Ramadan Yang Hening

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

Ramadan terasa hening karena didera korona, aktivitas terbatas. Namun sejatinya Ramadan menjadi ruang berkontemplasi, melakukan perenungan-perenungan untuk mengasah spiritualitas.

Setiap manusia memiliki fitrah bertuhan atau naluri beragama. Perlu ruang untuk menyepi dikeheningan malam-malam Ramadan meraih hikmah.

Perlu resonansi penyucian jiwa, menuju pembentukan pribadi muslim yang paripurna. Berbagai ekspresi keagamaan dilakukan dalam menyemarakkan suasana ramadan menjadi lebih bermakna.

Segmen acara keagamaan melalui televisi merupakan diantara ruang ekspresi dan eksperimen religiusitas yang banyak diakses serta dinikmati publik.

Perenungan dilakukan sebagai penyeimbang hiruk pikuk kehidupan. Beragam sajian acara yang diformulasi melalui tayangan bernuansa Islam itu, nyatanya lebih didominasi aspek hiburan. Tak pelak lagi, televisi menjadi ruang spiritualisasi dan entertainisasi.

Menarik untuk Anda:

Sementara umat Islam dituntut menjadikan bulan Ramadan sebagai ruang introspeksi diri dan mengasa spiritualitas untuk peningkatan keimanan hingga menggapai derajat taqwa.

Fase-fase hendak dilalui untuk menggapai predikat tersebut melalui ibadah puasa dan segenap rangkaiannya selama sebulan penuh.

Menyimak serangkaian tayangan religius melalui televisi, kita disuguhkan acara-acara yang lebih menonjolkan aspek hiburan, sehingga cita ketaqwaan tidak tercapai. Dalam teori komunikasi massa, sebuah tayangan dapat dilihat dari framing media.

Sebuah acara televisi ditayangkan atas dasar mengikuti “kemauan” atau selera publik. Sepenuhnya tidak keliru, apalagi untuk kebutuhan bisnis untuk eksis, tapi substansi ibadah tidak terabaikan.

Acara di TV diformulasi sesuai selera publik yang condong konsumtif menikmati suguhan siaran religius dibalut entertainment untuk menghibur pemirsa.

Hukum pasarpun berlaku, acara yang banyak menghipnotis pemirsa akan kebanjiran iklan. Dalam hal ini, media akan mengikuti selera pasar atau pemirsa. Selain itu, suatu tayangan televisi juga di rancang untuk mendikte masyarakat.

Artinya masyarakat harus mengikuti selera dan kemauan media. Tetapi dalam realitasnya, televisi swasta khususnya cenderung lebih memanjakan pemirsa. Tidak heran jika acara televisi lebih mengedepankan aspek entertainnya dibanding edukasinya.

Fenomena media sosial lebih membuka cakrawala beragama kita, betapa sajian-sajiannya massif sulit terkendali. Untungnya, citizen dan nitizen memiliki kecenderungan fluktuatif. Ketika Ramadan tiba, konten yang dimunculkan juga dominan agama sekalipun banyak muatan hiburan yang terkait dengan nuansa bulan ibadah ini.

Membandingkan formulasi acara keagamaan televisi di bulan Ramadan sekarang ini, terasa berbeda disbanding media sosial, setiap kita berpeluang memainkan peran. Namun lebih utama, kita butuh mengasah spiritualisasi, meraih cinta ridha-Nya sang khaliq.

Ditengah kebisingan-kebisingan itu, kita tetap butuh ruang kontemplatif untuk menemukan kesejatian jati diri kita sebagai hamba di dikeheningan Ramadan yang indah penuh berkah.

Firdaus Muhammad,

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Hadapi Masalah dengan “Salaama”

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar