Pilu Keluarga Korban Boeing: Tidak Pulang ke Rumah karena Tak Sanggup Lihat Sepatu Anaknya

Paul Njoroge dan istri bersama anaknya.

Terkini.id – Dua bulan setelah peristiwa kecelakaan Boeing 737 Max yang dioperasikan Ethiopian Airlines pada Maret 2019 lalu, keluarga korban masih didera kesedihan mendalam.

“Saya kehilangan istri saya Carole, tiga anak saya Ryan, Kelly dan Ruby dan juga ibu mertua saya. Saya merasa kesepian. Saya lihat orang-orang bermain dengan anak-anak mereka, dan saya tak bisa. Saya tak bisa lagi melihat wajah dan mendengar suara mereka,” kata Paul Njoroge yang kehilangan seluruh keluarganya ketika Penerbangan 302 Ethiopian Airlines jatuh di Addis Ababa 10 Maret lalu dengan korban jiwa 157 orang.

Dilansir dari bbc, Paul kini berpindah dari satu rumah temannya ke rumah teman yang lain. Ia tak sanggup melihat sepatu anak-anaknya.

“Saya masih bisa melihat kaki mereka di dalam. Saya tak akan pernah kembali ke rumah,” ceritanya.

Penerbangan ET302 itu merupakan pesawat Boeing 737 Max kedua yang jatuh dalam empat bulan.

Sebelumnya Boeing 737 Max milik Lion Air terjatuh di Karawang bulan Oktober 2018 dilaporkan disebabkan oleh persoalan serupa: sistem kendali pesawat.

Keluarga korban seperti Paul bertanya: kenapa pesawat ini masih dibolehkan terbang sesudah ada kecelakaan sebelumnya?

Keluarga korban lain, Chris dan Claryss Moore yang tinggal di pinggir kota Toronto juga kehilangan putri mereka Danielle dalam penerbangan ET302.

Danielle baru saja menghadiri konferensi PBB tentang lingkungan di Kenya.

“Mereka bilang ini salah satu pesawat paling aman. Ternyata tidak. Pesawat ini mengambil nyawa orang yang kami cintai, dan tak peduli apapun kata mereka, hidup kami tak pernah lagi sama,” katanya.

Kini mereka harus berjuang tiap hari menerima kematian anak mereka. “Ini sangat berat. Ini bikin saya sangat marah,” ungkapnya.

Kini saling menyalahkan pun terjadi. Anggota Kongres Amerika Sam Graves bersama suara-suara lain di Amerika menyalahkan “pilot asing” untuk kecelakaan itu. Mereka bilang pilot Amerika pasti mampu mengendalikan pesawat itu.

Namun laporan dari dua peristiwa terpisah menyumpulkan sistem kendali pesawat yang bermasalah.

“Keluarga saya meninggal karena kesembronoan Boeing. Kesombongan, disfungsi managemen dan tak ada pengawasan internal, juga kesalahan FAA (Federal Aviation Administration),” kata Paul Njorogre.

“Mereka punya kesempatan menghentikan pesawat ini tapi mereka tak lakukan. Malah berfokus pada kesalahan ‘pilot asing’. Kalau mereka sungguh peduli pada hidup manusia dan keamanan, mereka akan melarang terbang pesawat ini bulan November tahun lalu dan menyelesaikan masalahnya.”

Desak Boeing

Dalam sebulan, Nadia dan Michael mengubah rasa kehilangan dan kesedihan menjadi energi yang berbeda.

Mereka bertekad mencari tahu kenapa Boeing tak melarang terbang 737 Max sesudah jatuh pertama kali. Juga kenapa FAA menolak memberi larangan terbang terhadap pesawat itu.

Hingga kini mereka telah bertemu 25 orang anggota Kongres di Washington, dan para pejabat penerbangan di Amerika Serikat.

Mereka tak boleh bersaksi dalam dengar pendapat penyelidikan, tetapi mereka memastikan keluarga korban dilibatkan di dalam penyelidikan itu.

Ada suara kritis bahwa pembangunan dan peluncuran Boieng 737 Max diburu-buru, lantaran Boeing tertinggal dari Airbus.

“Jelas bahwa putri saya meninggal karena Boeing mencari untung, dan saya tak mau orang lain mati karena alasan itu,” kata Nadia. “Saya ingin agar pesawat aman dan Boing untuk berinvestasi di perangkat dan infrastuktur agar industri penerbangan aman.”

BBC meminta Boeing untuk wawancara dan berkomentar terhadap tuduhan-tuduhan ini. Mereka menolak.

Awal pekan ini Boeing mengumumkan penawaran kompensasi sekitar Rp1,4 triliun kepada “keluarga dan komunitas yang menjadi korban kecelakaan tragis Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302.”

Berita Terkait