Ramai Soal ‘di Bulukumba Hanya Ada Bahasa Bugis-Makassar’ Begini Penjelasan Andi Mahrus

Andi Mahrus

Terkini.id,Makassar – Baru-baru ini publik dihebohkan oleh pernyataan Penasehat Lembaga Kajian dan Pertimbangan Budaya (LKPB) Bulukumba, Andi Mahrus soal Bahasa Bugis-Makassar.

Dalam unggahannya di media sosial pribadinya, mantan Asisten Bidang Administrasi Setda Bulukumba itu menulis di Bulukumba hanya ada bahasa Bugis-Makassar. Yang lainnya adalah dialek. (Anggota Dewan Harus fahami Budaya)”.

Dalam sebuah group WhatsApp Bahasa Konjo, Andi Mahrus menuliskan beberapa penyampaian sebelum dirinya minta pamit keluar dari group tersebut.

Menurut dia, berawal dari berita di media online, bulan November 2019, yang memuat informasi bahwa Anggota DPRD Bulukumba dari Fraksi PKB, meminta kepada Bupati agar menjadikan bahasa Konjo sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah. Permintaan tersebut disampaikan di dalam acara Rapat Pemandangan Umum Fraksi dengan maksud agar bahasa Konjo tidak punah di tengah masyarakat.

“Setelah membaca berita itu, sepontan saya menulis komentar di ruang media sosial tersebut, dan pada hari itu juga, saya menulis status di ruang beranda saya. “Di Bulukumba hanya ada Bahasa Bugis-Makassar. Yang lainnya adalah dialek. (Anggota Dewan Harus Faham Budaya)”,” tulis Mahrus.

Ia juga mengakui jika pro-kontra terhadap status miliknya itu memang terjadi. Dan hal semacam itu biasa sebagai ekspresi mempertahankan pendapat masing-masing.

“Namun, status dirinya tiba-tiba menjadi viral karena salah seorang yang menamakan dirinya  Dr… (entah dia betul doktor atau dokter, saya tidak tahu) membagikan status itu tanpa seizin dengan saya,” tegasnya.

Bahkan diakuinya jika tanggapan balik atas status itu sangat berdampak negatif kepada dirinya.

“Berbagai komentar “miring” yang sifatnya menghina, melecehkan, bahkan ada yang mempertanyakan nasab keturunan keluarga saya bermunculan di facebook serta di grup-grup WA. Dan celakanya, mereka menuduh bahwa saya tidak mengakui “eksistensi Konjo di Bulukumba,” terang Mahrus, Selasa 3 Desember 2019.

Adapun penjelasan Drs. H. Andi Mahrus, M.Si terkait konten unggahannya di media sosial pribadinya beberapa waktu lalu, sebagai  berikut:

  1. Status yang saya tulis itu adalah sebentuk protes kepada Anggota DPRD Bulukumba, Fraksi PKB, atas rekomendasinya kepada Pemerintah Daerah tentang perlunya Bahasa Konjo ditetapkan sebagai pelajaran Bahasa Daerah Muatan Lokal di sekolah, tanpa terlebih dahulu mendengarkan secara umum aspirasi rakyat yang diwakilinya.
  2. Konten status saya tersebut tidak menyinggung persoalan ras, agama atau pun suku. Apa yang saya maksud di dalam status itu adalah hasil pemikiran kultural yang saya fahami sejak masih kuliah di fakultas Sastra Unhas (1977-1984) hingga saat ini, bahwa bahasa pergaulan yang digunakan oleh sebagian masyarakat Bulukumba yang diistilahkan dengan Bahasa Konjo, belum menjadi bahasa yang berdiri sendiri, melainkan masih berupa dialek dari Bahasa Daerah Makassar.                                                                                                                                                                                                          Dan ini berarti bahwa, sebagai salah satu dialek, maka tentu tidak menutup kemungkinan jika suatu saat, dialek Konjo (seperti juga dialek bahasa Makassar dan Bugis lainnya) akan berubah status dialek kebahasaannya menjadi Bahasa daerah Konjo, yang berdiri sendiri dan diterima secara resmi kehadirannya di tengah masyarakat Bulukumba.

3. Menjadikan dialek Konjo sebagai bahasa Konjo dan terpisah dari induk bahasa daerah Makassar, itu butuh proses. Artinya, sebelum bahasa Konjo ditetapkan menjadi kebijakan Pemerintah Daerah dalam bentuk muatan lokal di sekolah, maka seharusnya lebih dahulu ada ” kesepakatan kultural tentang nama atau istilah Bahasa Konjo itu.

Karena menurut beberapa info bahwa di setiap kecamatan berbeda dialek Konjonya. Misalnya kesepakatan antara semua wilayah kecamatan yang menggunakan bahasa Konjo (Kajang, Herlang, Bonto Tiro, Bonto Bahari, Kindang dan beberapa kecamatan lainnya). Ini untuk menghindari bakal terjadinya benturan “kultural” yang dipicu oleh pemahaman primordial di kemudian hari.

4. Oleh karena itu, selaku pemikir budaya, maka saya merasa berkewajiban untuk mengingatkan Wakil Rakyat bahwa budaya masyarakat Bulukumba, termasuk bahasa dan dialek bahasanya perlu difahami lebih komprehensif melalui upaya penelitian ilmiah atau kajian akademik, dengan melibatkan pakar budaya dan bahasa daerah sebelum ditetapkan menjadi kebijakan Pemerintah Daerah dalam bentuk pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah.

“Demikian penjelasan saya.  Dan terus terang, tidak ada maksud untuk mendiskreditkan peradaban leluhur, termasuk Konjo. Bahkan jika pemikiran saya masih dibutuhkan, saya paling depan berjuang untuk menjadikan Konjo sebagai suku yang selevel dengan empat suku lainnya di Sulsel ini. Dan tentu saja harus diawali dengan komitmen bersama melalui prosedur demokrasi yang baik,” jelas  Drs. H. Andi Mahrus, M.Si.

Dari unggahan Andi Mahrus tersebut ditanggapi banyak pihak. Salah satunya seorang warga Bulukumba, Andi Arman menanggapi unggahan Andi Mahrus di facebook. Menurutnya, di Bulukumba hanya ada satu bahasa yaitu bahasa Konjo kalau yang lain adalah bahasa Konjo berdialek Bugis.

“Kalau tidak percaya coba bandingkan bahasa Bugis yang ada di Bulukumba tidak ada samanya di dunia hanya ada di Bulukumba,” jelas Arman.

Berita Terkait
Komentar
Terkini