Terkini.id, Jakarta – Penelitian terbaru: awas jebakan Batman China bakal bikin sengsara negara miskin! Seperti diketahui, saat ini perekonomian China yang melesat telah melampaui negara-negara maju di dunia seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Kendati demikian, sebuah penelitian terbaru menyebut program pendanaan China, Belt and Road Initiative (BRI) menjerat negara-negara berkembang dengan utang ‘terselubung’.
Tidak tanggung-tanggung, nilai utang itu sebesar miliar dolar AS atau setara Rp 5.500 triliun.
Studi itu dilakukan AidData dari analisis ke 13.427 proyek pembangunan China senilai total 843 miliar dolar AS di 165 negara selama periode 18 tahun terakhir sampai akhir 2017. Paling tidak, jumlah 385 miliar dolar AS itu dimiliki 45 negara miskin.
“Program BRI sebenarnya hanyalah China yang memburu proyek yang paling menguntungkan,” beber Direktur Eksekutif AidData Brad Parks, seperti dilansir dari AFP via CNBCIndonesia, Jumat 1 Oktober 2021.
Badan yang berpusat di Virginia itu menyebut ada temuan, komposisi distribusi pinjaman yang dilakukan Beijing sedikit ‘berubah’. Biasanya pinjaman digunakan untuk proyek infrastruktur negara, akan tetapi kini ada pinjaman yang tidak tercatat di neraca pemerintah.
“Selama era pra-BRI, sebagian besar pinjaman luar negeri China diarahkan kepada peminjam negara yaitu, lembaga pemerintah pusat,” terang para peneliti, seperti dilaporkan dari CNBCInternational.
Para penelita menjelaskan, transisi besar telah terjadi sejak itu. Di sana, hampir 70 persen dari pinjaman luar negeri China sekarang diarahkan ke perusahaan milik negara, bank milik negara, kendaraan tujuan khusus, usaha patungan, dan lembaga sektor swasta.
Ada pula pinjaman yang diambil instansi-instansi non pemerintah, sehingga tidak tercatat dalam neraca.
“Utang ini secara sistematis tidak dilaporkan ke Sistem Pelaporan Debitur Bank Dunia (DRS) lantaran dalam banyak kasus, lembaga pemerintah pusat di negara berpenghasilan rendah dan menengah bukan peminjam utama yang bertanggung jawab untuk pembayaran kembali,” demikian sebut laporan itu.
Laporan tersebut juga menambahkan, diperkirakan rata-rata pemerintah tidak melaporkan kewajiban pembayaran aktual dan potensial ke China dengan jumlah yang setara 5,8 persen dari produk domestik bruto atau PDB-nya.
Selanjutnya, AidData juga mengungkapkan hal itu dapat menjadi ancaman mengingat kontrol pihak berwenang negara kepada utang-utang ini sangatlah rendah.
“Masalah utang tersembunyi (terselubung) bukan tentang pemerintah yang mengetahui mereka perlu membayar utang yang tidak diungkapkan ke China, yang terjadi adalah mereka tidak mengetahui nilai moneter dari utang ke China yang mungkin sehingga timbul perasaan mereka tidak harus mereka bayar di masa depan,” beber peneliti.
Sekadar diketahui, BRI sendiri diluncurkan China pada 2013. Proyek pendanaan yang juga disebut ‘Jalur Sutra’ itu diinisiasi Presiden China Xi Jinping. Di sini, banyak negara Afrika dan Asia yang berpartisipasi.
Sementara itu, di sisi lain Amerika Serikat (AS) juga berencana meluncurkan proyek serupa di Amerika Selatan. Uni Eropa juga mengumumkan akan melakukan skema pendanaan baru dengan ‘Global Gateway’.
Kendati demikian, belum ada komentar dari China terkait penelitian tersebut.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
