Sastra dan Imajinasi Menembusi Corona Lainnya

Andika Mappasomba

KETIKA guru saya masih hidup, dia kerap berkata bahwa Sastra itu adalah jembatan yang menghubungkan antara masa lalu dan masa kini.

Demikian juga Sastra sebagai penghubung antara khayalan dan kenyataan (Imajinasi).

Sastra memiliki kemampuan merekinstruksi secara imajinatif atas masa lalu dan membangun bentuk-bentuk imajinatif akan hal-hal yang belum tampak di masa depan.

Kita tak mungkin masuk dan memahami hati Karaeng Galesong dan pasukannya saat berlayar menuju Tanah Jawa dengan pasukan pemberaninya.

Tak ada catatan bagaimana warna hatinya, demikian dengan romansa di wajah pasukannya itu menyonsong segala hal di hadapan, di haluan perahu kayunya yang kokoh membelah badai lautan.

Baca juga:

Dalam realita, mengutuki hujan adalah sikap yang tidak bijaksana.

Hujan membawa keajaiban-keajaiban dan kesuburan tanah. Ada dakwah yang tersembunyi. Sebagaimana banjir di sungai selalu membawa potongan kayu berbagai ukuran. Kayu yang menjadi rezeki bagi sebagian orang. Bisa menjadi kayu bakar atau olahan benda bermanfaat atau bernilai estetis bagi yang lainnya.

Mari Kita Duga!

Corona menggelinding dari sebuah puncak bukit. Bukan hanya satu bola. Tapi banyak bola dan semakin membesar menembusi bandara dan batas-batas negara.

Dia terduga, namun tidak bisa diperhitungkan batas skalanya. Pokoknya sangat besar. Dia menenggelamkan seseorang yang berdiri di tepian sungai dan tiba-tiba air bah itu datang dengan potongan-potongan kayu beragam ukuran.

Kayu-kayu yang dibawa air dari gunung. Entah kayu dari pohon tumbang, atau kayu gelondongan. Suara air bah di sungai itu dahsyat menggelegar. Seperti isu Corona yang memenuhi halaman surat kabar dan beranda sosial media.

Mari Kita Pertajam Dugaan

Saat ini, Corona mulai meneror lewat juru bicaranya di media sosial. Orang-orang lama, sisa-sisa perang Pilpres menampakkan diri.

Mengejek dan bahkan mengutuk presiden. Padahal, dia lurang sadar bahwa tuannya, eks lawan Presiden Jokowi kini telah menjadi bagian dari kekuasaan yang bertugas dalam hal pertahanan dan keamanan.

Pertahanan dari perang dingin dan perang panas. Pertahanan dari serangan segala jenis peluru. (Perdomes).

Kita patut menduga dengan baik bahwa saat ini, seluruh sumber daya bangsa sedang bertempur di laboratorium untuk menemukan formula yang tepat untuk membunuh dan membasmi Corona.

Semua ilmuwan/dokter sedang melakukan gerak cepat dan strategis untuk membawa bangsa ini dan negara di dunia keluar dari wabah mematikan ini.

Bangsa yang berhasil menemukan obat anti Corona tentu akan keluar sebagai pemenang dari pertempuran modern ini.

Sebuah pertempuran tanpa senjata berat, rudal, pesawat pem bom atau pelontar granat. Pertempuran yang lebih mematikan dari perang dunia kedua.

Ragam spekulasi berseliweran. Tersebutlah jahe, bawang putih, madu, kelor, cuka aren, garam, jeruk, dan lain sebagainya bahwa tanaman itu bisa menyembuhkan atau mengantisipasi dari Corona.

So What?

Lock Down itu apa sih? Itu tak ada dalam bahasa keseharian kita. Jika diterjemahkan pun hasilnya aneh-aneh.

Kunci ke Bawah, terasa ganjil. Mungkin jika menggunakan istilah permainan Domino akan lebih tepat. Kita terjemahkan Lock Down dengan Kandang Paksa atau Ciki Palang.

Jika tak berminat menggunakan istilah; Rabbangi/Kandangkan" atau meminjam istilah Dewi Asta yang menyebut , PingitMassal?”

Intinya, Lock Down adalah pembatasan ketat atas hilir mudik atau keluar masuknya manusia atau barang di wilayah tertentu. Ini telah digambarkan di banyak film yang bertema Zombie.

Seperti hujan, Corona membawa berkah pula bagi sebagian orang. Penjual alkohol, penjual jahe, produsen pembersih atau antiseptik, tukang jahit masker kain, adalah pedagang-pedagang yang beruntung.

