PLN Siap Pasok Listrik 1.026 MVA untuk 5 Perusahaan Smelter di Sulawesi dengan Harga Kompetitif

PLN Siap Pasok Listrik 1.026 MVA untuk 5 Perusahaan Smelter di Sulawesi dengan Harga Kompetitif

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Melalui SPJBTL yang diteken hari ini, HNI akan mendapat tambahan daya sebesar 90 MVA pada Desember 2022. 

“Selain itu, HNI juga berkomitmen pada Maret 2023 untuk kembali menambah daya listrik sebesar 30 MVA, sehingga total kapasitas terpasang pada Maret 2023 menjadi 340 MVA,” terang Adi. 

Ia memprediksi kebutuhan listrik di Sulawesi bakal kian meningkat seiring pertumbuhan industri di wilayah tersebut, termasuk untuk industri smelter.

Kebutuhan listrik untuk fasilitas smelter di Sulawesi diproyeksikan lebih dari 6.000 MVA. 

Hal ini ditunjukkan dengan adanya permintaan suplai daya dari sejumlah perusahaan smelter pada hari ini yaitu, PT Celebessi Metalindo Utama dengan kebutuhan daya 450 MVA, PT Buttatoa Smelter Pratama sebesar 236 MVA, PT Central Omega Resources Industri Indonesia Tbk (CORII) sekitar 180 MVA, dan PT Industri Smelter Nusantara (ISN) sebesar 70 MVA. 

Direktur Utama PT Huadi Nickel Alloy Indonesia Jos Stefan Hideky menyampaikan bahwa kehadiran smelter terbukti mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Oleh karena itu, kebutuhan listrik yang andal dan berkualitas dari PLN diharapkan dapat terus berlanjut. 

“Harapan kami, PJBTL ini bisa menjadikan kerja sama semakin baik lagi ke depan,” tuturnya. 

Dia pun memaparkan, semenjak HNI mulai memproduksi feronikel, pertumbuhan ekonomi di Bantaeng tumbuh dua digit, 12 persen. 

“Bahkan tahun lalu Bantaeng mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sulawesi Selatan,” kata Jos. 

Direktur Utama PT Celebessi Metalindo Utama Teddy M.I. Haykal turut mengakui jika listrik untuk industri smelter ibarat nafas. Untuk itu, perusahaannya memilih untuk mendapatkan pasokan listrik dari PLN setelah melalui pertimbangan yang cukup lama. 

“Setelah melakukan pertimbangan, kami memutuskan bersinergi dengan PLN. Terima kasih, terutama untuk PLN, yang telah meyakinkan kami bahwa penyediaan tenaga listrik untuk smelterdidukung sepenuhnya,” papar Teddy. 

Siap Pasok Energi Hijau

Adi juga memastikan bahwa PLN siap memenuhi kebutuhan listrik industri smelter di Sulawesi dengan energi hijau. Terlebih, potensi EBT di wilayah Sulawesi terbilang sangat melimpah, mulai dari sumber daya air, panas bumi, tenaga bayu, dan lainnya. 

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030,  PLN akan mengembangkan pembangkit sebesar 783,09 MW di wilayah Sulawesi. Sebagian besar berasal dari pembangkit EBT yang mencapai 397 MW atau 51 persen. Sedangkan sisanya adalah pembangkit fosil sebesar 386 MW atau 49 persen. 

“Kebutuhan listrik di wilayah Sulawesi saat ini sebagian telah dipenuhi oleh pembangkit listrik berbasis EBT,” ungkap dia. 

PLN juga memiliki produk _renewable energy certificate_ (REC) yang dapat dimanfaatkan pelanggan untuk pemenuhan target penggunaan energi terbarukan yang transparan dan diakui secara internasional. 

Produk ini merupakan salah satu inovasi produk hijau PLN untuk mempermudah pelanggan dalam pembelian serta mendapatkan pengakuan atas penggunaan energi terbarukan yang sudah ada di Indonesia. 

“Apabila diperlukan, kami juga siap melengkapi kebutuhan industri _smelter_ nasional dengan memberikan produk dan layanan yang inovatif, seperti total solusi kebutuhan listrik, serta Green Product seperti REC,” ucapnya. 

Pada kesempatan yang sama General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar), Awaluddin Hafid menyatakan penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut akan ditindaklanjuti dalam PJBTL. 

“PLN siap mendukung kebutuhan pasokan listrik khususnya di Sulawesi,”tutupnya. 

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.