepat dengan penyebaran hoax, maka dibutuhkan penanganan yang terintegrasi guna menyikapi penyebaran keduanya. Penanganan terintegrasi yang dimaksud salah satunya dengan melakukan intervensi sosial.

Hal ini merupakan tindakan dalam mengantisipasi kondisi masyarakat yang mengalami kecemasan yang mengarah pada terjadinya disfungsi sosial ditengah wabah Corona.

Intervensi sosial diharapkan bisa memperbaiki fungsi sosial dan mentalitas warga akibat penyebaran virus corona dan penyebaran Hoax diwaktu yang bersamaan.l

Secara teknis, intervensi sosial dapat dilakukan dengan melibatkan partisipasi civil sociaty, khususnya kelompok yang peduli terhadap isu-isu kemanusiaan.

Beberapa bentuk intervensi sosial yang dapat dilakukan, diantaranya pemberian pelayanan psikososial, pelayanan ketrampilan bersifat edukasi dalam mencegah agar warga memiliki pengetahuan tentang pola hidup sehat, termasuk cara menangani secara dini penyebaran virus corona, serta upaya membangun nalar yang tidak percaya pada informasi hoax.

Selain itu, program intervensi sosial juga bisa dalam bentuk pemberian pelayanan mental-spiritual (pendekatan ke-agama-an), pelayanan pendampingan dan advokasi, serta pelayanan informasi seputar virus corona, termasuk sosialisasi pelayanan informasi secara massif akan situs resmi yang bisa diakses dan dipercaya oleh warga, sehingga warga tidak mudah menerima informasi hoax yang berseliweran di jagat media sosial.

Melalui gerakan Intervensi Sosial, selain berdampak pada penguatan mentalitas warga, diharapkan pula, gerakan ini menjadi stimulus bagi warga untuk peduli terhadap warga sekitarnya yang membutuhkan penguatan psikis dalam menghadapi wabah Corona. Menghadapi Corona dan hoax, warga meski dibentengi dengan penguatan mentalitas dan imanitas. Sebab mentalitas yang kuat, secara psikis dapat menguatkan imunitas tubuh. Jangan panik menghadapi corona dan hoax.

#janganpanik

#apalagipiknik

#stayathome

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Money Politik, Diantara Larangan dan “Kebutuhan” Warga

Ketauladanan Ibrahim AS – 01

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar