Penggal Kepala Pemain Voli Wanita Afghanistan, Taliban Unggah Foto Kepalanya di Sosial Media

Terkini.id – Taliban memenggal kepala pemain voli wanita Afghanistan kemudian mengunggah foto kepalanya di media sosial. Pemain voli wanita itu bernama Mahjabin Hakimi. Dia berprestasi dari Klub Voli Kabul. 

Kata pelatihnya yang diwawancarai oleh The Persian Independent, Mahjabin Hakimi dipenggal oleh Taliban pada awal Oktober. Laporan pelatih tersebut disebutkan secara anonim.

Di media sosial muncul laporan lain yang mengklaim Mahjabin Hakimi dibunuh secara misterius oleh Taliban sepekan sebelum kelompok tersebut berhasil merebut Kabul.

Baca Juga: Anak Pertama Arie Untung Sekolah di Kanada, Netizen: Masih Butuh...

Melansir kompascom, sebuah surat kematian konon menjadi bukti yang menunjukkan tanggal pembunuhannya pada pertengahan Agustus. Sementara, ada klaim lainnya yang menyatakan bahwa gadis pemain voli itu meninggal bunuh diri.

Sebuah foto yang diyakini mayat Mahjabin Hakimi menunjukkan adanya cedera di leher, tetapi belum bisa dipastikan apakah ini disebabkan oleh pisau atau pengikat.

Baca Juga: Afghanistan Krisis Kemanusiaan, Yusuf: Indonesia Bisa Begini kalau ‘Bapak Politik...

Pusat Jurnalisme Investigasi Payk yang berbasis di Afghanistan mengatakan bahwa sumbernya telah mengkonfirmasi bahwa Mahjabin dipenggal oleh Taliban di Kabul. 

Pelatihnya mengatakan bahwa kematian Mahjabin baru sekarang dilaporkan karena Taliban mengancam keluarga gadis itu untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang apa yang telah terjadi.

Namun setelah foto jasad Mahjabin Hakimi beredar di internet, pelatih tersebut berpikir ini adalah waktunya untuk angkat suara.

Baca Juga: Afghanistan Krisis Kemanusiaan, Yusuf: Indonesia Bisa Begini kalau ‘Bapak Politik...

“Semua pemain tim voli dan atlet wanita di Afghanistan dalam situasi yang buruk, diliputi rasa putus asa dan ketakutan. Semua orang terpaksa melarikan diri dan tinggal di tempat yang tidak diketahui,” lanjutnya.

Mahjabin Hakimi bermain voli untuk klub Kabul sebelum Taliban merebut kekuasaan dari pemerintah Afghanistan yang didukung AS pada akhir Agustus.

1 2
Selanjutnya
Bagikan