Yang menjadi kunci utama agar praktik ini terus berjalan adalah sistem pendataan berbasis barcode yang seharusnya mengawasi distribusi. Alih-alih menjadi pengaman, barcode justru disebut sebagai “pintu masuk” yang dimanfaatkan para pelaku. Selama memiliki data dan dokumen yang seolah-olah sah, penyaluran dianggap wajar—meski kenyataannya BBM tersebut dialihkan ke jalur pasar gelap.
Kondisi inilah yang akhirnya menjuluki Kabupaten Jeneponto sebagai “surga para mafia migas lokal”. Upaya pemberantasan kerap mentok di tengah jalan, hasil operasi jarang memberikan efek jera, dan pelaku seolah tahu kapan harus bersembunyi serta kapan bisa kembali beroperasi. Dugaan keterlibatan oknum aparat yang sempat dilontarkan WB, meski kini ditarik kembali, justru dianggap sebagai potongan teka-teki yang selama ini hilang untuk menjelaskan mengapa hukum terasa tak berdaya di wilayah ini.
Tanda Tanya Besar: Siapa Sebenarnya yang Ingin Menutupi Kasus Ini?
Fakta bahwa pernyataan yang sempat jujur kemudian ditarik kembali, ditambah konfirmasi dari pihak lain yang membenarkan praktik tersebut, menimbulkan pertanyaan krusial bagi penegak hukum dan pengawas migas: Apakah penegakan hukum di Jeneponto benar-benar lemah, atau justru sudah terkontaminasi kepentingan ekonomi gelap?
Jika benar apa yang sempat diucapkan WB itu adalah fakta, maka penarikan ucapannya adalah bukti nyata bahwa ada pihak yang merasa terancam kedudukannya. Sebaliknya, jika ucapannya memang salah seperti yang diklaimnya kini, tetap saja muncul pertanyaan: mengapa isu BBM ilegal ini tidak kunjung selesai meski sudah menjadi keluhan warga bertahun-tahun lamanya?
- PMSM Sulsel Ajak Praktisi HR Bangun Kepemimpinan Berbasis Coaching
- Kalla Institute dan Google Perkuat Kompetensi AI dan Smart Technology
- Sompo Indonesia Catat Kinerja Keuangan Kuat pada 2025, Tegaskan Komitmen Perlindungan Nasabah
- Satgas TMMD Ke-128 Kodim 1425 Jeneponto Mengangkat Derita Keluarga Sederhana, Membangun Rumah dan Harapan
- Resmikan dan Uji Coba JIAT, Bupati Sidrap Dorong Program Tiga Kali Tanam dalam Setahun
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak aparat dari instansi yang sempat dilontarkan oleh WH didepan pengepul BBB bersubsidi, terkait kabar dugaan keterlibatan oknum aparat tersebut. Masyarakat pun kini menunggu, apakah peristiwa ini hanya akan berakhir sebagai isu sesaat yang terbungkam rapat, atau justru menjadi pintu pembuka bagi penegakan hukum yang tegas untuk memberantas mafia migas yang telah merugikan keuangan negara dan rakyat banyak.
Kebenaran seringkali tersembunyi, tapi jejaknya selalu tertinggal. Dan di Jeneponto, jejak itu kini mulai tercium baunya, tanda tanya besar tentang siapa yang sebenarnya berkuasa mengatur aliran BBM, dan siapa yang sebenarnya melindungi kejahatan ini.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
