Polusi Udara Jakarta Sangat Buruk Tapi Versi KLHK Sangat Bersih, Warganet: Alat Ukurnya Diakali

Terkini.id, Jakarta – Tingkat polusi udara di Ibukota DKI Jakarta sangat buruk versi aplikasi IQ Air Earth, sebuah situs pemantau polusi udara berbasis di Amerika Serikat.

Anehnya, pantauan di situs tersebut jauh berbeda dengan pemantauan udara versi aplikasi pemantau udara Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK).

Perbedaan tingkat udara itu pun menjadi perbincangan yang ramai di media sosial. Netizen pemilik akun Teddy Setiawan Kho mengungkapkan perbedaan yang sangat mencolok tersebut.

Baca Juga: Permintaan Cabut Pergub Tentang Penggusuran, Pemprov DKI akan Evaluasi Regulasi

“Seluruh Jakarta kualitas udaranya jelek banget. Tapi…Ada yang hijau gaes! Tempat apa dan data dari mana itu?

Gak heran, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan alat ukurnya “diakalin”, di data mereka udara Jakarta sebersih udara pegunungan asri, gak ada yang perlu dikerjain,” tulis dia lewat akun Twitter.

Baca Juga: Mantan Anggota PBB Puji Anies Baswedan, Warganet Sebut Agar Jadi...

Dari penelusuran terkini.di pada situs iqair quality, terlihat hampir semua wilayah di DKI Jakarta sangat buruk atau berwarna merah dengan indeks 100 hingga 187.

Data tingkat polusi udara tersebut berdasarkan alat pengukur sejumlah lembaga (baik pemerintah maupun nonpemerintah). Menariknya, ada satu titik dengan kualitas udara yang baik dengan indikator berwarna hijau, yakni di sekitar Bantar Gebang, Cileungsir. Levelnya 40.

Netizen pun heran dengan kualitas udara yang baik di daerah itu. Setelah dicek, kualitas udara 40 tersebut berdasarkan alat ukur dari KLHK. 

Baca Juga: Mantan Anggota PBB Puji Anies Baswedan, Warganet Sebut Agar Jadi...

“hahahahaha 
jangan suujon dullu, siapa tau mereka pake air purifier segede gedung mall pondok indah,” tulis netizen.

“Alat ukurnya ditaruh di dalam gedung,” tulis netizen lain dengan emoticon tertawa.

Untuk diketahui, sebelumnya Michael Greenstone, pencipta Air Quality Life Index (AQLI) atau indeks kehidupan kualitas udara dari Energy Policy Institute at the University of Chicago (EPIC) mengungkapkan polusi udara di Jakarta sangat parah dan lebih berbahaya dari HIV AIDS.

Tidak hanya itu, polusi tersebut juga sebanding dengan aktivitas merokok dan lebih berbahaya tiga kali lipat daripada mengkonsumsi alkohol.

“Dampaknya pada harapan hidup ini sebanding dengan aktivitas merokok yang dilakukan manusia, tetapi lebih dari tiga kali lipat konsumsi minuman beralkohol dan air yang tidak aman, enam kali lipat dari HIV/AIDS,” kata Michael dalam keterangan tertulis, Minggu 19 Juni 2022.

Temuan utama AQLI di Jakarta Raya, penduduk 10,3 juta jiwa akan kehilangan harapan hidup rata-rata 2,4 tahun.

Itupun jika Jakarta berhasil menurunkan tingkat pencemaran udara sesuai standar organisasi kesehatan dunia (WHO).

Selain Jakarta, ada juga Jawa Barat yang diklasifikasikan sebagai provinsi dengan udara paling tercemar di Indonesia.”Di sini (Jawa Barat), polusi partikular dapat membuat 48 juta penduduk kehilangan harapan hidup rata-rata 1,6 tahun,” imbuh Michael.

Sebagai informasi, tingkat paparan polusi aman menurut WHO berada pada 5 mikrogram per meter kubik.

Sedangkan tingkat paparan polusi udara di Jakarta berdasarkan laporan AQLI di tahun 2020 mencapai 29,9 mikrogram per meter kubik.

Selain Jakarta, laporan yang sama juga merilis tingkat polusi di 33 provinsi lainnya.

Disebutkan, seluruh provinsi di Indonesia tidak memiliki tingkat polusi udara sesuai standar kesehatan WHO.

Polusi terendah terdapat di Provinsi Maluku dengan kadar polusi 6,5 mikrogram per meter kubik.

Bagikan