Miris, Korban Gempa Sulbar Rela Gali KK di Reruntuhan Demi Syarat Bantuan

Terkini.id, Sulbar – Sebuah musibah memilukan kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, salah satunya adalah gempa bumi di Sulawesi Barat yang diguncang gempa 6, 2 SR pada Jumat 15 Januari 2021 dinihari lalu.

Gempa Sulbar yang masih menyisakan duka itu menyebabkan banyak warga menjadi korban dan harus kehilangan rumah dan harta bendanya serta kehilangan nyawa dan luka-luka.

Salah satu kisah miris dialami oleh salah seorang warga saat ingin mendapat bantuan. Dia adalah Firman warga jalan Baharuddin Lopa, Mamuju.

Menurut Firman, saat dirinya ingin meminta bantuan di salah satu instansi pemerintahan dirinya diwajibkan untuk memperlihatkan bukti Kartu Keluarga sebagai syara untuk mendapat bantuan.

Mungkin Anda menyukai ini:

“Saya datang di salah satu posko bantuan yakni di Posko Pendopo. Saya minta bantuan tapi disuruh sediakan kartu keluarga. Bahkan harus rela mengantri berjam-jam demi mendapatkan bantuan.

Firman yang juga rumahnya rusak berat karena runtuh itu mengaku saat petugas meminta syarat Kartu Keluarga untuk mendapatkan bantuan, diapun rela memberanikan diri kembali ke runtuhan rumahnya.

“Saya memberanikan diri kembali di rumah mencari Kartu Keluarga yang sudah tertimbun padahal was-was takut ada gempa susulan,”jelas pria asal Bulukumba yang kini sudah berdomisili di Sulbar itu kepada terkini.id, Senin 18 Januari 2021 kemarin saat ditemui di tenda pengungsian.

Demi mendapatkan bantuan, ia tak putus semangat dan nyali untuk kembali di instansi yang menyediakan paket bantuan untuk pengungsi gempa bumi Sulawesi Barat.

“Alhamdulillah, setelah saya mendapat Kartu Keluarga, saya kembali ke tempat tadi (instansi penyalur bantuan). Saya antri lama. Alhamdulillah dapat walau mie instan saja. Tapi tetap kami syukuri,”kisahnya.

Diketahui, saat ini, Firman mengungsi bersama anggota keluarganya di Posko Pengungsian Stadion Manakarra.

Ia juga berharap kepada pemerintah agar kiranya tidak perlu mempersulit warga untuk mendapat bantuan misalnya harus bersyarat memiliki Kartu Keluarga atau KTP.

“Ini kan bencana, dipastikan banyak masyarakatnya yang menjadi korban tidak sempat mengambil Kartu Keluarga atau KTPnya. Jadi, kami berharap semoga pemerintah bisa memahami dan mengerti,” harap Firman.

Sebelum dikabarkan juga ada banyak warga protes karena mayoritas kehilangan kartu keluarga (KK) saat gempa terjadi. Pemandangan protes itu terjadi di depan kantor Dinas Sosial Kabupaten Mamuju.

“Masak tidak dikasih, harus ada KK katanya. Bagaimana kalau ada KK, kalau tertimbun rumah bagaimana,” ujar Slamet Riyadi, korban gempa melansir dari kompascom.

Dinas Sosial Kabupaten Mamuju mewajibkan korban yang ingin mendapat bantuan sembako memperlihatkan kartu keluarga agar bantuan tepat sasaran.

Namun setelah protes muncul, dinas sosial meninjau kembali kebijakan syarat membawa kartu keluarga.

Bagikan