Terkini.id, Belgia – Minimnya peralatan medis di sebuah rumah sakit tampaknya dipahami oleh seorang pasien positif COVID-19 di Belgia, Suzanne Hoylaerts.
Perempuan berusia 90 tahun tersebut meninggal dunia setelah memilih menolak untuk dipakaikan alat bantu pernafasan. Dia meminta petugas agar alat tersebut disimpan saja untuk pasien yang lebih muda.
Jumat lalu, putrinya Judith Hoylaerts, membawa Suzanne ke rumah sakit karena sang ibu sesak napas. Kemungkinan mengalami pneumonia.
Namun ternyata, Suzanne terjangkit virus Corona.
Sang ibu tak selamat. Ia meninggal setelah menolak mengenakan alat bantu pernapasan di rumah sakit. Ia tahu rumah sakit kekurangan respirator.
- RS Mata JEC ORBITA Makassar Perkenalkan PRESBYOND untuk Atasi Gangguan Penglihatan Usia 40 Tahun ke Atas
- Wujudkan Target Percepatan Penurunan Stunting, Ribuan Kader Posyandu dan TPK Jeneponto Ikuti Pelatihan Khusus
- PLN UID Sulselrabar Perkuat Ketahanan Pangan dan Modernisasi Agrikultur melalui Program Electrifying Agriculture
- Pemkot Makassar Optimalkan Pengelolaan Sampah, TPA Antang Ditargetkan Beralih ke Sanitary Landfill
- Dilantik Jadi WD FT Unhas, Dr Hendra Pachri Usung Transformasi Akademik Menuju Daya Saing Global
Kepada sang dokter yang merawatnya, dia berbisik: “Simpan untuk orang-orang yang lebih muda (yang paling membutuhkannya). Saya sudah menikmati kehidupan panjang yang indah.”
“Para dokter memberi tahu saya bahwa dia menolak untuk memakai respirator,” cerita sang anak, Judith Hoylaerts.
Soal bagaimana dan di mana sang ibu tertular, Judith mengak itu menjadi misteri baginya.
“Ketika saya membawanya ke rumah sakit pada hari Jumat, kami pikir dia menderita pneumonia ringan. Saya tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya dan saya bahkan tidak punya hak untuk hadir di pemakamannya,” kata Judith seperti dikutip dari mandynews.com.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
