Terkini, Makassar — Perumda Air Minum Kota Makassar menyiapkan solusi jangka panjang untuk memperkuat ketersediaan air baku sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan air bersih bagi masyarakat.
Salah satu upaya yang tengah didorong yakni pembangunan bendung karet di Sungai Tallo. Usulan tersebut telah disampaikan kepada Wali Kota Makassar dan saat ini dikoordinasikan dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) RI.
Plt Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Makassar, Andi Syahrum, mengatakan pembangunan bendung karet diharapkan dapat mengendalikan masuknya air laut ke aliran Sungai Tallo.
Kondisi tersebut dinilai penting untuk menekan kadar Total Dissolved Solids (TDS) atau total padatan terlarut pada air baku yang akan dimanfaatkan PDAM.
Dengan kadar TDS yang lebih terkendali, Intake Manggala di kawasan Moncongloe diharapkan dapat beroperasi lebih stabil tanpa harus terlalu sering menghentikan pompa ketika kualitas air baku mengalami perubahan.
- MG ZS Hybrid+ Resmi Hadir di Makassar, Tawarkan SUV Hybrid 214 PS
- Peduli Kemanusiaan, PLN UID Sulselrabar Kembali Menggelar Donor Darah
- Okayama University Apresiasi Inisiatif UNM dalam Pengembangan Edukasi dan Inovasi Konstruksi
- Hari Pelanggan Nasional 2026, Kalla Aspal Perkuat Kolaborasi Hadapi Dinamika Industri
- PINTU Perluas Akses Aset Tokenisasi, Gandeng Ondo Finance hingga Targetkan Ratusan Token
“Saya sudah sampaikan ke Pak Wali Kota, dan lagi kami berkoordinasi ke Kementerian PU untuk pembangunan bendung karet di Sungai Tallo,” kata Andi Syahrum, Kamis (24/9/2026).
“Ini solusi jangka panjang kebutuhan air baku. Itu bisa menahan air laut masuk, sehingga TDS-nya bisa menurun dan pompa kita di Intake Manggala bisa 24 jam beraktivitas,” sambungnya.
Andi Syahrum menjelaskan, saat ini pengoperasian pompa di Intake Manggala masih menyesuaikan kondisi kualitas air baku.
Ketika kadar TDS meningkat akibat intrusi air laut, pengoperasian pompa harus dihentikan sementara untuk menjaga kualitas air yang masuk ke sistem pengolahan.
“Selama ini kita buka-tutup. Kalau misalnya TDS naik, kita tutup dulu pompanya. Sehingga perlu ada bendung karet untuk menaikkan dan mengatur tinggi air di sungai secara fleksibel dan dimanfaatkan secara optimal,” jelasnya.
Berpotensi Tambah Pasokan Air Baku
Menurut Andi Syahrum, Sungai Tallo memiliki potensi untuk menjadi salah satu sumber air baku tambahan bagi sistem pelayanan air bersih Kota Makassar.
Jika persoalan kadar TDS dapat dikendalikan, sumber air tersebut diperkirakan mampu memasok sekitar 600 hingga 1.000 liter per detik.
“Kalau misalnya sudah ada bendung karet di situ, berarti 600 terus-menerus, 600 liter per detik. Ini bisa menjadi solusi air baku untuk kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai keberadaan sumber air baku yang relatif lebih dekat dengan Intake Manggala juga berpotensi mendukung efisiensi sistem penyediaan air.
Selama ini, salah satu sumber air baku utama PDAM Makassar berasal dari Bendung Lekopancing di Kabupaten Maros yang lokasinya cukup jauh dari wilayah pelayanan.
Andi Syahrum mengatakan jarak dari Lekopancing menuju kawasan Moncongloe mencapai sekitar 20 kilometer. Dalam perjalanan menuju wilayah pelayanan, menurut dia, terdapat penyusutan volume air yang dapat dimanfaatkan.
“Kalau jadi program kementerian untuk memasang bendung karet, saya secara pribadi dan secara teknis mengamati bahwa kita ambil dari Lekopancing,” katanya.
Ia menyebut kebutuhan minimal air baku untuk menopang pelayanan di kawasan utara dan timur Makassar berada di kisaran 300 liter per detik.
Dengan potensi pasokan sekitar 600 liter per detik dari Sungai Tallo, sumber tersebut dinilai dapat memberikan tambahan kapasitas yang cukup signifikan.
“Dulu Lekopancing sebelum ada Moncongloe itu 100. Sehingga utara, timur berteriak karena memang tidak sampai, tidak bisa sampai airnya ke sana. Tetapi kalau Intake Manggala ini bisa sampai 600,” jelasnya.
Tak Hanya Persoalan Air Baku
Andi Syahrum menegaskan, tantangan pelayanan air bersih di Makassar tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sumber air baku.
Menurut dia, kapasitas sumber air yang tersedia pada dasarnya masih dapat memenuhi kebutuhan. Namun, persoalan jaringan distribusi dan kondisi teknis perpipaan juga menjadi faktor yang memengaruhi pelayanan kepada masyarakat.
“Sebenarnya kebutuhan air, sumber air kita itu, air baku, mencukupi. Mencukupi, cuma jaringan yang di bawah ini laba-laba. Banyak jaringan di bawah ini tidak ada airnya, kosong,” tuturnya.
Karena itu, pembangunan bendung karet di Sungai Tallo nantinya diharapkan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari penguatan sistem penyediaan air secara menyeluruh.
Penguatan tersebut mencakup ketersediaan sumber air baku, pengolahan, hingga optimalisasi jaringan distribusi kepada pelanggan.
Pemanfaatan Sungai Tallo sebagai sumber air baku alternatif juga diharapkan dapat membantu PDAM menghadapi penurunan debit sumber air utama, khususnya ketika memasuki musim kemarau panjang.
“Adanya sumber air baku alternatif yang lebih dekat serta pengendalian intrusi air laut melalui bendung karet, kami yakini ketahanan pasokan air bersih masyarakat dapat diperkuat, terutama untuk menghadapi ancaman kekeringan pada tahun-tahun mendatang,” tutup Andi Syahrum. (*)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
