<p>Terkini.id, Makassar – Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis memberikan sambutan dalam kegiatan pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) angkatan ke-66/67 di gedung rektorat UINAM, Rabu (15/9/2021).
Dala sambutannya, Prof Hamdan menyampaikan catatan yang dibuat khusus untuk 3000 lebih mahasiswa yang akan berangkat KKN pada Oktober mendatang.
Catatan tersebut merupakan perenungan tentang hakikat KKN yang diuraikan sebagai berikut.
KKN merupakan Momentum Mendialogkan antara Pengetahuan dan Pengalaman
Menurut Prof Hamdan, KKN pada hakikatnya sebagai arena pengabdian atau kemitraan. Mahasiswa harus mampu merealisasikan ilmu yang telah diperoleh dari perkuliahan untuk membantu masyarakat.
- Bersama Bergerak Membangun Desa, Semangat Gotong Royong Menjadi Kekuatan Utama TMMD ke-128 Jeneponto
- ARYADUTA Makassar Kampanyekan Hidup Sehat Lewat "Tjakap Djiwa"
- Kokoh Berjuang, Bersama Menuju Kemenangan, Muscab IX PPP Jeneponto Sukses Digelar, PAC Dukung Pimpinan Berkelanjutan
- Gubernur Sulsel Sabet Award Nasional, Program MYP Jadi Bukti Nyata Pembangunan Infrastruktur
- Bahas Penyakit Mematikan, RSUP Wahidin Hadirkan Pakar Dunia di WISE 2026
Selain itu, momentum KKN juga merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk menyerap pengalaman masyarakat.
“Ada istilah Outreach, artinya menjangkau ke luar, yakni bagaimana mahasiswa mampu menerapkan ilmunya ke tengah-tengah masyarakat. Kemudian Inreach (menjangkau ke dalam), yakni mahasiswa mampu menyerap pengalaman masyarakat yang ada di sekitar,” kata Prof Hamdan.
KKN sebagai Momentum Menguji Mentalitas Sosial
Mahasiswa KKN yang bermental kuat menurut Prof Hamdan ialah mereka yang selalu siap apabila masyarakat membutuhkan bantuan. Oleh karenanya, mahasiswa perlu untuk berwawasan luas dan mempunyai kecakapan dalam berbagai bidang khususnya pada bidang keagamaan, agar menjadi mahasiswa UIN yang diandalkan oleh masyarakat.
Selanjutnya Prof Hamdan mengungkapkan, mahasiswa KKN yang mempunyai mentalitas yang tinggi ialah mereka yang meminta agar ditempatkan di daerah paling jauh. Sebab semakin jauh tempat KKN, semakin terlihat keberanian mahasiswa untuk merelakan diri berjarak dengan berbagai hal dan orang terdekat, dan tentunya mengikhlaskan diri memperoleh pengalaman baru.
“Kalau KKN, seharusnya cari lokasi paling jauh. Misalnya di daerah Luwu Timur. Banyak pemandangan indah di sana,” ucapnya.
KKN adalah Memori
Lebih lanjut, Prof Hamdan mengutarakan bahwa KKN adalah momentum untuk mengukir memori. Karena itulah nantinya yang akan melahirkan nostalgia, sehingga terwujud jalinan antara mahasiswa dan masyarakat.
“Mahasiswa yang pulang dari KKN tanpa membawa memori, berarti tidak sukses KKN. Namun perlu digaris bawahi, memori yang dimaksud di sini adalah memori yang produktif,” tegas nya.
KKN sebagai Arena Membangun Jarak
Menurut Prof Hamdan jarak sosial itu dibutuhkan untuk mengerti arti penting dari sebuah kedekatan.
“Sekali-kali orang itu perlu berjarak untuk menyadari betapa dibutuhkannya kedekatan, kedekatan kepada ilmu, rasa empati, keluarga, dan sebagainya,” jelasnya.
KKN adalah Momentum Melawan Stigma Menara Gading
Jangan sampai mahasiswa terstigma sebagai menara gading, atau yang hanya bermalas-malasan dengan keadaan yang mapan, boros, sombong.
Mahasiswa seharusnya menjadi seperti mercusuar, layak dijadikan panutan dan bermanfaat.
Demikian hakikat KKN perspektif Prof Hamdan Juhannis. Di akhir sambutannya, ia berharap seluruh mahasiswa KKN angkatan 66/67 menjadi mercusuar di tengah masyarakat.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
