Opini: Literasi Sebagai Aksi Anak Mengenal Emosi

Sumber foto: readbrightly.com

Emosi adalah bagian dari jiwa tiap manusia yang dikenal juga sebagai perasaan. Pada manusia, emosi berkembang sesuai bertambahnya usia dan pengalaman yang didapatkan. Pada anak-anak yang baru saja mengenal emosi, mereka belum tahu bagaimana penyaluran yang baik bahkan belum paham betul tentang perasaan yang dirasakan sehingga anak-anak lebih sering menangis dan memberontak, ketika keinginannya tidak tersampaikan atau tidak dipahami oleh orang sekitar.

Peran orang tua dalam mengembangkan emosi pada anak tentu sangat besar. Ketika anak mampu mengenali perasaannya, ia akan lebih mudah mengenal diri sendiri nantinya. Ia akan paham hal-hal yang ia suka dan tidak suka, bagaimana membuat suasana agar ia merasa nyaman di suatu kondisi, hingga berinteraksi dengan teman bermain atau teman sekolahnya nanti, anak tidak akan mudah tersulut emosi dan bertengkar dengan temannya jika ada masalah.

Saya pikir inilah mengapa pengenalan emosi harus dilakukan sejak dini agar anak memiliki pengendalian yang baik terhadap dirinya sendiri saat berhadapan dengan orang lain. Dalam tahap pengenalan emosi pada anak, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan diterapkannya kegiatan literasi di lingkungan keluarga. Misalnya seperti rajin mendongeng, mengisahkan kisah nabi, bahkan pengalaman orang tua semasa kecil akan jadi bahan cerita menarik untuk anak.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mengembangkan emosi anak agar lebih terkontrol lewat literasi. Terlebih lagi di era digitalisasi seperti sekarang ini, orang tua dituntut jauh lebih kreatif dalam menghadirkan suasana menyenangkan dan tak kalah menarik dari pada permainan di gawai.

Tentu pihak orang tua sendiri wajib membatasi dirinya agar anak bisa meniru karena mereka adalah peniru yang handal. Mengenalkan emosi pada anak usia balita bisa dengan banyak bercerita. Ini adalah salah satu cara yang dilakukan oleh orang tua saya semasa kecil. Mulai dari bercerita sebelum tidur, mengisi sore dengan membacakan buku-buku yang di dalamnya ada banyak gambar warna- warni menarik, menggunakan boneka tangan dan mengajak anak untuk turut terlibat dalam cerita, adalah langkah yang bisa dilakukan.

Pada usia ini, orang tua bisa menjelaskan perasaan tokoh-tokoh dalam cerita saat menghadapi masalah atau kejadian. Sehingga anak bisa perlahan paham dengan emosi yang ia rasakan jika menghadapi situasi yang serupa. Setelah anak mulai meraba dunia aksara, orang tua bisa mengajak anak membaca buku cerita bersama.

Menyisihkan waktu di pagi atau sore hari khusus untuk membaca lalu anak diajak untuk bercerita hal apa saja yang didapatkan setelah membaca, bagaimana alur ceritanya, karakter tokoh mana yang jadi favoritnya, sampai bagian mana yang paling ia sukai
dari buku tersebut. Disini orang tua harus aktif memancing anak agar bersemangat menceritakan bacaannya.

Rajin liburan keluarga seminggu atau sebulan sekali juga harus dilakukan agar emosi orang tua yang lelah dengan pekerjaan bisa kembali merasa senang. Liburan bisa mendekatkan anak dan orang tua secara emosional. Tentunya momen ini harus dimanfaatkan sedemikian agar memaksimalkan pembangunan emosi yang kuat lewat literasi.

Sepanjang jalan, orang tua bisa bercerita tentang hal-hal yang di lihat. Ketika berlibur ke laut, penjelasan sederhana seperti mengapa laut bisa memiliki ombak, apa yang dilakukan nelayan di tengah lautan, bagaimana burung-burung laut bisa terbang, kemudian ajak anak bercerita tentang yang ia lihat.

Hubungan berkomunikasi ini akan berpengaruh pada proses penguatan emosi agar anak dan orang tua memiliki keterikatan yang kuat sekaligus anak bisa mengenal perasaannya lebih jauh. Saya pikir inilah mengapa banyak cerita-cerita daerah yang biasanya didongengkan pada anak-anak.

Namun karena kuatnya arus globalisasi, bukan berarti orang tua tidak membolehkan anak berkenalan dengan gadget. Beri batasan dengan takaran yang cukup, beri juga contoh dari kebiasaan baik dari orang tua. Sehingga anak tidak akan ketergantungan pada gawai yang bisa membahayakan prosesnya dalam mengenali emosi.

Ditulis oleh: Fauzia Noorchaliza (Mahasiswa Institut Pertanian Bogor 2018)

Berita Terkait