Terkini.id, Belgia – Minimnya peralatan medis di sebuah rumah sakit tampaknya dipahami oleh seorang pasien positif COVID-19 di Belgia, Suzanne Hoylaerts.
Perempuan berusia 90 tahun tersebut meninggal dunia setelah memilih menolak untuk dipakaikan alat bantu pernafasan. Dia meminta petugas agar alat tersebut disimpan saja untuk pasien yang lebih muda.
Jumat lalu, putrinya Judith Hoylaerts, membawa Suzanne ke rumah sakit karena sang ibu sesak napas. Kemungkinan mengalami pneumonia.
Namun ternyata, Suzanne terjangkit virus Corona.
Sang ibu tak selamat. Ia meninggal setelah menolak mengenakan alat bantu pernapasan di rumah sakit. Ia tahu rumah sakit kekurangan respirator.
- Ketua Bawaslu Sulsel Ingatkan Bahaya Birokrasi Terkooptasi Politik
- Efek Kehadiran Bupati, Jeneponto Menggila di Piala Gubernur Sulsel, Kalahkan Gowa 3-0
- Makassar dan Sejumlah Wilayah Sulsel Mati Listrik, Simak Penjelasan PLN
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan LPG 3 Kg di Wilayah Sulselbar Terdampak Kemarau
- Kapal Kemanusiaan KALLA Bawa 800 Paket Bantuan dan Relawan ke NTT, Prioritaskan Daerah Belum Terjangkau
Kepada sang dokter yang merawatnya, dia berbisik: “Simpan untuk orang-orang yang lebih muda (yang paling membutuhkannya). Saya sudah menikmati kehidupan panjang yang indah.”
“Para dokter memberi tahu saya bahwa dia menolak untuk memakai respirator,” cerita sang anak, Judith Hoylaerts.
Soal bagaimana dan di mana sang ibu tertular, Judith mengak itu menjadi misteri baginya.
“Ketika saya membawanya ke rumah sakit pada hari Jumat, kami pikir dia menderita pneumonia ringan. Saya tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya dan saya bahkan tidak punya hak untuk hadir di pemakamannya,” kata Judith seperti dikutip dari mandynews.com.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
