Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian dalam perjalanan hidup. Oleh sebab itu, agar tak mudah terombang-ambing dalam menghadapai tantangan hidup kita harus memiliki sikap saling memahami sesama manusia, dan tidak mudah membuat kesimpulan terhadap hidup yang dijalani orang lain.
Di zaman sekarang ini, tidak sedikit diantara kita yang begitu mudah membuat kesimpulan atas hidup yang dijalanai orang lain. Tak sedikit diantara kita dengan lantang dan bangganya merasa paling suci diantara yang lain. Karna merasa hidup yang dijalaninya ataupun ibadah yang dikerjakannya sudah lebih dibandingkan orang lain. Tanpa membaca situasinya , memahami kondisinya bahkan tanpa menganalisisnya. Oleh karna itu, sebelum membuat kesimpulan terlebih dahulu mari kita membaca, memahami, dan menganalisisnya.
Beberapa orang memiliki kemampuan untuk berpuasa Senin dan Kamis, sepanjang tahun, tapi yang lain mungkin tidak bisa.Namun mereka memiliki kemampuan bangun di tengah malam untuk Sholat Tahajjud setiap malam, tetapi yang lain tidak dapat bangun meskipun sudah berusaha. Yang lain tidak bisa melakukan kedua hal di atas, tetapi di mana pun mereka berjalan, mereka bersedekah dengan murah hati kepada para pengemis.
Beberapa orang tidak memiliki kekuatan untuk melakukan ibadah tambahan, tetapi mampu menjaga hati yang bersih dan wajah yang tersenyum terhadap orang-orang sepanjang waktu.Yang lain lagi tidak melakukan apa-apa selain hanya membuat anak-anak tertawa ketika bertemu dengan mereka.Ada yg tdk mampu untuk Riyadhoh/perihatin dll tapi Tekun disiplin Ngaji/mulang ngaji.
Jadi, pada intinya adalah jangan pernah berpikir bahwa mereka yang tidak melakukan seperti apa yang kita lakukan lebih rendah daripada kita, atau tidak memiliki apa pun yang bisa dipersembahkan bagi orang lain. Jangan pernah berpikir bahwa tindakan kita untuk beribadah lebih baik daripada tindakan orang lain. Jangan biarkan kesalehan kita menumbuhkan kebanggaan terselubung dalam diri kita. Jangan biarkan kesalehan kita meng-isolasi diri kita dari keluarga dan teman. Jangan biarkan itu membuat kita merasa lebih suci dari orang lain. Keturunan, kekayaan, kemampuan ilmiah, warna kulit kita, kekuatan di medan perang bukan kriteria untuk kesalehan kita.
- Investor Asal Jerman Siap Bangun PLTB 100 MW di Sidrap, Bupati: Ini Peluang Besar
- Wakil Ketua Komisi D DPRD Sulsel Siap Kawal Sengketa Lahan Warga Pinrang ke DPR RI
- Percepat Penurunan Stunting, Wakil Bupati Sidrap dan TP PKK Intensifkan PMT Berbasis Pangan Lokal
- Pelayanan Poliklinik Eksekutif RSUP Makassar Dikeluhkan Lamban dan Kurang Profesional
- Bupati Sidrap Serahkan Kunci Rumah Kepada Ibu Idawa
Ada banyak di Afrika, Eropa, Asia, Cina dan seluruh dunia yang mungkin lebih dekat dengan Allah daripada kita karena fakta sederhana bahwa mereka dapat menanggung kesulitan dan mengatasi cobaan lebih baik daripada kita. Penampilan dan pakaian kita bukanlah kriteria untuk kesalehan.Ada banyak manusia di dunia ini yang lebih dekat dengan Allah SWT meskipun mereka tampak biasa-biasa saja.
Afiliasi kita dengan sebuah jamaah atau lembaga ilmiah mana pun, harus menjadi sarana untuk memusnahkan ego dan kebanggaan kita, tanpa memandang rendah orang lain. Ada banyak yang hatinya murni meskipun tidak ber-afiliasi dengan salah satu di atas. Hal ini bukan paspor otomatis ke Surga.
Ada orang yang masuk surga hanya dengan memuaskan dahaga seekor anjing, yang lain mendapatkannya dengan hanya memaafkan semua orang setiap hari sebelum tidur. Mereka tidak memiliki banyak hal untuk ditampilkan, tetapi apa yang mereka lakukan, penting bagi Allah. Seseorang mungkin berjalan melalui gerbang surga dengan modal sangat sedikit dan kehadirannya ketika hidup di muka bumi tidak dianggap penting, sementara yang lain dengan perbuatan yang jauh lebih besar justru binasa karena kesombongan mereka. Jangan terkejut jika orang itu menuntun Anda berjalan melewati gerbang Surga.
Dengan demikian, kita sadari bahwa bahagia atau tidaknya seseorang dalam kehidupan akhirat kelak sangat tergantung pada apa yang dilakukannya di dunia ini. Oleh karna itu, mumpung Allah masih memberikan kesempatan hidup kepada kita, menjadi keharusan kita bersama untuk mengisi kehidupan ini dengan memperbanyak amal shaleh. Dan marilah selalu Melihat hal baik yang ada pada diri orang lain.
Penulis : Sri Wahyuni Mahasiswi UIN Alauddin Makassar
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