Membayangkan sebuah kota atau kampung atau kota yang dikosongkan karena penyakit, bukanlah hal baru.

Suatu ketika saya di Pulau Bunyu, Kalimantan Utara. Seorang kawan bernama Sayyid Mawan mengisahkan bahwa di suatu masa di pulau tersebut, ada wabah penyakit. Orang sekampung menjadi jenuh menguburkan mayat, hampir setiap saat setiap harinya.

Bahkan, belum selesai sebuah penguburan, sudah terdengar kabar baru lagi tentang orang yang meninggal. Terus terjadi demikian. Akhirnya, warga bersepakat untuk meninggalkan kampung tersebut.

Sisi Pulau Bunyu tersebut dikosongkan dan warga membuka perkampungan baru. Hingga kini, kampung tua tersebut tidak lagi menjadi permukiman, setidaknya hingga saya berkunjung kesana pada tahun 2009 bersama seorang kawan, Khaeruddin Elang Geo.

Bukan hanya pemindahan perkampungan, bandara yang dibangun 1985 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pun kini telah tak difungsikan lagi. Bandara itu menjadi kesepian. Senasib dengan kampung yang terserang wabah mematikan, puluhan tahun sebelumnya.

Bukan tidak mungkin, wabah-wabah itu akan bangkit dari sana dan kembali mengancam kehidupan orang Pulau Bunyu lalu orang-orang akan meninggalkan atau mengosongkan pulau tersebut.

Bayangkanlah, sebuah pulau kecil, sangat kecil, kaya minyak, gas, dan batu bara berfasilitas lengkap yang tiba-tiba dikosongkan.

Sungguh rumput liar akan sangat senang menemukan rumah baru untuk kehidupannya yang damai. (Silahkan chek google dengan kata kunci Pulau Bunyu).

Makassar adalah kota yang tidak pernah tidur sejak beratus tahun silam. Sejak menjadi kota bandar atau niaga, disinggahi pedagang atau kepentingan lainnya di Kota Makassar.

Bahkan, dalam catatan sejarah, semencekam apa pun kota ini, dia tetap akan terjaga dengan orang-orang yang mengintip dari balik jendela.

Mengamati gerak sipa pun orang di jalanan. Mengamati apa pun yang bergerak dalam kesunyian. Jika dia sepi, itu bukanlah sepi, tapi kewaspadaan yang terjaga dengan kehati-hatian sangat tinggi.

Simaklah bagaimana sejarah penangkapan pemuda di kota ini di zaman Belanda dan Jepang.

Tapi, jika wabah Corona (atau wabah lain di masa depan) menyerang, dia akan mengalami hal yang sama dengan kota lain.

Ditinggalkan dan orang-orang tidak lagi akan berlari-lari kecil di Taman Macan, jogging dan bersenam di Pantai Losari yang penuh pohon beton dan mencopet di pusat-pusat pertokoan. Jutaan orang akan pulang kampung ke negeri Bugis dan Toraja.

Makassar akan dicatat dalam sejarah sebagai kota yang dulu sangat maju namun tidak ramah di jalan raya dan ditemukan benda-benda kuno seperti anak panah bertali rafiah, katapel dengan karet infus, bazooka dengan peluru pecahan beling dan bom ikan.

Itu seperti arkeolog yang menemukan sisa sisa peradaban batu seperti pisau batu atau mata panah dari batu, atau pun lukisan mural dari cat minyak, seperti gambar telapak tangan dan hewan di gua-gua Karst Maros.

Yah, suatu hari nanti. Dan bagi Tuhan, itu buian hal mustahil, sebagaimana tertera dalam Surah Yasin ayat 82.

Ketika itulah orang akan menghindari atau mempercepat langkahnya saat memasuki wilayah pusat penyebaran wabah, Kota Makassar.

Seperti Wuhan dan Bunyu di masa lalu. Sebagaimana Benteng Somba Opu yang pernah diratakan dengan tanah lalu hilang dalam sejarah.

Wabah itu sangat mungkin adalah wabah Poligami, Wabah Korting di Pasar Murah, Wabah Puru-Puruang, Wabah Boro Bagang, atau Wabah Malam Kelam dari halaman Taman Makam Pahlawan Panaikang.

Sastra bisa menembusi itu semua. Dia bisa merekonstruksi peristiwa sejarah masa lalu dan dengan tanda, dia menduga masa depan.

Gowa 17 Maret 2020

Komentar

Rekomendasi

Rasisme itu Dosa Asal Amerika

Ekstrem Kanan dan Ekstrem Kiri di Amerika Serikat

Anarkis itu Suara yang Tak Terdengarkan

Hong Kong Konawe

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar