Terkini.id, Belgia – Minimnya peralatan medis di sebuah rumah sakit tampaknya dipahami oleh seorang pasien positif COVID-19 di Belgia, Suzanne Hoylaerts.
Perempuan berusia 90 tahun tersebut meninggal dunia setelah memilih menolak untuk dipakaikan alat bantu pernafasan. Dia meminta petugas agar alat tersebut disimpan saja untuk pasien yang lebih muda.
Jumat lalu, putrinya Judith Hoylaerts, membawa Suzanne ke rumah sakit karena sang ibu sesak napas. Kemungkinan mengalami pneumonia.
Namun ternyata, Suzanne terjangkit virus Corona.
Sang ibu tak selamat. Ia meninggal setelah menolak mengenakan alat bantu pernapasan di rumah sakit. Ia tahu rumah sakit kekurangan respirator.
- Semarak HUT ke-102, Perumda Air Minum Makassar Kolaborasi dengan Karang Taruna Gelar Donor Darah
- Tidak Ada Kerugian Negara, Dua Karyawan Bank Sulselbar Tetap Divonis Korupsi
- SMA Unggulan KKSS Bone Rintisan Andi Amran Sulaeman Luncurkan English Foundation Program
- Permintaan Tukar Tambah Toyota Baru Meningkat, Kalla Toyota Trust Bukukan Rekor Penjualan Mobil Bekas pada Juli 2026
- PT TRK Diduga Gunakan Hauling dan Stockpile secara Ilegal, Koalisi Pemerhati Tambang Kolaka Raya Minta Antam Buka Peta IUP
Kepada sang dokter yang merawatnya, dia berbisik: “Simpan untuk orang-orang yang lebih muda (yang paling membutuhkannya). Saya sudah menikmati kehidupan panjang yang indah.”
“Para dokter memberi tahu saya bahwa dia menolak untuk memakai respirator,” cerita sang anak, Judith Hoylaerts.
Soal bagaimana dan di mana sang ibu tertular, Judith mengak itu menjadi misteri baginya.
“Ketika saya membawanya ke rumah sakit pada hari Jumat, kami pikir dia menderita pneumonia ringan. Saya tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya dan saya bahkan tidak punya hak untuk hadir di pemakamannya,” kata Judith seperti dikutip dari mandynews.com.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
