Penumpang Keluhkan Antrian FIFO di Bandara Hasanuddin, Begini Penjelasan Angkasa Pura

Bandara Sultan Hasanuddin/ist

Terkini.id, Makassar – Sejumlah penumpang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Makassar, Sulawesi Selatan, mengeluhkan pemberlakuan penerapan sistem FIFO (First in First Out).

Salah satunya adalah Ani (35) seorang pengguna jasa bandara mengatakan kurang nyaman penerapan sistem first in first out (FIFO) yang diberlakukan Angkasa Pura di Bandara Sultan Hasanuddin.

“Kalau kita pakai transportasi bandara harus pakai antrian. Padahal kita ini kan sudah punya langganan sejak dari dulu,” kata Ani kepada wartawan, Kamis, 30 Juli 2020.

Menurutnya, penerapan sistem tersebut justru membuat dirinya tak bisa leluasa dalam memutuskan kendaraan yang akan ditumpanginya.

“Kan dulu-dulu kita bisa bebas memilih operator taksi bandara ketika kita mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar,” ucapnya.

Menarik untuk Anda:

Ia pun meminta kepada pihak otoritas bandara untuk mengembalikan sistem tersebut seperti semula.

Ani mengatakan biarkan pengguna jasa (konsumen) yang memilih kendaraan yang akan ditumpanginya sendiri.

“Intinya kalau bisa kembalikan seperti dulu saja. Kalau dulu enak, bisa langsung hubungi klien operator taksi bandara yang selama ini kami pakai,” paparnya.

“Apalagi mereka yang punya keluarga sopir taksi bandara misalnya. Masa disuruh pakai taksi lain baru adaji mobilnya keluarga,” pungkasnya.

Ia menilai bila alasan pemberlakuan sistem FIFO karena pendataan operator, Ani mengatakan itu bukan alasan logis.

“Di situmi marketingnya operator taksi jalan untuk cari pelanggan. Tapi ini kan soal jasa, maka harus mengutamakan kenyamanan, keamanan dan pelayanan,” pungkasnya.

Sementara itu, Gunawan, salah satu pengelola operator taksi bandara, yakni Taksi Bosowa ada efek plus minus dengan pemberlakukan penerapan sistem FIFO.

“Dampaknya kepada konsumen langsung sehingga konsumen tidak dapat memilih taksi yang dikehendaki yang sudag menjadi relasi dari salah satu operator di bandara,” bebernya.

Saat ditanya dampak terhadap operator taksi Bandara, Gunawan mengatakan jelas berefek, tetapi kelebihannya armada unit taksi selalu tersedia untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

“Minusnya, hanya berdampak kepada operator yang memiliki unit operasi yang sedikit. Karena menunggu antrian dari rekan unit lainnya yang akan jalan,” jelasnya.

Adapun tips yang dilakukan meskipun di tengah Pandemi, salah satunya tetap melakukan pelayanan yang maksimal, tidak mengurangi pelayanan walaupun sedang dalam pandemi ini.

“Kami dari Bosowa akan tetap mengemukakan pelayanan pelanggan agar tetap aman, nyaman dan berkesan pada saat berada dalam unit kami ataupun setelah meninggalkan unit kami,”terangnya.

Sedangkan, Stakeholder Relation Manager Angkasa Pura Iwan Risdianto menjelaskan alasan mengapa menggunakan sistem FIFO di bandara.

“Kenapa digunakan sistem FIFO? lebih kepada untuk menjaga keberlangsungan usaha operator taksi sehingga akan ada pemerataan pendapatan ke semua operator taksi,” kata dia.

Iwan menyebut, saat ini, pihaknya sedang mengembangkan sistem baru dan penetapan SOP untuk para operator.

“Diharapkan sama semua pelayanannya kepada penumpang,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, terkini.id, telah meminta respons pihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) namun belum mendapat tanggapan.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Fotonya Viral usai Disebar Korban, Pelaku Pemerkosaan Ini Ditangkap Polisi

Survei: Masyarakat Percaya Jokowi Bisa Bebaskan Indonesia dari Krisis

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar