Peringati Hari Jadi Desa Bontolebang ke 20, Pembina KPB Ingatkan Pemuda Sejarah Kampung

Peringati Hari Jadi Desa Bontolebang ke 20, Pembina KPB Ingatkan Pemuda Sejarah Kampung

R
Andi Yusrandi Yusuf
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Selayar – Desa Bontolebang merupakan satu dari 88 desa/kelurahan yang berada di Kabupaten Kepulauan Selayar. Sejarah mencatat bahwa berdirinya Desa Bontolebang secara sah sebagai desa definitif pada tanggal 20 Desember 1999, tidak lepas dari perjalanan panjang.

Perjalanan panjang itu sekilas menceritakan tentang masa dimana Pulau Gusung pernah menjadi bagian dari Kelurahan Benteng, Kelurahan Bontobangun, dan juga pernah serumpun dengan Desa Bontoborusu.

Tahun 2019 ini, tepatnya Jumat 29 Desember. Usia Desa Bontolebang telah memasuki 20 Tahun. Dalam hal ini, pemuda-pemudi dalam rumpun Kerukunan Pemuda Bontolebang (KPB) bergandengan tangan dengan Pemerintah Desa Bontolebang merumuskan “Hari Jadi Desa Bontolebang” dilaksanakan di Kantor Desa Bontolebang itu sendiri, Jumat, 20 Desember 2019.

Saharudin S.Pd.I., M.Pd, selaku Dewan Pembina Kerukunan Pemuda Bontolebang (KPB) menjelaskan sejarah Bontolebang dan karakter masyarakatnya.

“Bontolebang pernah serumpun dengan Kelurahan Benteng, Kelurahan Bontobangun, dan Desa Bontoborusu. Jadi, hobi mengekor sebenarnya bukan karakter kami. Olehnya itu, berdiri di kaki sendiri adalah motivasi awal leluhur kami untuk mandiri dengan identitas murni. Hingga pada 20 Desember 1999, Desa Bontolebang sah sebagai Desa Definitif,” ujarnya.

Baca Juga

“Pemuda Bontolebang harus paham sejarah Desa. Saya selalu mengingatkan kawan-kawan pemuda Bontolebang, paling tidak mereka memahami sejarah kampung mereka sendiri sebelum melangkah mempelajari hal-hal lain. Sejarah adalah sebab lahirnya karakter, maka hemat saya, pulau Gusung bukan sekedar tanah pijakan, melainkan lebih pada karakter. Secara pribadi saya sangat tersentuh oleh tekad leluhur kami. Dulu, di Kelurahan Benteng, mereka mesti mangayun sampan ketika ada pertemuan atau Gotong Royong. Demikian pula ketika mengikut di Kelurahan Bontobangun dan Desa Bontoborusu, yang mana pada saat itu mesin perahu masih jarang digunakan oleh masyarakat,” lanjutnya.

Lebih lanjutnya lagi, dijelaskan secara konseptual, perumusan Hari Jadi Desa Bontolebang didasarkan atas beberapa faktor. Secara internal, masyarakat Bontolebang cenderung terkotak-kotakkan, membentuk kubu, dan melupakan tradisi sehingga setiap kali terjadi pesta demokrasi pasti selalu menyisahkan perselisihan yang larut.

Secara eksternal, pengaruh arus globalisasi teknologi menggiring pemuda pada rantai emas. Berkilau indah namun mengikat, menarik namun untuk meniadakan jati diri, mendekatkan yang jauh, dan membatasi ruang bagi serumpun. Akhirnya mereka aktif di dunia maya dan abai terhadap realitas sosial yang semakin hari semakin merosot. Dalam ini, kesadaran akan peran dari kaum millenial sangat dibutuhkan.

“Hal ini menandakan bahwa asas yang ingin dibumikan adalah kemanusiaan, keguyuban, dan persaudaraan sebagaimana asas ini dijunjung tinggi oleh leluhur kami,” jelas Saharuddin Alumnus UIN Alauddin Makassar itu.

Sementara itu, Bahtiar Sekertaris Desa Bontolebang mengapresiasi masyarakat, ia berharap dengan kegiatan tersebut mampu menginspirasi desa yang lainnya. “Kegiatan ini tentunya diharapkan mampu menginspirasi seluruh desa, tidak hanya desa dalam Rahim Tanadoang saja melainkan juga mampu menginspirasi seluruh desa yang berada di Tanah Ibu Pertiwi, Indonesia,” harapnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.